I Love You, Adam

I Love You, Adam
Berjumpa Kembali



"Sepertinya kehidupan kamu baik-baik saja setelah kau putuskan aku" Adam berbisik lirih dan menatap tajam ke Alba yang tengah melayaninya mengambilkan beberapa lauk pilihannya Adam.


Adam mengikuti Alba menuju ke meja kasir.


"Ini makanan Anda dan minuman yang Anda pesan. Totalnya tiga puluh ribu rupiah" sahut Ucap Alba dari balik meja kasir tanpa menatap Adam.


Adam menjatuhkan uang seratus ribu rupiah dan berlalu dari hadapannya Alba dengan mendengus kesal.


Alba menggeleng-gelengkan kepalanya melihat uang seratus ribu rupiah yang Adan jatuhkan di meja kasir, "Kebiasaannya belum hilang ternyata, selalu menjatuhkan uang seratus ribu rupiah dan tidak meminta kembaliannya" Hana lalu mengambil kembaliannya Adam dan bergegas menyusul Adam yang telah duduk di sebuah meja dengan teman-temannya.


Alba mengernyit heran, "Kapan dia memiliki teman? Dia mulai berteman sekarang ini? Aku lega kalau gitu, dia tidak kesepian lagi" Alba lalu berdiri di depannya Adam dan meletakkan uang kembaliannya Adam di atas meja sambil berucap, "Ini kembalian Anda" Lalu Alba berlaku dari mejanya Adam untuk kembali melayani pelanggan di kantin milik tantenya.


Adam mengambil uang tujuan puluh ribu rupiah dari atas meja dan memasukkannya asal ke dalam saku kemejanya.


Keempat koleganya yang duduk satu meja dengannya langsung menggunjingkan Alba. Salah satu yang bernama Pak Pras, berucap, "Dia sangat manis, ya. Pekerja keras. Dia bekerja di kantin di jam sarapan pagi dan makan siang di sela-sela jam itu, dia kuliah"


Adam mengernyit dan bertanya di dalam hatinya sambil menoleh sebentar ke belakang untuk melihat Alba dari balik bahunya, Apa yang terjadi? Kenapa Alba bisa bekerja di kantin?


"Aku pernah menembaknya tapi ditolak" Ucap dosen yang bernama Pak Erik.


"Aku juga" sahut Pak Simbolon.


"Apa kabar dengan diriku? Aku juga bernasib sama dengan kalian, hahahahaha" Sahut Pak Bram.


Adam mengepalkan kedua tinjunya di bawah meja saat ia mendengarkan semua obrolan koleganya.


"Pak Adam dosen baru di sini jadi, beliau belum tahu primadona kampus ini. Alba Anindya tapi, harusnya Anda tahu ya Pak Adam, Anda kan dua tahun silam, pernah kulihat di sini selama tiga bulan sebelum Anda pergi ke Amerika?"


Adam hanya tersenyum lebar dan memperkencang kepalan tinjunya di bawah meja.


"Alba dulu memiliki pacar tapi, banyak yang nggak ngeh seperti apa pacarnya karena, mereka sering berkencan secara sembunyi-sembunyi. Tapi, sepertinya pacarnya meninggalkan dia tanpa tanggung jawab. Dasar pacar tidak tahu diuntung, punya pacar semanis itu kok ditinggalkan"


Brak! Adam bangkit dan mendorong kursinya ke belakang sampai menimbulkan suara yang cukup keras.


Semua yang berada satu meja dengannya dan semua yang ada di kantin milik tantenya Alba terkejut memandangnya. Termasuk Alba, tantenya dan omnya.


Keempat koleganya Adam saling berpandangan dan bertanya, "Ada apa dengan Pak Adam?"


Alba menghela napas panjang saat tantenya berucap tepat di telinganya, "Antarkan makanan dan minumannya dosen yang tadi, ke ruangannya! Goda dia dan jadikan dia pacar kamu! Dia anak konglomerat"


Alba lalu melangkah untuk mengambil makanan dan minumannya Adam sambil berucap maaf dan mengangguk sopan kepada keempat koleganya Adam yang masih duduk di meja mereka. Alba membungkus makanan dan minuman itu lalu baik sepeda onthel kebanggannya yang ia miliki sejak masih duduk di bangku kelas satu SMA dan mengayuh sepeda itu menuju ke ruang dosen.


