I Love You, Adam

I Love You, Adam
Obsesi Nindya



Keesokan harinya, di jam istirahat pertama, Bu Nindya, guru Matematika sekaligus guru wali kelasnya Alba, membagikan hasil ulangan Matematika lalu melangkah keluar dari dalam kelas.


Alba memekik kegirangan mendapat nilai seratus di ulangan Matematikanya. Alba menoleh ke Adam dengan senyum lebar lalu memeluk Adam begitu saja dengan polosnya sambil mengucapkan kata terima kasih. Theo dan Ayu yang duduk di bangku depannya Alba dan Adam menoleh ke belakang dan berkata bersamaan, "Selamat, ya. Kalian berdua dapat nilai seratus"


Alba melepaskan pelukannya dengan santainya dan tidak memperhatikan kalau Adam masih terlihat kaget dan masih melongo setelah merasakan pelukan hangat dadakan dari Alba. Lalu Alba bangkit, melangkah maju ke depan untuk memeluk Ayu dan saat ia hendak memeluk Theo, Adam yang duduk di belakang bangkunya Theo langsung bangkit dan menarik kerah seragamnya Theo ke belakang agar Theo jauh dari jangkauannya Alba.


Alba dan Theo menoleh ke Adam dengan heran.


"Kalian cowok dan cewek. Nggak baik berpelukan. Dan kau!" Adam menunjuk Alba, "Jangan dibiasakan memeluk cowok sembarangan!"


"Kenapa?" tanya Alba dengan polosnya.


"Iya, kenapa?" tanya Theo.


"Itu berbahaya" sahu Adam sambil menarik pergelangan tangannya Alba melangkah keluar dari dalam kelas untuk meredakan debaran jantungnya.


Adam melangkah menuju ke toilet dengan bergumam lirih, "Bisa-bisanya dia main peluk dengan santainya. Nggak paham apa kalau hati aku jadi nggak karu-karuan kayak gini? Dasar cewek barbar!"


Adam tersentak kaget saat lengannya ditarik oleh seseorang dan di bawah ke dalam aula musik. Lalu aula musik itu dikunci. Adam menoleh dan langsung berteriak kesal, "Kena kau menyeretku kemari?"


"Kau harus bertanggung jawab Adam. Aku tidak bisa tidur nyenyak selama ini. Aku terus terbayang-bayang wajah kamu, perhatian kami selama ini, kebersamaan kita selama ini dan ciuman kita. Apa kau ......."


"Semua itu palsu. Aku hanya ingin menjebakmu agar Papa menendangmu dari sisinya tapi, sekarang aku berubah pikiran" Adam berkata dengan ekspresi santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragam abu-abunya.


"Apa maksudmu dengan berubah pikiran? Kau tidak akan memberikan rekaman ciuman kita ke Papa kamu, kan? Dan kita akan berpacaran mulai sekarang? Aku akan putus dengan Apa kamu, Adam. Aku memilih kamu dan ......."


"Hahahahaha" Adam tertawa terbahak-bahak.


Nindya menatap Adam dengan heran, "Kenapa kau tertawa?"


"Aku tidak tertarik dengan wanita murahan seperti kamu. Kamu juga lebih tua dariku. Terus, kalau kau putus dengan Papa dan berpacaran denganku, masa depan kita akan seperti apa? Kau sudah pikirkan itu?" Adam lalu tersenyum tipis menanggapi kebodohannya Nindya.


"Aku tidak peduli. Kita jalani saja dulu. Jika kita saling mencintai, kita akan menemuka. masa depan kita dan......."


"Minggir! Aku sudah katakan berulangkali, aku tidak tertarik dengan wanita murahan macam kamu. Kau menggoda banyak pria. Papaku, aku dan Dokter Bagas. Lalu berapa banyak lagi pria di luar sana yang telah kau goda?" Adam kembali mengulas senyum tipis di wajah tampannya.


"Aku tidak seperti itu. Baru kali ini aku merasakan jatuh cinta pada seorang pria dan itu kau, Adam. Tolong! Jadikan aku kekasihmu. Aku akan putuskan pertunanganku dengan Papa kamu dan ........"


"Minggir! Atau aku akan berteriak minta tolong!" Adam melotot ke Nindya.


Nindya menitikkan air mata lalu melangkah minggir dari depan pintu.


Adam melangkah ke pintu, membuka kunci pintu itu dan tersentak kaget saat Nindya memeluk tubuhnya dari belakang. Adam menghela napas panjang dan berucap, "Menikahlah dengan Papaku dan bahagiakan dia!" Adam lalu mengurai gelungan tangan Nindya di atas perutnya dengan. paksa dan segera membuka pintu lalu berlari keluar meninggalkan Nindya begitu saja.


Nindya mengacak-acak rambutnya dan mengusap air mata yang berderai di wajah cantiknya dengan kasar lalu berteriak tanpa mengeluarkan suara di aula musik.


