
Selesai mereka berbincang bincang. Akhirnya seluruh keluarga besar Young bergegas pulang.
"Kami pulang dulu ya pak Chu Bae, lain kali kita bertemu lagi." Ucap pak Park Young berjabat tangan dengan Chu Bae.
"Baik, jangan lupa untuk pernikahan anak kita nanti." Tersenyum.
"Aman," ucapnya.
"Hati hati ya sayang, besok aku akan menghubungimu." Ucap Bae mengelus tangan Young Soon.
"Baiklah, kami pulang dulu," senyum terpaksa.
Merekapun langsung pulang kembali kerumahnya. Sesampainya.
"Apa kau bahagia datang ke rumah calon suamimu sayang?." Tanya ayahnya.
"Bahagia ayah." Jawab Young Soon.
"Masuklah ke dalam kamarmu dan cepatlah tidur, jika kelelahan." Ucap ayahnya.
"Baik ayahku, aku masuk dulu," mencium pipi ayahnya dan langsung naik keatas.
Setelah Young Soon masuk ke kamarnya. "Sayang, kau duduklah dulu. Ada yang mau aku bicarakan padamu." Ucap Min Soo.
"Apa yang ingin kau katakan." Langsung duduk disamping Min Soo istrinya.
"Jangan terlalu memanjakan Young Soon, nanti dia tergantung dirimu dan kau sudah tidak pernah memanjakan Min Hwa lagi. Kenapa begitu sayang." Ucap Min Soo.
"Maafkan aku sayang, kalau begitu. Ini kartu untuk kau Min Hwa anak ayah. Dan itu untuk persiapan hari ulang tahunmu juga." Langsung memberikan kartu tersebut kepada Min Hwa.
"Terima kasih banyak ayah, aku sayang ayah." Langsung mengambil kartu tersebut dan memeluknya.
"Sama sama nak." Tersenyum.
"Itu adalah kartu sisa dari Young Soon, tadi aku mengeceknya tinggal 40jt lagi. Biarkan untuk Min Hwa habiskan saja lah. Lagian masih banyak juga dan itu tinggal sisanya saja." Ucap batin Park Young.
"Kalau begitu kalian masuklah ke kamar kalian dan cepatlah tidur. Agar besok tidak terlambat bangun." Ucapnya.
"Baik ayah, aku masuk kekamar ku dulu." Ucap Min Hwa langsung masuk ke kamar dengan bahagia sambil memegang kartu tersebut.
Disisi lain. Di kamar Young Soon. "Aku harus menyiapkan strategi, untuk hari ulang tahun kakak tiriku nanti. Aku tidak akan membiarkanmu merendahkan ku lagi." Kesal Young Soon sambil memegang keras penanya.
Otomatis pena tersebut membengkok. "Eh, baru ingat kalau punya kekuatan. Astaga." Mengerutkan keningnya.
"Aku harus menahan emosiku, agar tidak membuat masalah yang lebih besar." Ucap batinnya.
"Setelah ulang tahun Min Hwa, 2 bulan sebelum hari pernikahanku dulu, aku mengintip kakak tiriku dan calon suamiku sedang memanas di sebuah hotel. Kali ini aku akan membuat kalian malu di hari pernikahanku. Hahahahah, aku sudah tidak sabar dengan hari itu. Bagaimana wajahnya nanti ya." Membayangkannya.
Tiba tiba ponselnya berdering. "Siapa lagi yang menghubungiku, pasti Eun Ju." Langsung mengangkatnya.
"Halo."
"Halo Young Soon ku sayang, kau belum tidur kah.?" Tanya Eun Ju.
"Belum, kalau aku udah tidur. Mana mungkin aku mengangkat teleponnya. Aneh." Jawab Young Soon.
"Jangan sensi dong."
"Ada apa meneleponku?." Tanya Young Soon sambil merapikan kukunya.
"Aku ada pekerjaan nih." Jawab Eun Ju.
"Pekerjaan apa emangnya?." Tanya balik Young Soon.
"Mall sedang membuka lowongan pekerjaan. Apa kau mau melamar." Jawabnya.
