
Dokter Felix kemudian menelepon Bella Fastro yang tengah menempuh studi S2-nya di Singapura. Bell Fastro memilih pergi melanjutkan studi S2-nya di Singapura yang sudah ia jalani selama satu tahun di dalam negeri. Bella memilih pergi ke luar negeri untuk bisa menenggelamkan dirinya di dalam buku-buku berhalaman tebal kedokteran dan berharap bisa melupakan Adam Baron. Dan bagi Bella Fastro, Singapura adalah pilihan terbaik untuk melakukan hal itu.
"Halo, Bella?"
"Iya Dok. Saya Bella Fastro. Ada apa Dokter menghubungi saya?"
"Apakah kamu bisa balik sebentar untuk membantuku mengobservasi pasienku. Satu Minggu aja. Aku butuh kecerdasan kamu dalam hal ini karena, penyakit pasienku sangat pas dengan studi yang kamu ambil saat ini. Kamu handal di dalam melakukan intervensi bedah otak"
"Oke. Besok saya akan ambil cuti dan sampai di Indonesia lusa" Sahut Bella Fastro.
"Aku menunggumu"
"Saya sangat tersanjung bisa Anda ajak masuk ke dalam tim Anda, Dok" Sahut Bella Fastro.
"Sama-sama. Aku tunggu kedatanganmu" Klik! Dokter Felix mematikan sambungan teleponnya dengan Bella Fastro. Dokter yang memutuskan tidak akan menikah lagi sejak ditinggal pergi oleh Istrinya karena penyakit yang sama seperti yang dialami oleh Mamanya Adam Baron dan Adam Baron itu bergumam, "Aku sudah siapkan tim medis yang terbaik untuk kamu, Dam. Maka kau harus nurut dan berjuang untuk bertahan hidup"
Aba terbangun di pagi hari dengan rasa sakit di beberapa bagian tubuh yang belum pernah ia sadari atau pikirkan sebelumnya. Semua rasa sakit yang menempel di tubuhnya di pagi hari itu, terasa asing.
Alba menatap langit-langit kamar yang berwarna biru muda dengan mengingat-ingat tentang masa apa yang sudah ia alami semalam dan bertanya-tanya bagaimana perkembangannya di masa depan. Ia menoleh dan menemukan Adam tengah memperhatikannya.
Adam memandangi wajah Alba tanpa henti dan berkata, "Selamat pagi cantik. Kau bahkan terlihat sangat cantik saat bangun di pagi hari. Aku laki-laki paling beruntung di dunia ini, bisa melihat wajah secantik Bidadari di pagi hari ini"
Alba terkejut dan kata tanya yang keluar dari mulutnya adalah, "Kau tidak tidur?"
"Tidak" Adam berucap sambil menggerakkan jemarinya dan jemari itu berhenti di atas gundukan kenyal. Tatapan Adam lalu beralih ke bibirnya Alba dan ia bertanya, "Bagaimana perasaanmu? Apa yang kau rasakan saat ini?"
Alba ingin balas menyerang Adam atas serangan brutal yang Adam lakukan padanya semalam, namun kenyataan yang ada menahannya untuk melakukan hal itu. "Pegal semua badanku. Dan perih"
Alba menyibak selimut dan mengangkat sedikit pantatnya, ia melihat bercak darah di atas seprei.
Adam memperhatikannya dan langsung berucap, "Aku akan bertanggung jawab. Kita akan mandi, sarapan, pergi untuk beli cincin, dan menikah di Gereja. Pendeta kenalannya Satya Wicaksana akan memberkati janji suci pernikahan kita di depan altar Gereja dan Pambudi akan mendaftarkan pernikahan kita di kantor pencatatan sipil"
Alba menoleh ke Adam, lalu tersenyum, "Aku butuh mandi saat ini, tapi takut bangun. Perih banget rasanya nih dan aneh"
Adam langsung bangun dan membopong Alba menuju ke kamar mandi.
Adam menurunkan tubuh Alba di bawah pancuran dan menyalakan pancuran itu di posisi air hangat. "Air hangat ini akan meredakan sakit dan pegal di tubuh kamu" Bisik Adam di telinganya Alba.
