I Love You, Adam

I Love You, Adam
Tawa Renyah



Alba menahan lengannya Adam dengan tanya, "Kamu udah minum vitamin yang dari Dokter......"


"Sudah" Sahut Adam dengan cepat dengan kedua mata tertuju ke lengannya yang masih dicekal oleh Alba. Ada perasaan aneh di hatinya Adam saat ia melihat lengannya berada di dalam cengkeraman tangannya Alba.


Alba langsung melepaskan lengannya Adam dengan berdeham dan segera berkata, "Maaf"


Adam mengangkat pelan wajahnya untuk menatap Alba dan berkata, "Nggak papa. Aku justru senang kalau kamu udah bisa bersikap santai padaku. Lagian, kita sudah berciuman kemarin malam, kan?"


"Ka....kamu yang menciumku" Alba mendelik ke Adam.


Adam tersenyum lebar lalu berkata, "Dan kau membalasnya dengan malu-malu kemarin. Aku bisa merasakannya.


Wajah Alba langsung memerah malu dan wanita berparas manis itu langsung melangkah lebar meninggalkan Adam dan Adam langsung mengikuti langkahnya Alba dengan senyum lebar di wajah tampannya.


Beberapa jam berikutnya, mobil yang Adam kemudikan telah sampai di halaman parkir sekolahannya Noah. Adam langsung melarang Alba turun dari dalam mobil, "Kamu istirahat aja di dalam mobil. Kamu udah bekerja terlalu berat setiap harinya. Biar aku yang antarkan Noah sampai ke dalam kelas" dan Adam turun dari dalam mobil untuk mengantarkan Noah masuk sampai ke dalam kelasnya Noah.


Noah tiba-tiba berbalik badan lalu berlari sembunyi di belakang badannya Adam dan Adam langsung menoleh ke belakang dan bertanya, "Ada apa? Kenapa kamu sembunyi?"


Seorang anak perempuan berkucir dua, berpipi tembem berlari dari kejauhan dan langsung mengerem laju larinya di depan Adam. Anak perempuan yang manis dan menggemaskan itu mengangkat kepalanya untuk menatap wajahnya Adam dan kemudian bertanya, "Anda siapa?"


Adam lalu berjongkok dan menarik Noah ke depan lalu memeluk Noah sambil tersenyum manis di depan anak perempuan berkucir kuda itu. Kemudian Adam berkata, "Om, Papa Bintangnya Noah"


Gadis kecil menggemaskan itu menautkan alisnya dan bertanya, "Apa itu Papa Bintang"


"Papa Bintang itu Papa yang turun dari atas langit" Sahut Noah dengan wajah cemberut.


"Kok bisa begitu?" gadis kecil berkucir dua itu menatap Noah dengan sorot mata kebingungan.


Adam tersenyum lebar lalu bertanya, "Siapa nama kamu?"


"Leonora Kusuma. Panggil saja Nora, Om"


"Nama yang manis, semanis orangnya" Adam tersenyum sambil menepuk pelan pucuk kepala gadis kecil itu


Noah langsung berbisik di telinganya Adam, "Dia nggak manis karena ia suka menggangguku, Pa. Dia selalu minta aku untuk mengajarinya ini dan itu, tapi dia nggak paham-paham kalau diajari dan selalu minta diajari lagi dan lagi"


Adam langsung terkekeh geli lalu mencium pipinya Noah dengan gemas dan berucap, "Itu sama.kayak cewek di masa lalunya Papa, cewek itu juga suka gangguin Papa minta diajari ini dan itu"


Noah menoleh ke Papa Bintangnya dengan sorot mata dan senyum cerianya, "Apa cewek itu, Mamaku?"


Adam menatap Noah dan tertegun cukup lama. Dia tertegun karena merasa heran kepada dirinya sendiri kenapa dia bisa menceritakan cewek di masa lalunya kepada Noah.


"Pa?" Tanya Noah.


"Om?" Tanya Nora.


Nora tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya sampai kedua rambutnya yang dikucir di kanan dan kiri kepalanya bergoyang-goyang manis. Lalu dengan santainya, Nota meraih tangannya Noah untuk ia genggam.


Noah melotot dan menarik tangannya dari dalam genggaman tangannya Nora lalu ia berlari kencang meninggalkan Nora sambil sesekali menoleh ke belakang untuk melambaikan tangannya ke Papa Bintangnya.


