
Nindya duduk kembali di depan api unggun bersama dengan para guru dan para siswa namun, pikirannya kacau balau. Dia menyesali kebodohannya membalas ciumannya Adam, calon anak tirinya. Tidak bisa ia pungkiri, ia tidak kuasa menghindari daya tariknya Adam yang sangat luar biasa. Adam yang masih sangat belia, sangat tampan, cerdas, berbakat dan dingin penuh misteri, memang menjadi idaman dan incaran para kaum hawa. Magnet maut bagi para kaum Hawa.
"Bu, kenapa wajah Anda memerah? Anda kepanasan, ya? Kalau kepanasan, Anda bisa mundur sedikit biar tidak terlalu dekat dengan api unggun! Atau Anda sakit?". Tanya Pak Galih guru olahraga yang diam-diam naksir Nindya.
Nindya menoleh dengan gugup dan segera berkata, "Saya baik-baik saja, kok"
Nada suaranya Nindya sedikit bergetar karena, Ingatan akan ciumannya yang lembut dengan Adam tanpa ia sadari membuat wajahnya semakin memerah dan seluruh tubuhnya masih bergetar. Seketika itu juga, Nindya merasa bersalah kepada Papanya Adam, calon suaminya.
Sementara itu, Alba memandangi wajahnya Adam yang sudah tertidur lelap setelah minum obat penurun demam yang diberikan oleh Alba. Namun, setelah beberapa jam kemudian, Adam kembali demam dan mulai meracau, "Pergilah kau wanita sialan! Kau tidak setia pada Papaku. Dasar menjijikkan, pergilah jauh-jauh dan jangan ganggu kehidupan kami!
Alba yang belum meninggalkan Adam dan mengganti plester penurun demam, bergumam, "Wanita mana yang ia maksud? Apa wanita yang ia maksud itu, kekasih Papanya?"
Dan di saat Alba hendak membangunkan Adam untuk ia beri obat penurun demam lagi, dokter dari yayasan Pelita Kasih datang ke ruangan yang ada di pojok selasar sayap kiri vila tersebut yang telah diubah menjadi klinik perawatan kesehatan darurat bagi para siswa dan para guru SMA Pelita Kasih.
Dokter pria yang masih muda dan lumayan tampan itu bertanya ke Alba, "Kenapa dia? Aku ke sini pas lewat mau ambil air minum, kok lampu klinik masih nyala?"
"Dokter......." Alba membaca nametag dokter tersebut dan melanjutkan kalimatnya, "Dokter Bagas, emm, teman saya ini demam, Dok. Badannya panas. Sudah saya kasih penurun panas, parasetamol sama saya kasih plester penurun panas, sempat turun sih demamnya tapi, kok ini panas lagi badannya"
"Jam berapa kau kasih parasetamol?" tanya Dokter yang bernama Bagas itu.
"Jam setengah sepuluh dan sekarang sudah setengah dua belas, kok panas lagi badannya?"
Dokter Bagas mulai membangunkan Adam secara pelan. Adam membuka kedua kelopak matanya secara perlahan dan Dokter Bagas mulai memeriksanya. Di saat Dokter Bagas meminta Adam untuk membuka mulut, Dokter yang lumayan tampan dan masih muda itu menemukan tenggorokannya Adam memerah dan ia langsung bertanya, "Kau habis makan apa tadi?"
Adam menoleh ke Alba dan Dokter Bagas langsung tersenyum lalu berucap, "Kok malah noleh ke pacar manis kamu? Kamu lupa habis makan apa tadi?"
"Di....dia bukan pacar saya, Dok" protes Alba.
Adam ingin mengucapkan yang sebaliknya untuk menjahili Alba namun, ia terlalu lemas untuk mengeluarkan kata+kata dan hanya mampu tersenyum tipis sambil terus memandangi wajah Alba yang berdiri di sebelahnya Dokter muda yang tengah memeriksanya.
Dokter Bagas menyuntikkan cairan penurun demam di lengannya Bagas lalu kembali bertanya, "Udah ingat, makan apa tadi?"
