I Love You, Adam

I Love You, Adam
Kejutan Untuk Adam



Saat Adam menutup pintu kamar rawat inapnya Alba, dia dihadang oleh dokter dan perawat.


"Anda mau ke mana Pak Adam?" tanya dokter tersebut.


"Saya hanya ingin menghirup udara bebas di taman. Ada apa Dok?" tanya Adam.


"Saya akan masuk ke kamar pacar Anda untuk mengatakan kalau pacar Anda bisa pulang hari ini"


"Ah! Silakan, Dok" Adam tersenyum sambil membukakan pintu kamar untuk dokter dan perawat tersebut dan ia mengikuti langkah dokter dan perawat itu di belakang.


"Selamat sore, Nona Alba Anindya?"


"Selamat sore, Dok" Alba berusaha untuk mengulas senyum di wajah manisnya di saat hatinya terasa sakit.


"Anda sudah boleh pulang. Saya akan resepkan obat untuk Anda dan Anda bisa ambil di perawat jaga saat Anda pulang nanti"


"Baik, Dok. Terima kasih"


"Nah! Jarum infusnya sudah terlepas. Tangan Anda bebas lagi, Nona" Suster yang melepas jarum infus di punggung tangannya Alba tersenyum ke Alba. Alba membalas senyuman perawat itu lalu berucap, "Terima kasih,Sus"


Dokter dan perawat itu kemudian pergi meninggalkan Alba dan Adam.


"Pambudi belikan baju ganti untuk kamu. Aku akan keluar sebentar, gantilah baju kamu!" Adam berucap sambil memutar badannya lalu melangkah keluar dari kamar.


Adam berdiri di samping pintu kamarnya Alba dan menyandarkan kepalanya di tembok setelah ia mengambil obatnya Alba.


Adam tersentak kaget saat pintu kamar itu terbuka dan Alba berdiri di depannya.


"Sudah selesai? Ada yang ketinggalan?" tanya Adam.


"Aku nggak bawa apa-apa kan ke sini? Jadi, nggak mungkin ada yang ketinggalan. Ini ponsel kamu" Alba menyerahkan ponsel Adam ke Adam dan Adam menerima ponselnya sambil berkata, "Baiklah. Kita pulang kalau gitu"


Alba mengikuti langkahnya Adam dari belakang. Dia tidak memiliki kepercayaan diri untuk berjalan di sampingnya Adam.


Adam menoleh ke belakang, "Kenapa berjalan di belakangku?"


"Nggak papa. Aku lebih nyaman berjalan di belakang kamu"


Adam menghela napas dan berkata, "Yeeeahhh! terserah kamu sajalah, Ba" lalu ia melanjutkan langkahnya dan Alba kembali mengikutinya dari belakang.


Adam melajukan mobilnya dan Alba bertanya, "Kamu bisa antarkan aku mencari kos-kosan?"


"Kenapa cari kos-kosan?" Adam bertanya tanpa melirik ataupun menoleh sekilas ke Alba.


"Aku nggak punya tempat tinggal dan aku nggak mungkin balik ke rumah tanteku. Dan tolong antarkan aku ke pasar tradisional untuk beli beberapa kaos oblong dan celana untuk baju ganti karena, semua barang dan bajuku masih berada di rumah tanteku"


"Kenapa diam? Kamu marah sama aku? Lho! Dam! Pasarnya udah kelewatan, Yaaahhhh! Gimana dong, aku nggak punya baju ganti"


Adam masih bergeming dan mengabaikan Alba dan Alba menoleh ke Adam dengan sorot mata penuh tanda tanya, tapi ia tidak berani untuk membuka mulut dan bertanya lagi. Alba lalu mengerucutkan bibirnya sambil memutar kepala untuk menatap ke depan dan diam membisu.


Tantenya Alba, nyonya Hastuti Setiawan, memasuki rumahnya dengan langkah gemetar. Dia takut jika apa yang dikatakan oleh pengacara muda yang tampan, yang bernama Adam Baron, benar adanya.


Tantenya Alba memutuskan untuk melangkah terlebih dahulu ke kamar mandi dan memeriksa daun pintu kamar mandi yang terbuat dari kayu yang sudah mulai lapuk. Ada beberapa lubang di sana Tantenya Alba mulai menangis dan melangkah ke kamarnya Alba dengan langkah terseok-seok dan beberapa kali terpeleset dan jatuh di atas lantai karena kedua kakinya terus bergemetaran.