"Terima kasih. Sekarang kau bisa keluar, Dam" Alba berucap sembari mengusap rambutnya dengan shampoo.
Adam belum berpakaian dan berucap, "Aku sudah melangkah masuk ke sini, jadi harus melanjutkan aktivitasku, kan?"
"Apa yang mau kau lakukan?"
Adam membalik tubuh Alba sehingga punggung Alba menempel di dada bidangnya. Air hangat mengalir di gundukan kenyal dan membuat Alba melenguh.
Adam mengusapkan sabun di tubuh Alba sambil berbisik di telinganya Alba, "Setelah pengalaman pertama kita semalam, kita melakukan pengalaman pertama bagi kita lagi nih, mandi bareng"
Sentuhan sepasang tangan licin seperti sabun yang menyapu tubuhnya, membuat mata Alba sayu dan napasnya menjadi sesak karena gairah.
"Aku laki-laki paling bahagia di dunia ini karena, selalu menjadi yang pertama di hidup kamu, Ba" Adam berucap dengan erangan saat jari jemari tangan kanannya bermain-main lincah di lembah kenikmatan.
Adam lalu membalik tubuh Alba dan mendorong tubuh Alba dengan pelan sambil mengajak Alba berciuman. Saat punggung Alba menyentuh tembok kamar mandi, Adam langsung menggendong Alba dan melakukan kembali penyatuan. raga di sana.
Satu jam kemudian, setelah sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara itu kehabisan tenaga, Alba bersandar di tubuhnya Adam dan Adam menggendong Alba yang nempel di tubuhnya bak anak panda nempel di pohon bambu.
Adam menurunkan Alba di kamar ganti, membantu Alba memakai dress berkerah menutupi leher, karena leher Alba penuh dengan tanda kepemilikannya Adam. Lalu Adam memakai bajunya sendiri saat Alba melangkah keluar dari kamar ganti dan langsung menuju ke dapur.
Alba memasak omelet saja karena, ia tidak memiliki tenaga lebih untuk memasak lebih dari sekadar omelet. Alba bersyukur masih ada nasi di dalam alat penanak nasi elektrik.
Adam menyusul Alba dan langsung menarik Alba untuk duduk di atas pangkuannya.
Alba memekik kaget dan langsung berucap, "Jangan lagi, Dam! Aku sudah nggak kuat"
Adam langsung menggemakan tawanya di udara, "Apa yang kau pikirkan hah?! Aku hanya ingin memangku kamu seperti ini dan sarapan bareng. Aku juga sudah nggak punya tenaga lagi kok dan itu karena pesona kamu" Adam mencium punggungnya Alba dan menghirup wangi sabun di tubuhnya Alba.
Alba langsung menepuk tangannya Adam yang ada di atas perutnya sambil berucap, "Kamu yang harus bertanggung jawab atas lelah yang mendera kita saat ini"
Adam menggigit pelan cuping telinganya Alba, lalu berbisik di sana, "Aku pasti akan bertanggung jawab. Kita akan beli cincin dan melakukan pemberkatan pernikahan setelah sarapan"
"Kita nggak ke rumah Papa kamu dulu? Kalau Papa kamu tidak setuju, gimana?"
"Kita lakukan pemberkatan dulu karena, pendetanya hanya bisa melayani jam sepuluh. Setelah dari gereja, barulah kita ke rumah Papaku. Aku akan kenalkan Istriku yang cantik dan sangat aku cintai ini ke Papaku" Adam berucap sembari menerima suapan omelet dari Alba.
"Kita sepertinya butuh kopi. Aku akan buatkan kopi untuk kita" Adam mencium pipi Alba lalu mengangkat pinggul Alba untuk bangkit dari atas pangkuannya.
Adam lalu berdiri dan bergegas ke meja dapur untuk membuat kopi.
Alba lalu berjalan pelan karena titik sensitifnya masih terasa aneh untuk dibuat berjalan cepat dan Adam langsung bertanya, "Kau mau ke mana?"
"Memberi makan Baba. Baba kan akan kita tinggal lagi seharian"
Adam mengaduk cangkir kopi dan melhat kebersamaan Alba dan Baba dari arah dapur dengan senyum bahagia.