I Love You, Adam

I Love You, Adam
Insting Alami



"Kalian saling kenal?" Tanya Bella dengan menautkan alisnya.


Adam dan Alba saling pandang. Alba menggelengkan kepalanya ke Adam sambil menarik tangannya yang dia pakai untuk membungkam mulutnya Adam.


Adam memahami arti dari gelengan kepalanya Alba maka ia segera menoleh ke Bella dan berkata, "Dia teman SMA-ku"


"Kok aneh ya, tadi pas aku cerita soal Adam Baron, Alba kok tidak bilang kalau kamu dan Alba adalah teman SMA?" Bella menatap Alba dengan sorot mata penuh tanda tanya lalu mengalihkan pandangannya ke kedua manik birunya Adam


Adam lupa kalau Bella adalah seorang yang cerdas dan akan terus mengajukan pertanyaan jika Bella belum menemukan jawaban yang dia cari. Adam kemudian dengan cepat menyahut saat ia melirik Alba yang terlihat panik dan canggung, "Dia pasti merasakan nyeri di siku dan lututnya jadi, nggak bisa fokus saat kamu mengajak dia ngobrol. Dia memang begitu orangnya, suka hilang fokus kalau sedang kesakitan, mengantuk, atau laper"


Alba menautkan alisnya ke Adam yang tengah memberikan penjelasan ke Bella dengan sorot mata kesal. Alba tidak menyukai jawabannya Adam itu walaupun jawaban itu membuatnya merasa sedikit lega saat ia melihat kerutan di keningnya Bella mulai menghilang. Alba berkata di dalam hatinya, Jadi, kenangan tentangku yang ada di benak Adam hanya itu? dasar cowok menjengkelkan.


"Kok kamu bisa sangat memahami Alba? Kalian dekat ya waktu SMA?" Bella lalu mengajak Adam dan Alba untuk duduk.


Adam duduk diantara kedua wanita cantik yang sangat mencintainya.


Bella duduk di kursi yang ada di sisi kirinya Adam sedangkan Alba duduk di kursi yang ada di sisi kanannya Adam.


Bella menatap Alba meminta jawaban dari Alba atas pertanyaan yang dia ajukan barusan, tapi Adam yang menjawabnya, "Aku dan Alba teman sebangku. Dia teman satu bangku yang sangat berisik dan menyebalkan" Adam melirik Alba.


Alba secara spontan melancipkan bibirnya ke ara Adam dan Bella melihatnya. Bella tergelitik untuk kembali mempertanyakan beberapa hal yang menurut ya terasa ganjil, tapi ia tahan kala


pesanannya Bella datang, tantenya Alba sendiri yang membawakan tiga cangkir minuman kopi hitam hangat dan satu piring pisang goreng.


Alba yang merasa butuh kesegaran dan kewarasannya karena Bella terus menatapnya dengan sorot mata penuh misteri, langsung menyesap kopi hitam hangatnya tepat di saat Bella kembali membuka tanya, "Jadi, kau pasti tahu siapa pacar Adam semasa SMA dong, iya, kan Ba? Karena biasanya, teman sebangku yang berisik dan menjengkelkan itu justru tahu segalanya"


Alba tersedak kopi hitam yang ia sesap dan Adam secara spontan mengangkat tangan dan menepuk pelan punggungnya Alba sambil berkata, "Pelan-pelan minumnya!"


Bella kembali menangkap sesuatu yang janggal yang terus menggelitik insting alaminya sebagai tunangan sahnya Adam Baron, lalu bertanya kembali dan pertanyaannya kali ini di tujukan ke Adam, "Kamu bahkan menepuk punggungnya Alba sesantai itu?"


Alba langsung menggedikkan punggungnya untum mengusir telapak tangannya Adam lalu mendelik ke Adam yang masih memandanginya dan tengah mengangkat tangannya dari punggungnya Alba.


Kemudian dengan segera, Alba menoleh ke Bella dan berkata, "Dia memang suka spontan menepuk punggung seseorang yang duduk di dekatnya jika orang itu tersedak. Karena, dia tidak suka ada suara berisik di sekitarnya jika ia tengah menikmati makanannya"


Adam hanya mengulas senyum lebar di depannya Bella sambil menganggukkan kepalanya.


"Oh gitu! Aku bahkan nggak tahu soal itu. Tapi itu nggak penting. Emm, kau belum menjawab pertanyaanku tadi, siapa pacar Adam semasa SMA? Apa dia secantik dan sekeren aku? Apa pacarnya Adam cewek tercantik di SMA kalian? Atau Adam justru memacari gadis cerdas yang culun dan berkacamata tebal?" Bella menatap Alba dengan senyum riangnya dan kedua bola matanya melompat-lompat menanti jawabannya Alba.


Di saat Alba hendak membuka mulut untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Bella, tangan Adam menggenggam tangannya yang ada di bawah meja dan Adam segera menyahut, "Aku tidak berpacaran saat SMA"


Alba tersentak kaget dan mematung saat tangan Adam secara tiba-tiba menyentuh lalu menggenggam kedua tangannya di bawah meja.


