
"Hari ini adalah hari peringatan kematian Mamaku. Aku ingin beli bunga dan ke makam Mamaku"
"Ooooo. Bilang dong dari tadi" sahut Alba.
Adam mengajak Alba ke makam mamanya dan di depan makam mamanya Adam, Alba mengucapkan kata, "Tante, saya adalah teman satu-satunya putra tunggal kesayangannya Tante. Saya akan menjaga putra Tante ini dengan baik dan menjadi teman yang baik"
Adam menatap Alba dalam kebekuannya. Dia tersentuh mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulutnya Alba.
Alba menoleh ke Adam lalu tersenyum dan bertanya, "Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Maukah kau berjanji di depan makam Mamaku?"
"Berjanji apa?" Alba menautkan kedua alisnya.
"Berjanji di depan makam Mamaku kalau kau mau menjadi lebih dari sekadar teman?" tanya Adam.
"Lebih dari sekadar teman?" Alba semakin menautkan kedua alisnya.
Adam lalu meraih kedua tangan Alba dan ia menggenggam erat kedua tangan itu tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua bola mata indahnya Alba.
Wajah Alba merah dan gadis manis itu mencoba menarik kedua tangannya dari genggamannya Adam, namun Adam menahannya. Alba lalu bertanya, "Apa maksud semua ini? Kau mau apa?"
"Apakah jantung kamu berdebar-debar saat ini?" tanya Adam dan matanya tertuju lekat di kedua manik hitamnya Alba.
Alba mengangguk polos dan bertanya, "Jantungku juga berdebar-debar saat ini. Kau bisa mendengarnya tidak?"
Alba menjawab, "Aku tidak mendengarnya"
Adam lalu meletakkan telapak tangan Alba di atas dadanya, "Tapi, kau bisa merasakannya, kan?"
Alba menganggukkan kepalanya dan menatap Adam dengan penuh tanda tanya.
"Kau telah meluluhkan pertahananku dan kau telah melelehkan hatiku yang beku ini. Aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Aku menyukaimu, Alba. Maukah kau menjadi lebih dari sekadar teman? Maukah kau jadi pacarku?"
Alba mematung dan menatap Adam dengan tatapan mata penuh dengan kebingungan, "Apa aku tidak salah dengar? Kamu serius, Dam?"
"Aku seribu persen lebih serius. Aku benar-benar menyukaimu" Adam masih menggenggam kedua tangan Alba.
"Sejak kapan kamu menyukaiku?"
"Apa itu penting?"
"Bagi seorang wanita itu penting" Alba mengerucutkan bibirnya.
Adam terkekeh geli lalu ia berkata, "Aku ingin mencium bibir kamu saat ini"
"Kita belum resmi pacaran. Enak aja main cium-cium"
Adam menghela napas panjang lalu bertanya, "Apa jawabanmu? Mau kan jadi pacarku?"
"Jawab dulu pertanyaanku tadi!"Alba semakin mengerucutkan bibirnya.
Adam terkekeh geli dan menyentil pucuk hidungnya Alba, "Kau galak tapi, entah kenapa aku bisa sangat menyukaimu. Emm, aku rasa aku menyukaimu sejak kamu menabrakku"
"Enak aja! Kamu yang menabrakku"
"Tapi kau yang salah arah jadi, kamu yang menabrakku"
Adam tertawa terbahak-bahak sambil menarik Alba untuk ia peluk erat dan ia bertanya, "Apa itu berarti, kau sudah bersedia menjadi pacarku?"
Alba menganggukkan kepalanya di dalam pelukannya Adam. Adam langsung mengangkat tubuh Alba sampai kaki Alba meninggalkan rumput yang ia pihak lalu Adam mengajak Alba berputar sambil berteriak, "Ma! Adam sudah punya pacar sekarang!"
"Sssttt! Dam, ini makam. Jangan berteriak dan turunkan aku!"
Adam tertawa senang dan menurunkan Alba dengan pelan di atas rumput dan ia menatap Alba, "Jadi, kau adalah pacarku sekarang ini. Apa aku boleh mencium kamu?"
Alba melompat dan menyentil keningnya Adam.
