I Love You, Adam

I Love You, Adam
Persiapan Pesta Topeng Ultah Bella



Adam memutuskan untuk mampir ke rumah megah milik papanya karena ia sudah beberapa Minggu tidak berjumpa dengan papanya dan kebetulan sore itu ia melintasi rumah papanya.


Adam terkejut tatkala mama tirinya memeluknya dari arah belakang saat ia baru beberapa langkah masuk ke dalam ruang tamu mewah di rumah papanya. Adam segera mengurai lengan tantenya yang dengan seenaknya menggelung manja di pinggangya Adam. Adam langsung melangkah lebar ke depan dan tanpa menoleh ke belakang ia terus melangkah lebar ke depan.


Nindya berlari kecil menyusul Adam sambil berkata, "Aku senang kau mampir ke sini. Kau mengunjungi aku, kan? Untuk mengucapkan terima kasih karena tadi Mama mengirimi kamu makan siang?"


Adam menghela napas dan tanpa menoleh ke Nindya ia bertanya, "Aku ke sini untuk menemui Papa"


Nindya berhasil menarik lengannya Adam dan memaksa Adam untuk berbalik badan, "Kenapa kau tidak menatap Mama saat Mama mengajakmu bicara?"


"Karena kau, bukan Mamaku" Adam berucap ketus sembari menarik lengannya dengan wajah geram"


Nindya lalu melangkah duduk di kursi tamu dan berucap, "Papa kamu nggak ada. Papa kamu belum ada rapat dadakan dan pulangnya malam. Duduklah sini!" Nindya menepuk tempat kosong di sebelahnya persis. "Temani Mama! Mama kesepian di rumah.sebesar ini. Papa kamu sering lembur dan pulangnya larut malam"


"Kamu tahu betul Papaku memang seperti itu. Papa gila kerja. Lalu kenapa kau masih mau menikahinya?" Adam tetap berdiri dan mundur beberapa langkah untuk menjauhi Nindya.


"Itu karena aku ingin dekat denganmu. Ingin selalu melihatmua. Tapi sayangnya, kamu justru memilih untuk keluar dari rumah ini. Duduklah sini! Kita mengobrol sebentar, yuk! Ngobrol soal Papa kamu juga nggak papa" Nindya kembali menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya sembari mengulas senyum seksi dan menyilangkan kakinya untuk memperlihatkan sedikit paha mulusnya di depan Adam. Nindya mengenakan rok jins ketat di atas lurus dan jika dipakai untuk duduk di atas sofa yang pendek, maka rok itu akan tersibak ke atas dan akan memperlihatkan paha mulusnya Nindya. Apalagi jika kakinya.


Adam tersenyum sinis ke Nindya dan tanpa pamit, ia melangkah lebar pergi dari hadapan mama tirinya.


Nindya langsung bangkit dan berteriak, "Adam! Aku kurang apa? Apa aku kurang seksi dan cantik di mata kamu, hah?!"


Adam tidak menggubris teriakan nenek lampir itu. Adam menyesali keputusannya mampir ke rumah papanya di sore itu. Adam memasang sabuk pengamannya sembari bergumam, "Lain kali kalau mau mampir ke rumah Papa, lebih baik aku telpon Papa dulu. Hiiiihhh! Nenek lampir itu makin menjadi-jadi gilanya" Adam bergidik ngeri sembari mulai menekan pedal gas mobilnya.


Adam tersentak kaget saat ponselnya berbunyi. Ponsel yang ia pasang di dasboard langsung ia tekan layarnya dan, "Halo, ini aku. Ada apa?"


"Adam, lusa.adalah ulang tahunku. Aku buruh baju baru. Antar aku beli baju baru, ya?" suara manja Bella terdengar menggema di dalam mobilnya Adam.


"Aku sibuk" Sahut Adam dengan cepat.


"Sibuk ngapain? Kamu udah pulang dari ngajar, kan? Aku hapal jadwal ngajar kamu" Sahut Bella.


"Pokoknya aku sibuk. Maaf, aku tidak bisa mengantarmu untuk beli baju" sahut Adam. Adam sebenarnya tidak ingin Bella selalu menempel padanya dan selalu meneleponnya setelah ia mengajar, meneleponnya pas jam makan malam, dan meneleponnya di saat ia mau tidur. Namun, dia tetap berusaha sekuat tenaga untuk bersikap sopan pada Bella karena ia berhutang budi pada Papanya Bella. Papanya Bella pernah menolong Adam pas Adam mengalami perampokan dan penusukkan di Amerika. Jika papanya Bella tidak menolongnya, dia bisa mati karena kehabisan darah.


"Sebenarnya, kamu menganggapku sebagai tunangan kamu nggak sih, Dam?"