"Saya hanya makan mendoan goreng dan es teh tadi. Setelah itu saya belum makan apapun karena, udah kenyang" Adam berkata dengan suara serak.
"Nah itu penyebabnya! Mendoan yang berminyak ditambah es teh dan kamu makan di kondisi badan kamu yang nggak fit. Maka terjadilah radang tenggorokan" sahut Dokter Bagas dengan senyum ramahnya.
"Dia yang beli" Adam menunjuk lemas ke Alba dengan suara serak seperti mainan robot-robotan yang telah rusak.
"Kamu yang ambil kan tadi. Kamu bahkan makan lebih banyak dari aku dan.........."
"Kamu yang suapin ke aku awalnya, kan?" Adam memaksa dirinya untuk berbicara sedikit keras padahal tenggorokannya mulai terasa sakit dan suaranya mulai bertambah parah seraknya.
Dokter Bagas duduk di tepi ranjang dan terkekeh geli melihat kekonyolannya Adam dan Alba. Kemudian ia berucap, "Nggak pacaran kok suap-suapan?"
Alba langsung memerah wajahnya dan Adam berkata, "Dia memang seperti itu, Dok. Nggak mau mengakui saya sebagai pacarnya" Adam mengulum bibir menahan senyum sembari terus menatap Alba.
Alba langsung mendelik ke Adam, "Ka.....kamu!"
Adam menjulurkan lidahnya lagi ke Alba di saat Dokter Bagas menunduk untuk mengambil obat. Dan Alba hanya bisa menghela napas panjang untuk melepas kekesalannya.
"Ini obat yang harus pacar kamu minum tapi, karena ini antibiotik maka ia harus makan dulu.
Aku taruh di atas nakas ya" Dokter Bagas tersenyum ke Alba.
"Dok, dia bukan pacar saya!" pekik Alba.
Dokter Bagas tersenyum lebar lalu berkata, "Emm, gimana ya, aku lebih percaya kata-kata pacar kamu karena, berdasarkan dari pengalamanku, cewek tuh memang gitu, bilang nggak padahal iya. Nah kalau cowok tuh beda, cowok tuh lebih jujur dan to the point"
Adam menyahut, "Setuju, Dok!" Adam terkekeh di dalam suara seraknya
Adam berteriak memanggil Alba dengan suara yang hampir hilang, "Kau mau ke mana?!"
"Mau masak bubur buat kamu" ucap Alba sembari mengerem langkah dan menoleh ke belakang.
"Kamu berani masak sendirian di dapur? Ini sudah larut malam, lho" Suara Adam semakin terdengar serak dan hampir tidak kedengaran.
Alba kemudian berbalik badan lalu meringis, "Hehehehe, iya kamu benar. Aku takut masak sendirian di dapur. Aku takut diculik genderuwo"
"Genderuwo rugi kalau nyulik kamu. Kamu tuh makannya banyak, ceriwis dan galak" Adam masih berusaha untuk bersuara.
Dokter Bagas menoleh ke Adam, "Suara kamu mulai hilang jadi, jangan banyak ngomong lagi! Emm, kamu tiduran aja di sini! Aku akan temani pacar kamu masak bubur, boleh?"
Adam hanya menganggukkan kepalanya karena tenggorokannya terasa semakin sakit.
Dokter Bagas kemudian bangkit dan menemani Alba melangkah ke dapur.
"Kamu tahu Bu Nindya?" tanya Dokter Bagas sembari duduk di salah satu bangku yang menghadap ke meja yang sangat panjang, tertata rapi tidak jauh dari tempat kompor.
Alba mengaduk-aduk bubur buatannya sambil menoleh ke Dokter Bagas,."Tahu banget. Bu Nindya itu wali kelas saya, Dok. Dia ngajar Matematika juga. Pinter dan lembut orangnya"
"Gitu ya?" Dokter Bagas memegang dagunya dan mulai senyum-senyum sendiri. Lalu Dokter yang masih berumur dua puluh tujuh tahun itu, berkata, "Apa kamu tahu, Bu Nindya sudah punya pacar atau belum?"