Adam mengaduh dan langsung menyemburkan protes, Kenapa kau menyentil keningku?"
"Habisnya dari tadi hanya cium-cium aja yang ada di otak kamu. Dasar piktor!"
"Apa itu piktor?" Adam bertanya sambil mengelus keningnya.
"Piktor itu singkatan dari pikiran kotor. Dengar ya, aku belum ijinkan kami mencium bibirku sampai kita lulus SMA"
"Hah?! selama itu? Kenapa?" Adam mengerutkan kedua alisnya lalu cemberut.
"Karena kata Mamaku, ciuman di bibir itu berbahaya jadi, kamu tidak........."
Adam menarik Alba masuk ke dalam pelukannya lalu ia mencium keningnya Alba dan berlama-lama mendaratkan bibirnya di sana.
Alba terkejut dan seketika itu mematung. Jantungnya berdebar kencang dan wajahnya memanas. Begitu pula dengan Adam. Hanya mencium keningnya Alba saja, ia dihantam gelombang rasa hangat yang sangat dahsyat dan menggetarkan seluruh jiwa dan raganya.
Adam lalu melepaskan pelukannya. Adam menoleh ke makam mamanya dan berkata, "Ma, doakan Adam dan Alba selalu awet dan bisa.teeus bersama sampai ke pernikahan, ya?!"
Alba menoleh ke Adam dan tersenyum. Lalu ia menatap makam mamanya Adam, "Doakan Alba ya Tante, semoga Alba bisa tahan berpacaran dengan putra Tante yang unik ini"
Adam terkekeh geli lalu ia menggenggam tangan kiri Alba dengan tangan kanannya dan mengajak Alba untuk pulang. Dan di hari itu, Adam meninggalkan makam mamanya dengan perasaan hangat dan tanpa air mata.
Sesampainya di rumahnya Alba, mamanya Alba menyambut Adam dengan tangan terbuka dan mengajak Adam untuk makan sore bersama.
Adam berkata di depan meja makan kecil yang ada di sudut dapur mungil yang ada di rumahnya Alba, "Maaf Tante, tadi saya mengajak Alba ke makam Mama saya. Hari ini hari peringatan kematian Mama saya dan pulangnya sore"
"Nggak papa Dam. Tante percaya sama kamu kalau kamu akan menjaga Alba dengan baik" sahut mamanya Alba.
Adam tersenyum lebar. Dan saat mamanya Alba membelakangi dia dan Alba untuk membuatkan es teh manis, Adam berbisik di telinganya Alba, "Apa boleh aku umumkan ke Mama kamu kalau kita pacaran sekarang ini?"
Alba membelalakkan kedua matanya dan langsung menoleh ke Adam dengan gelengan kepala.
"Kenapa?" tanya Adam lirih
Alba terus menggelengkan kepalanya dengan kencang
Mamanya Alba berputar badan dengan pelan, melangkah kembali ke meja makan mungilnya Wanita berumur empat puluh satu tahun itu kemudian menatap Adam dan Alba sembari meletakkan porong air dari kaca berukuran jumbo yang berisi es teh manis, ia mengeluarkan tanya, "Ada apa? Apa yang kalian bisikkan?"
Adam dan Alba secara serempak menolah ke mamanya Alba dan menjawab secara kompak, "Tidak ada apa-apa"
Selama makan, beberapa kali tangan kanan Adam menyusup di bawah meja untuk menggenggam tangan kirinya Alba. Mereka terus berpegangan tangan sambil makan dan sesekali wajah mereka menunduk dan mengulas senyum bahagia lalu mereka berdua curi-curi pandang.
Mamanya Alba yang lugu, belum menyadari kalau putri tunggalnya telah berpacaran dengan Adam saat itu
Sementara itu, Nindya berjalan mondar-mandir di dalam apartemen mewahnya saat ia merasakan rindu yang sangat besar. Rindu itu bukan untuk tunangannya, Alex Baron. Melainkan rindu itu untuk putra tunggal tunangannya. "Adam sudah membuatku gila, Dasar sial!" Nindya berkata sambil terus berjalan mondar-mandir dan menjambak rambut indahnya.