Adam masuk ke toilet dan membasuh wajahnya tampannya dengan air dingin berulangkali. Dia benar- benar merasa menyesal bertindak nekat menjebak Nindya tapi, nasi sudah terlanjur menjadi bubur dan ia harus mencari cara untuk bisa lepas dari lingkaran obsesinya Nindya.


Adam lalu kembali ke kelasnya dan ia celingukkan mencari sosok Alba, "Ke mana gadis bar-bar itu?"


"Alba ke kantin bersama dengan Ayu, Theo dan teman-teman yang lain" Sahut Ita teman sekelasnya Adam.


Adam duduk tanpa menghiraukan Ita. Adam memang tidak suka bersosialisasi. Ita hanya bisa mendengus kesal diabaikan oleh Adam lalu Ita kembali membaca buku pelajaran yang ada di depannya.


Saat bel istirahat di jam pertama selesai, Alba dan teman-temannya kembali ke kelas. Alba menoleh ke kanan dan menemukan Adam tidur di atas meja. Gadis manis itu tersenyum dan bergumam, "Tidur lagi dia"


"Dia emang gitu sejak TK dulu" sahut Theo.


Ayu menyahut, "Tidur terus tapi kok bisa ya nilainya sempurna terus di semua mata pelajaran?"


"Dia kalau malam suka baca buku kalau tidak bisa tidur makanya dia selangkah lebih maju dari kita bahkan mungkin lebih maju dari guru-guru kita" sahut Theo.


Alba dan Ayu terkekeh geli mendengar celotehannya Theo dan membuat Adam terbangun. Tampak bengong ia melihat wajah Ayu, Theo dan Alba satu per satu, "Kenapa kalian semua melihatku?"


"Nggak papa" Ayu, Theo dan Alba menjawab serentak lalu mengalihkan pandangan mereka dengan kompak ke arah papan tulis.


Adam mengerutkan keningnya dengan wajah kesal. Adam lalu mencucukan ujung jari telunjuknya ke bahunya Alba, "Kau pulang sekolah langsung pulang?"


Alba menganggukkan kepalanya dan tetap memandang papan tulis karena guru Kimia tengah mengajar dan guru itu memiliki julukan 'guru killer' jadi, Alba tidak berani bergerak sedikit pun.


Adam mencucukan ujung jari telunjuknya lagi ke bahunya Alba, "Aku boleh ke rumahmu?"


Alba menganggukkan kembali kepalanya dua kali dengan pelan.


Tiba-tiba kapur tulis berukuran tiga centimeter, jatuh tepat di depannya Adam tepat di saat ia hendak mencucukan lagi jari telunjuknya ke bahunya Alba. Adam langsung memandang ke depan dan seketika itu pula ia mendapatkan semprotan kesal dari guru Kimianya, "Adam! Kamu udah merasa hebat ya? Berani benar kamu mengabaikan Bapak? Maju ke depan dan kerjakan soal di papan tulis, sekarang!"


Adam mengusap wajah tampannya untuk menghilangkan kantuk yang masih tersisa di dirinya lalu bangkit dan melangkah maju ke depan. Dia menoleh ke guru Kimianya, "Semuanya, Pak?"


"Iya. Kerjakan kelima soal itu! Kalau salah, kau harus keluar dan berdiri di depan kelas dan setelah itu, ngak usah ikut pelajaran Bapak selama sebulan sekalian" Guru Kimia yang memang tampak garang karena memiliki kumis tebal dan botak itu mendengus kesal ke Adam.


Adam lalu mengalihkan pandangannya ke papan tulis dan mengerjakan kelima soal kimia di papan tulis dengan cepat, baik dan benar.


Guru Kimia tersebut terpaksa berkata, "Oke! Kali ini Bapak memaafkanmu. Kau boleh ikuti pelajaran Bapak lagi dan kembalilah ke tempat duduk kamu! Tapi, jangan berisik lagi!"


Adam menganggukkan kepalanya lalu berputar badan dan kembali ke bangkunya.


Dan sampai jam pelajaran Kimia berakhir, Adam terpaksa menatap ke papan tulis.


Jam pulang sekolah akhirnya tiba. Adam menarik Alba ke parkiran motor. Alba terpaksa mengikuti Adam dan semapainya di depan motornya Adam ia bertanya, "Sepedaku gimana dong?"


"Biar di sekolahan. Aman kan kalau di sini sehari aja. Aku akan ajak kamu suatu tempat sebelum kita pulang ke rumahmu"


"Kenapa pulangnya ke rumahku? Apa kau kost di rumahku sekarang?" Alba menautkan alisnya dengan heran.


"Udah naik aja dan pakai jaketku untuk menutupi rok kamu!"


Alba memakai jaketnya Adam untuk menutupi roknya setelah ia berhasil melompat naik ke atas motornya Adam. Dia lalu berkata, "Aku udah siap"


"Pegangan yang benar" Adam menarik kedua tangan kanannya Alab untuk ia lingkarkan di perutnya. Alba diam dan menurut saja. Adam tersenyum senang lalu melajukan motornya.


"Kau akan ajak aku ke mana?" tanya Alba.


"Rahasia!" Adam berteriak di tengah deru debu jalan raya yang ia lalui