I Love You, Adam

I Love You, Adam
Bersiaplah!



Nindya menyambut kedatangan Adam dengan senyum semringah, "Kamu ke mana aja, Dam? Mama datang ke kantor kamu, bawakan makan siang kamu nggak ada. Di kampus juga nggak ada. Seharian ini kamu ke mana aja?" Nindya meraih tangannya Adam.


Adam menepis tangannya Nindya dan bertanya acuh tak acuh, "Kenapa kau mencariku? Dan untuk apa kamu setiap hari membawakan makan siang untukku?"


"Kau tahu alasannya" Sahut Nindya dengan wajah serius dan mulai bersedekap di depannya Adam.


Adam menghela napas panjang, "Maafkan kebodohanku di masa lalu karena telah menjebak kamu masuk dalam permainanku. Dan seharusnya kamu juga jangan kasih hati kamu ke aku setelah aku putuskan, kamu, aku terima menjadi pendampingnya Papa. Menjadi Mama tiriku"


"Aku bersedia menjadi pendamping Papa kamu karena, aku ingin berada dekat denganmu. Aku tidak bisa berhenti mencintaimu" Nindya mencoba meraih kembali tangannya Adam dan Adam Kembali menepis tangan mama tirinya itu dengan wajah geram.


"Kenapa kau selalu menolakku? Bukankah kau yang dulu menciumku? Kau yang telah membuatku jatuh cinta dan setelah itu kau terus menolakku. Dasar bocah gila! Kau sudah membuatku gila, Dam!"


"Jangan berteriak! Papa baru saja sembuh dari sakitnya. Kau mau Papaku sakit lagi?"


"Tapi........."


"Dengar! Aku lebih mementingkan Papaku daripada kamu. Papaku benar-benar mencintaimu jadi, belajarlah untuk mencintai Papaku di sisa umurnya ini dan berubahlah menjadi wanita yang lebih bijak dan beradab! Itu semua juga demi kebaikanmu sendiri, camkan itu!" Adam lalu melewati Nindya dan melangkah lebar menuju ke kamar papanya dan Nindya tidak memiliki keberanian untuk mengikuti langkahnya Adam.


Adam mengetuk pintu kamar papanya yang berada di lantai dua dan papanya menyahut dari dalam, "Masuk!"


Adam membuka pintu, menutupnya pelan, lalu melangkah mendekati ranjang papanya dan duduk di tepi ranjang itu dengan senyum penuh kasih sayang, "Papa benar-benar sudah merasa baikan?"


Papanya Adam yang tengah bersandar di ranjang sambil membaca buku, menutup bukunya, meraih tangan Adam untuk ia genggam lalu ia menepuk-nepuk punggung tangannya Adam sambil berkata, "Papa sangat sehat. Bahkan bisa kalau mau kamu ajak lomba lari, hahahaha"


Adam terkekeh geli lalu berkatalah ia, "Adam sangat bersyukur Papa berhasil berjuang melawan penyakit Papa dan Papa bisa kembali lagi ke dunia ini"


"Apa kamu sangat mencintai Papa kamu ini? Seorang Papa yang nggak pernah punya waktu untuk kamu, Dam?"


"Apa bicara apa? Tentu saja Adam sangat mencintai Papa. Bahkan Adam rela melakukan apa saja demi kebahagiaannya Papa"


Alex Baron menepuk-nepuk punggung putra tampannya dengan senyum semringah. Lalu ia berkata, "Papa beruntung memiliki Putra sebaik kamu. Kamu bisa mandiri, bertanggung jawab pada hidup kamu sendiri, padahal Papa jarang banget ada di samping kamu"


Adam menatap kedua manik biru langit papanya dengan wajah sendu dan sorot mata meredup. Adam kemudian berkata, "Pa, maafkan Adam kalau dulu, Adam sering marah sama Papa. Adam sering melawan Papa. Itu Adam lakukan karena, Adam ingin menarik perhatiannya Papa"


"Papa tahu. Papa tidak pernah menyalahkan kamu. Papa yang salah kalau kamu sampai bersikap seperti itu. Maafkan Papa, ya?" Alex Baron menatap wajah putra tunggal tercintanya dengan mata berkaca-kaca.


Adam langsung merangkul papanya dan keluarlah isak tangis mereka. Kedua pasang manusia itu, anak dan papanya, saling melepaskan rasa sayang mereka satu dengan yang lainnya di dalam isak tangis mereka.