Alba mengambil bubur buatannya yang telah matang ke dalam mangkuk yang terbuat dari melamin putih yang ia letakkan di atas nampan dari melamin pula sembari menggelengkan kepalanya, ia berkata, "Saya baru kenal seminggu ini dan saya lihat, Bu Nindya kalau pulang mengajar, naik motor sendiri dan nggak pernah dijemput seorang cowok"
Dokter Bagas bangkit dan dengan senyum merekah dia mengikuti langkah Alba kembali ke ruang di dalam vila tersebut yang disulap menjadi klinik pengobatan darurat dan hanya Dokter Bagas, satu-satunya dokter yang ditugaskan oleh Yayasan Pelita Kasih untuk berjaga di sana.
Adam masih terjaga ketika Alba datang membawa nampan yang di atasnya ada mangkuk bubur buatannya. Alba duduk di tepi ranjang dan Dokter Bagas duduk di bangku kayu yang ada di ruangan tersebut.
Alba menyendok bubur lalu meniupnya pelan beberapa kali. Setelah dirasa cukup ia meniupnya, dia mengarahkan sendok ke mulutnya Adam, "Aaaaaa!"
Adam tampak canggung karena ia belum pernah disuapi oleh siapapun apalagi disuapi oleh seorang gadis. Adam menegakkan badannya dan mencoba meraih nampan yang ada di atas pangkuannya Alba dengan berkata, "Aku bisa makan sendiri" Adam menautkan alisnya ketika ia menemukan suaranya telah hilang secara total.
"Apa yang kau katakan? Aku nggak bisa dengar" Alba masih melayangkan sendok berisi bubur di udara bebas. Tangan kiri Alba lalu mendorong dada Adam hingga punggung Adam membentur bantal lalu ia kembali berkata, "Aaaaaa!"
Adam dengan terpaksa membuka mulutnya dan ia membeliakkan matanya saat indra pengecapnya mengirim pesan ke otaknya untuk mengatakan bahwa bubur tersebut enak. Adam segera mengacungkan ibu jarinya ke Alba.
"Syukurlah kalau enak" Alba tersenyum sembari kembali menyendok bubur itu dan meniupnya beberapa kali lalu menyuapkannya lagi ke Adam.
Dokter Bagas terkekeh geli, "Kau beruntung anak muda. Memiliki pacar yang manis, perhatian dan pinter masak. Enak banget ya?"
Adam menoleh ke Dokter Bagas, mengacungkan ibu jarinya dan menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan penuh semangat.
"Habiskan lalu minum antibiotiknya! Aku tinggal ya kalian, aku capek. Mau tidur biar besok bisa berjaga lagi dengan tubuh yang fit" Dokter Bagas bangkit dan pergi meninggalkan Alba berdua saja dengan Adam.
"Kamu sakit atau laper sih? Makannya lahap banget" Alba berucap sembari menaruh nampan di atas nakas lalu memberikan air putih dan obat antibiotiknya ke Adam.
Adam mengulas senyum lebar sembari menerima air putih dan obat antibiotik. Dengan segera Adam meminumnya.
"Sekarang tidurlah! Aku akan menjagamu" Alba berkata sembari merapikan selimutnya Adam.
Adam menyentuh lengannya Alba lalu menggerakkan bibirnya, "Kau tidur di mana? tinggalkan saja aku!"
Alba menatap lekat bibirnya Adam untuk bisa mencerna bibirnya Adam yang bergerak-gerak tanpa adanya suara lalu ia tersenyum saat ia tahu apa yang Adam tanyakan. Kemudian ia berkata, "Aku akan pergi setelah kamu tidur dan tidak demam lagi. Makanya buruan tidur!"
Adam lalu memejamkan kedua matanya dengan senyum bahagia di wajahnya. Dia merasa bahagia ada yang memperhatikan dan menjaganya di saat ia sakit.