"Benarkah? Kamu pasti populer Dam, pas SMA. Kamu kan unggul di semua mata pelajaran karena, aku melihat ada banyak piala dan piagam penghargaan yang tertata apik di rumah Papa kamu dan kamu tampan, juga pandai bermain sepak bola, pasti banyak cewek yang naksir kamu pas SMA. Masak nggak punya pacar, benar kan, Ba?"


"Benarkah? Ba, kamu sering dititipin surat sama cewek-cewek yang naksir sama Adam?" Bella menatap Alba dengan sorot mata ceria.


Alba tersenyum dan menganggukkan kepalanya sambil masih berusaha melepaskan tangannya yang ada di bawah meja dari genggaman tangannya Adam. Tapi, Adam tidak membiarkan tangan Alba lepas dari genggamannya


Tangan kiri Adam yang berada di atas meja, ditarik oleh Bella dan digenggam Bella tanpa ijin dari Adam. Bella lalu meletakkan tangan kirinya Adam itu di atas bibirnya dan berkata, "Boleh aja banyak cewek yang naksir tunanganku ini, tapi dia hanyalah milikku, sekarang dan untuk selamanya" Bella memberikan senyum termanisnya ke Adam dengan sorot mata penuh cinta.


Adam tersenyum lalu menarik tangannya dari genggaman tangannya Bella dengan cepat dan membuat Bella tersentak kaget. Bella secara spontan menyemburkan tanya, "Kenapa kau tarik tangan kamu? Emangnya aku nggak boleh menggenggam dan mencium tangan tunanganku sendiri?"


"Tangan kiriku kotor makanya aku tarik" Adam menjawab pertanyaannya Bella dengan asal.


"Kotor? Emangnya kamu habis pegang apa? Oh iya! Kamu kok ada di sini? Kamu belum jawab pertanyaanku yang ini, tadi" tanya Bella


Tangannya Alba menegang di bawah meja dan Adam yang masih menggenggam erat tangannya Alba, menghela napas panjang dan menjawab pertanyaannya Bella, "Aku tadi di sini membantu ibu kantin, membawa perabotan makan turun dari mobil pickup-nya dan aku lupa belum cuci tangan karena kaget melihat Alba.........." Adam menoleh sejenak ke Alba lalu kembali menatap Bella dan melanjutkan kalimatnya yang tergantung, "Melihat Alba, teman SMA-ku muncul di sini jadi, aku lupa untuk cuci tangan"


"Oh! Pegang perabotan makan, nggak papa. Aku ingin tetap menggenggam tangan kamu, kotor nggak papa" Bella mencoba meraih kembali tangan kirinya Adam, namun Adam dengan cepat mengangkat tangannya ke atas untuk mengusap rambutnya sendiri sembari melepaskan genggaman tangannya di tangan Alba yang berada di bawah meja, lalu ia bangkit dan berkata, "Aku akan balik ke kantor. Aku ada banyak kasus yang harus aku pelajari. Kamu mau tetap di sini, apa ke klinik kamu?"


Bella ikutan bangkit dan berkata, "Aku balik ke klinik aja. Dan Alba ......."


Alba langsung bangkit mendengar namanya disebut oleh Bella dan tersenyum ke Adam lalu ke Bella tanpa mampu untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Hatinya masih berjumpalitan tidak karuan setelah tangannya digenggam erat terus menerus oleh mantan kekasihnya.


"Ada apa dengan Alba?" Adam menautkan alisnya ke Bella.


"Alba nggak papa kita tinggalkan sendiri di sini?"


Alba langsung menggoyangkan kedua telapak tangannya di depan Bella sambil berkata, "Aku nggak papa. Terima kasih untuk semuanya ya, Bel"


"Sama-sama dan semoga lekas sembuh ya luka kamu. Kalau butuh medikasi, kau hubungi aku aja! Nanti mintalah nomer ponselku ke Adam!"


"Terima kasih" sahut Alba dengan senyum tulusnya.


Dan Adam kembali mengangkat tangannya untuk menepuk bahunya Alba dengan pelan sembari berkata lirih setengah berbisik, "Jaga diri dengan baik, jangan jatuh lagi! Kalau jatuh cinta enak, kalau jatuh di atas aspal atau lantai, nggak enak, kan?" Adam mengedipkan sebelah matanya ke Alba saat Bella telah berbalik badan dan melangkah pelan mendahului Adam.


Alba menyipitkan kedua matanya dan merengut ke Adam saat ia menerima guyonan garing dan kedipan mata dari Adam.


Adam terkekeh geli lalu pergi meninggalkan Alba.


Alba lalu melangkah tertatih-tatih menuju ke dapur kantin.


Omnya Alba memandang Alba dari arah dapur kantin dengan seringai liciknya. Dia memiliki pemikiran buruk di otak busuknya bahwa kalau Alba terluka di kedua lututnya dan berjalan dengan tertatih-tatih, apabila ia menjebak Alba di suatu ruangan, maka Alba tidak akan bisa melarikan diri dengan mudah.