Kampus tersebut sangat luas dan jika ada yang perlu layanan antar makanan dan minuman, Alba harus naik sepeda onthel kebanggannya itu.


Alba berhasil menyusul Adam yang tengah berjalan santai menuju ke ruang kerjanya dan Alba langsung mengerem sepedanya saat ia melihat ada seorang wanita cantik, memeluk Adam lalu mencium kedua pipinya Adam dan Adam diam saja dipeluk dan dicium oleh wanita cantik dan elegan itu. "Apa itu pacar barunya Adam?" Hati Alba terasa sakit dan perih seperti teriris sembilu kala ia melihat dari kejauhan, laki-laki yang masih sangat ia cintai, telah memiliki wanita lain.


Alba lalu bergegas mengayuh sepedanya lewat jalan memutar dan bergegas berlari menaiki anak tangga untuk masuk ke ruang kerjanya Adam Baron. Dia menaruh makanan dan minuman di meja kerjanya Adam dengan pesan di secarik kertas, "Selamat menikmati makanan ini bersama dengan pacar baru kamu"


Alba lalu bergegas pergi dari sana dan mengayuh sepedanya dengan cepat sambil beberapa kali mengusap air mata yang menetes di pipinya. Alba kembali ke kantin dan saat kantin mulai sepi karena jam istirahat makan siang telah usai, dia bersiap kuliah dan kembali melajukan sepeda onthelnya menuju ke gedung Seni dan Budaya tempat ia menimba ilmu.


Adam masuk ke dalam ruang kerjanya dan diikuti Bella. Wanita yang memeluk dan mencium kedua pipinya bernama Bella Fastro. Putri dari sahabat papanya dan oleh papanya dia dijodohkan dengan Bella Fastro. Adam hanya bersikap sopan saja dengan Bella dan tidak memiliki rasa apapun pada Bella.


Nindya yang masih terobsesi dengan Adam uring-uringan sendiri saat ia tahu, suaminya menjodohkan Adam dengan seorang wanita muda berbakat yang sangat cantik.


Adam melihat styrofoam bungkus makanan dan satu cup yang terbuat dari plastik ada di atas mejanya. Adam lalu mengambil secarik kertas lalu membacanya lirih, "Selamat menikmati makanan ini bersama dengan pacar baru kamu" Adam yang hapal dengan tulisannya Alba, langsung mengetahui kalau Alba yang mengantarkan makanan. dan minumannya. Adam lalu berbalik badan dan keluar dari dalam ruang kerjanya. Teriakan Bella tidak digubrisnya.


Dan Adam hanya bisa menatap rerumputan di depannya dengan kecewa karena, Alba tidak ada di sekitar sana. Alba telah pergi. Adam lalu melangkah gontai kembali ke ruang kerjanya sambil memasukkan secarik kertas itu ke dalam saku kemejanya.


Bella berdiri di depan pintu ruang kerjanya Adam yang terbuka lebar dengan tanya, "Ada apa? Kau kehilangan sesuatu?"


Adam melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya, duduk di kursi kerjanya dan menatap Bella dengan wajah layu.


"Kau kehilangan sesuatu? Aku akan bantu kamu mencarinya"


Adam menggelengkan kepalanya, "Aku hanya capek kemarin begadang bikin soal untuk para mahasiswa. Dan aku lupa makan siang. Apa kau keberatan jika kau tinggalkan aku sendirian saat ini? Aku akan makan"


Bella yang merasa tidak rela meninggalkan Adam karena ia sangat jarang memiliki waktu berduaan dengan Adam malah berinisiatif membuka Styrofoam dan menyuapi Adam dengan kata, "Aku akan pergi kalau kau sudah habiskan makanan ini"


Adam hanya bisa menghela napas panjang karena kekecewaannya yang sangat berat telah melemaskan segala daya yang ada pada dirinya dan dia menjadi malas untuk berdebat dengan Bella. Dia akhirnya menerima suapan demi suapan yang Bella berikan dengan tanpa daya dan wajah layu