Adam tertawa renyah melihat kepolosannya Nora dan Noah lalu ia bergumam, "Anakku populer juga di kalangan cewek, ya"


Deg! Jantung Adam berdebar tanpa sebab saat ia mengatakan kata anakku laku ia bergumam, "Kenapa aku bisa secara spontan mengucapkan kata anakku. Huuufttt! Semoga saja benar kalau Noah itu adalah anakku karena, aku sangat menyayanginya"


Adam lalu berputar badan dan melangkah kembali menuju ke mobilnya. Saat ia masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengamannya, ia menoleh ke Alba dan terkejut lalu tersenyum saat ia mendapati Alba tidur nyenyak. Presdir muda yang digilai oleh para kaum Hawa karena kekayaan dan ketampanannya itu, menjulurkan tangannya untuk merapikan rambutnya Hana. Kemudian ia mulai melajukan mobilnya dengan pelan sambil bergumam lirih, "Aku akan membiarkanmu tidur sepanjang hari ini setelah kamu masuk ke kantorku sebagai sekretaris pribadiku"


Beberapa menit berikutnya, mobilnya Adam telah sampai di halaman depan hotel tempat Alba bekerja sebagai asisten chef. Adam membuka sabuk pengamannya dan dengan terpaksa dia membangunkan Alba karena ia tidak ingin Alba kena teguran dari atasannya Alba karena datang terlambat.


"Alba, bangun, udah sampai, nih" Adam mengusap lembut pipinya Alba dengan ibu jarinya.


Alba tersentak kaget dan langsung menegakkan badannya lalu menoleh ke Adam dengan canggung dan segera berucap, "Maafkan aku. Aku ketiduran"


Adam tersenyum dan ia melepaskan sabuk pengamannya Alba sambil berucap, "Kalau kamu tidak akan masuk kerja, aku tidak akan membangunkanmu. Karena, aku ingin menikmati wajah manis kamu di saat tidur lebih lama lagi"


Alba kembali merasakan pipinya memerah karena malu dan dia segera membuka pintu mobil lalu melompat turun dan berlari dengan cepat masuk ke dalam hotel tempat ia bekerja tanpa mengucapkan sepatah kata pun ke Adam.


Adam menatap punggungnya Alba yang semakin. menjauh sampai tidak tampak lagi dengan tawa renyahnya.


"Kenapa saya dipecat, Pak?" Alba menatap atasannya dan sambil menerima surat pemutusan hubungan kerja, Alba mematikan alisnya dan ada genangan air mata di kedua pelupuk matanya.


"Anda jangan menangis dulu, Bu Alba Anindya! Anda tidak dipecat, tapi Anda di PHK oleh pihak manajemen di sini karena, Anda dipindahtugaskan ke manajemen pusat" Sahut atasannya Hana.


"Maksud Bapak?" Hana menautkan alisnya karena ia masih belum memahami perkataan yang terlontar dari mulut atasannya.


"Anda akan diantarkan ke Hotel pusat. Hotel ini kan hanya hotel cabang. Hotel akuisisi" sahut atasannya Hana sambil berdiri lalu kembali berucap, "Supir saya akan mengantarkan Anda ke tempat kerja Anda yang baru, Bu Alba Anindya"


Alba masih belum mengerti keadaannya dan masih belum memahami maksud dari atasannya, namun ia berbalik badan untuk mengikuti supir atasannya setelah ia menyalami atasannya dan mengucapkan kata terima kasih.


Beberapa jam kemudian, Alba sampai di depan sebuah hotel yang lebih mewah dari hotel tempat ia bekerja selama beberapa tahun belakangan ini. Alba segera diantarkan ke lantai atas, ke ruangan Presdir. Alba merasa heran karena baru pertama kali bagi dia dipertemukan dengan Presdir.


"Apa salahku sampai aku diharuskan menghadap langsung ke Presdir hotel ini?" Saking bingung dan paniknya, Alba tidak memperhatikan nama hotel tersebut


Wanita yang mengantarkan Alba sampai di depan pintu ruang kerjanya Presdir hotel tersebut mengeruk pintu tersebut sebanyak tiga kali dan di saat ada sahutan, "Masuk" dari dalam, wanita itu membukakan pintu untuk Alba dan sambil tersenyum ia berkata, "Silakan masuk, Bu"


Alba tersenyum, "Terima kasih" lalu melangkah masuk ke dalam.


Wanita yang mengantarkan Alba kembali menutup pintu itu dengan pelan.


Dan Alba langsung mematung dan tertegun saat ia melihat sosok Presdir yang tengah duduk di meja kerja yang sangat besar dan megah. Presdir itu tengah tersenyum manis kepadanya