Dan saat ia melihat pintu kamarnya Alba yang tidak pernah ia kunjungi sejak kamar itu dipakai oleh Alba, jatuh bersimpuh lah dia di atas lantai di depan daun pintu kamarnya Alba dan semakin deras tangisannya. Wanita berumur lima puluh tahunan itu bahkan beberapa kali berteriak histeris sambil memukuli dadanya sendiri di saat ia menemukan fakta betapa bejat suaminya, suami yang sangat ia cintai tega melecehkan keponakannya.


Alba terkejut saat Adam membawanya ke rumah mewahnya Adam. Alba melotot ke Adam, "Kenapa kau membawaku ke sini?"


"Lalu ke mana lagi? Kau mau tinggal di kosan nggak jelas dan ditemukan lagi oleh Om kamu yang masih berkeliaran di luar sana?"


Alba menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Tapi, jangan di rumah kamu!"


"Iya kamu benar. Kalau kamu berada di rumahku dan tinggal satu atap denganku, maka akan merugikan kamu di persidangan nanti. Makanya aku sedang menunggu Pambudi. Setelah Pambudi datang, dia akan mengantarmu ke rumah sepupunya yang kosong. Sambil menunggu persidangan, kau bisa tinggal di sana untuk sementara waktu. Sekarang turunlah dan masuk dulu ke rumahku! Kamu masih butuh istirahat"


Alba menuruti kata Adam. Dia turun dan melangkah masuk ke dalam rumahnya Adam.


"Masuklah ke kamar beristirahatlah! Aku nggak akan mengganggumu. Kalau kamu tidak percaya sama aku, kunci pintunya!"


Alba menuruti perintah Adam. Dia masuk ke kamarnya Adam dan mengunci pintunya.


Adam menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya melihat Alba benar-benar mengunci pintunya.


Adam lalu berputar badan untuk melangkah ke arah dapur. Dia berjalan pelan menuju ke lemari es dua pintu miliknya untuk mengambil.sawi hijau. Adam memetik beberapa helai daun sawi hijau, mengiris-iris jadi dua bagian, meletakkannya di nampan kecil yang terbuat dari plastik, kemudian laki-laki tampan itu, melangkah ke teras belakang rumah untuk memberi makan kelincinya.


Adam berjongkok dan mengelus kelincinya yang tengah makan sawi hijau pemberiannya dengan lahap. Adam bergumam, "Kau kelinci yang unik. Kelinci yang lain suka makan wortel, tapi kau justru nggak doyan wortel dan pilih sawi hijau. Kau unik sama seperti cewek yang aku cintai, unik. Menggemaskan tapi juga sering bikin jengkel, tapi aku nggak bisa berpaling darinya. Sama seperti kamu, aku juga nggak bisa berpaling darimu" Adam terus mengelus kepala kelinci kesayangannya.


Adam terlonjak kaget dan secara spontan bangkit berdiri saat ia merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang.


Saat Adam berdiri, tangan yang semula memeluk bahunya, beralih memeluk pinggangnya. Secara spontan, Adam menoleh ke belakang dan tersentak kaget saat ia melihat senyumannya Bella.


Adam mengurai paksa gelungan tangan Bella di perutnya lalu ia memutar badan dan berhadapan dengan Bella, "Kenapa kamu ke sini?"


Bella memeluk Adam dan menyandarkan kepalanya di dada Adam sambil bertanya, "Lho kok kenapa? Aku merindukanmu. Dari semalam aku tidak mendengar suara kamu dan nggak bisa bertemu denganmu. Kapan kamu balik dari luar kota? Kata Pambudi, kamu ke luar.kota"


Adam mendorong pelan tubuhnya Bella dan berkata, "Jangan main peluk, Bel! Nggak enak kalau tiba-tiba Pambudi datang dan melihat kita"


Larangan memeluk dari Adam justru membuat Bella nekat berjinjit, menarik tengkuknya Adam dan mencium bibirnya Adam.


Adam mengerjap-ngerjapkan kedua kelopak matanya karena kaget dan dia membeliakkan kedua matanya saat ia menangkap sosok Alba berdiri mematung di depan pintu masuk teras belakang. Alba lalu melangkah mundur, berbalik badan dengan cepat dan berlari meninggalkan teras belakang rumahnya Adam.