Aku menerima pertunangan kita karena saat itu aku mengalami gangguan ingatan beberapa Minggu akibat dari shock yang aku alami. Aku menerima pertunangan kita karena Papa kamu dan kamu bilang ke aku kalau kamu adalah pacarku. Dan aku terlambat untuk berkata tidak dan menolak pertunangan kita. Batin Adam.


"Dam, kok diam?"


"Maaf aku baru nyetir" Sahut Adam.


"Apa kamu mencintaiku Dan? Apa kamu......."


"Baiklah. Aku akan menjemputmu. Kita akan beli baju" Klik! Adam mematikan ponselnya dengan menghela napas panjang


Bella memekik senang lalu ia memeluk papanya, "Pa, makasih ya udah kasih jodoh untuk Bella, laki-laki yang sangat tampan, baik dan sempurna" Cup! Bella lalu mencium pipi papanya.


"Takdir yang mempertemukan Papa dengan Adam jadi, berterima kasihlah sama.takdir" Papanya Bella tersenyum lebar sambil mengusap rambut putri cantik kesayangannya.


Adam hanya bisa tersenyum tipis lalu bertanya ke Bella, "Kenapa kau katakan hampir ke semua pelayan di butik ini kalau aku adalah tunangan kamu?"


"Karena mereka melirik kamu terus" Ucap Bella dengan santainya.


"What?! Kok kamu bisa tahu?" tanya Adam.


"Cewek tuh punya insting yang lebih peka daripada cowok. Jadi, aku tahu siapa saja pelayan di butik ini yang melirik kamu"


Adam kembali menghela napas panjang dan memilih untuk diam daripada ikutan menjadi gila.


"Besok aku akan mengundang pemain piano sewaan. Dia wanita yang manis dan lugu. Aku yakin kamu nggak akan tertarik dengan dia karena dia wanita yang biasa dan tidak secantik dan sekeren diriku" Sahut Bella.


Adam menarik kedua alisnya ke atas dengan membuka mulut dan menghela napas.panjang.


Bella terkekeh geli dan sambil mengelus dadanya Adam ia berkata, "Insting wanita itu kuat. Aku tidak akan biarkan wanita manapun merebutmu dariku untuk itulah aku harus selalu berhati-hati"


"Terserah kamu saja" Sahut Adam dengan malas-malasan.


"Wanita pemain piano yang aku sewa masih muda. Dia sangat lugu. Sepetinya dia bukan berasal dari keluarga mampu tapi, aku heran kok dia bisa bermain piano"


"Berarti dia cerdas dan memiliki bakat di bidang piano" sahut Adam.


"Iya kamu benar. Tapi aku lebih cerdas, kan?"


Adam tersenyum ke Bella dan menganggukkan kepalanya dengan malas-malasan.


"Kau tahu, aku akan mengadakan pesta topeng di pesta ulang tahunku lusa. Itu agar supaya, tunanganku ini tidak bisa melihat wajah wanita di balik topeng" sahut Bella dengan santainya sambil mengelus dadanya Adam. "Aku udah pesan topeng couple untuk kita butik ini. Nih? Nanti kamu coba di rumah, ya!?" Bella menyerahkan sebuah paper bag besar berisi setelan jas tuksedo dan topeng berwarna hitam


"Yeeaaahh! Terserah kamu" Adam terpaksa mengulas senyum di wajah tampannya sambil menerima paper bag pemberiannya Bella.


"Alba Anindya pianis yang aku sewa, juga aku suruh datang bermain piano di pesta ulang tahunku dengan memakai topeng"


Adam tidak jadi memasang sabuk pengamannya dan ia menatap Bella, "Apa yang kau bilang barusan?"


"Pianis yang ku sewa juga aku suruh pakai topeng" Bella berucap dengan menautkan alisnya,


"Nama pianis itu? Kau sebutkan nama pianis itu kan, tadi?"


"Oh Namanya Alba Anindya. Ada apa? Kenapa? Kau kenal?" Alba gantian mencecar Adam dengan pertanyaannya karena dia melihat ada sesuatu yang aneh di ekspresi wajahnya Adam.


Adam menegakkan kembali tubuhnya, memasang sabuk pengamannya dan melakukan mobilnya tanpa menjawab pertanyaannya Bella. Adam larut dalam lamunannya dan bertanya-tanya di dalam hatinya, kapan Alba bisa bermain piano? Dan siapa sebenarnya Alba? Apakah dulunya Adam adalah orang kaya sebelum Papanya meninggal? Lalu apa yang terjadi pada Mamanya, kenapa dia ikut tinggal bersama dengan Tantenya?


"Dam, kok malah melamun? Kau kenal dengan Alba Anindya?" Bella masih mengejar Adam dengan pertanyaan yang sama.


"Namanya sama dengan teman SMA-ku dulu" Adam hanya menjawab singkat seperti itu karena, jika pianis itu benar Alba Anindya, dia tidak ingin Alba mendapatkan kesulitan karena kecemburuannya Bella yang seringkali ngawur.