Adam lalu menarik diri dari pelukan papanya dan mengusap air mata di kedua pipi papanya sambil berucap, "Alex Baron yang gagah dan tampan, tidak pantas untuk mengeluarkan air mata"


Alex Baron terkekeh geli lalu ia mengusap kedua pipinya Adam sambil berkata, "Idola kamu Hawa di luar sana, Adam Baron, tidak pantas untuk mengeluarkan derai air mata"


Kedua insan manusia itu lalu tergelak geli secara bersamaan.


"Pa, ada yang ingin Adam minta dari Papa"


"Apa aja, Pa? Papa janji?" Adam menatap kedua manik biru papanya dengan sorot mata berbinar riang.


"Hmm. Katakanlah apa yang kau pinta! Kau juga jarang meminta sesuatu dari Papa jadi, Papa rasa, kali ini Papa harus kabulkan apapun permintaan kamu"


Adam tersenyum dan mengusap pipi papanya, "Terima kasih, Pa. Emm, aku tidak ingin meminta sebuah barang. Aku hanya ingin memutuskan pertunanganku dengan Bella Fastro karena, aku tidak pernah mencintainya. Kalau aku teruskan pertunangan kami bukankah itu hanya berisi kebohongan dan tidak akan berbuah manis bagi kami berdua kalau kamu teruskan sampai ke pernikahan"


"Papa tahu kamu tidak pernah mencintai Bella. Papa juga tidak pernah memaksa kamu untuk bertunangan dengan Bella, kan? Papa cuma menyarankan ke kamu kalau Bella Fastro gadis yang baik dan cocok untuk kamu dan kamu bersedia bertunangan dengannya"


"Itu karena aku masih belum mendapatkan semua ingatanku. Aku cuma tahu kalau Bella selalu ada di sampingku saat aku sakit dan aku kira, Bella adalah pacarku" jawab Adam. "Aku melakukan kesalahan yang besar. Aku sadari itu, Pa. Jadi, aku rasa aku harus bertanggung jawab untuk memperbaiki semuanya"


"Kenapa baru sekarang kau katakan ke Papa?"


"Karena, kesehatan Papa tidak stabil selama ini. Aku takut kalau aku menyampaikan keinginanku ini, Papa akan shock dan kesehatan Papa akan semakin memburuk. Papa kan sangat menyayangi Bella"


"Iya kau benar. Papa sangat menyayangi Bella, tapi tentu saja Papa lebih menyayangi anak Papa yang sangat tampan dan hebat ini" Alex Baron tersenyum dan mengusap pipinya Adam.


"Lalu? Gimana, Pa?"


"Lakukan apa yang kau mau"


"Terima kasih, Pa" Adam lalu mencium kening papanya dan berucap, "Aku pamit dulu. Aku akan ke rumahnya Bella mumpung masih petang"


Alex Baron tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Sepeninggalnya Adam, Alex Baron menghela napas panjang dan bergumam, "Papa.ijinkan kamu memutuskan pertunangan kamu dengan Bella karena, Papa sudah merasakan sebuah pernikahan dengan cinta sepihak. Papa tahu kalau Nindya tidak pernah mencintai Papa. Nindya mencintaimu, tapi rasa cintaku yang sangat besar pada Nindya membuatku menjadi bodoh untuk terus mengabaikan obsesinya Nindya padamu, Dam.


Adam sampai di rumahnya Bella dan Bella langsung melompat memeluk Adam dengan pekik kegirangan, "Senangnya melihat tunanganku ke sini. Apa.kau merindukan aku, Dam? Karena, aku sangat merindukanmu sepanjang hari ini"


Adam tersenyum tipis sambil mendorong pelan kedua bahunya Bella agar ia bisa bebas dari pelukan eratnya Bella. Lalu Adam berkata, "Aku ingin bertemu dengan Papa Kamu. Ada?"


"Papa dan Mama belum pulang dari Jepang. Papa dan Mama pulangnya besok. Ada apa?"


"Kalau begitu, aku akan bilang ke Papa kamu besok aja. Tapi, aku harus bilang ke kamu sekarang" Gumam Adam lirih.


"Apa yang kau katakan, Dam? Aku tidak bisa mendengar gumaman kamu barusan"


Adam tersenyum tipis lalu berkata, "Aku ingin mengajakmu makan. Bersiaplah!"


Wajah Bella semakin semringah, "Tumben banget kamu ajak kamu makan? Biasanya kan selalu aku yang mengajakmu untuk pergi keluar. Serius, Dam?"


"Hmm. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan ke kamu. Bersiaplah! Aku tunggu di mobil, ya?"