"Kalau aku bekerja di mall. Bisa bisa tuh barang, hancur semua." Ucap batin Young Soon.
"Halo, kenapa kau diam saja. Kau mau tidak?." Tanya Eun Ju.
"Eh, aku tidak mau.Itu tidak cocok denganku. Cari yang lain saja deh. Semua tidak cocok denganku tau." Jawabnya.
"Kenapa tidak cocok, lumayan tau. Kan biar ada kegiatan." Bingung Eun Ju dengannya.
"Sudahlah, aku mau tidur dulu. Bay sayang." Langsung mematikan ponselnya.
"Young Soon." Panggilnya.
"Dasar anak hewan, langsung dimatikan saja." Kesal sendiri.
"Fyuhhh, pekerjaan apa yang cocok dengan kekuatanku ini ya." Bingung Young Soon dengan dirinya sendiri.
"Aku akan memikirkannya besok dan aku mau tidur dulu." Mulai tertidur.
Keesokan paginya. Young Soon sudah siap mandi dan berpakaian seperti pria. Dengan pakaian serba hitam.
"Kehidupanku tidak perlu diwarnai, karena aku suka warna hitam. Aku cinta hitam.Cocok juga nih pakaian dan celana yang elegan." Ucapnya langsung turun kebawah untuk sarapan.
Sesampai meja makan. "Pagi yah." Sapa Young Soon langsung duduk disampingnya.
"Kau mau kemana nak, memakai pakaian seperti pria?." Tanya ibu tirinya mencari perhatian kepadanya.
"Tidak ada, aku hanya mau berjalan jalan saja." Jawabnya sambil memalingkan wajahnya.
"Kalau ibu bertanya kepadamu, kau harus menatap wajahnya. Jangan buang muka seperti itu, sangat tidak sopan tahu." Ucap Min Hwa.
"Ya, ya, ngomel aja." Ucap Young Soon.
"Sabarlah sayang, tidak boleh begitu kepada ibu dan kakakmu." Ucap ayahnya mengelus tangannya.
"Baiklah ayah, aku akan menurut."
"Kali ini kau boleh melawan, Young Soon. Tapi kedepannya aku tidak akan membuatmu melawan dan merendahkan ibuku lagi. Karena aku sudah mendapatkan calon suamimu itu dan dia lebih mencintaiku daripada dirimu." Ucap batin Min Hwa tersenyum tipis.
Young Soon meliriknya. "Ck, aku tahu apa pikiran mu itu. Dasar." Melanjutkan makanannya.
Selesai Young Soon makan. "Aku sudah selesai dan aku langsung pergi ya ayah." Ucapnya langsung berdiri.
"Hati hati sayang," ucap ayahnya.
"Jangan telat pulang." Ucap ibu tirinya juga.
"Baiklah, aku pergi dulu." Langsung pergi meninggalkan mereka.
Young Soon pun langsung mengendarai motor mahalnya .Di perjalanan.
"Mending aku kerumah Eun Ju aja deh, mau mengajaknya jalan jalan sekalian." Langsung mengarah kerumah Eun Ju.
"Lihat itu, lihat. Ada wanita menaiki motor mahal." Ucap pria yang ada di pinggir jalan dan terus memandangi Young Soon yang lewat.
Young hanya biasa saja dan fokus untuk menyetir.
Sesampai rumah Eun Ju.
Membuka helmnya. "Apa dia ada di rumah?." Tanyanya kepada diri sendiri.
Mengetuk pintu. "Tok tok tok." Bunyi ketukan pintu tersebut
Terbuka pintu. "Siapa." Langsung menatapnya.
"Eh, Young Soon. Ada apa kemari, tumben banget dan itu motor siapa?." Tanyanya langsung kearah motor tersebut.
"Aku hanya mau mampir ke rumah mu saja dan itu adalah motor baruku. Kenapa emangnya?." Jawabnya sekaligus bertanya.
"Tidak apa apa, untung saja aku pernah mengajarimu mengendarai motor. Jadi kau bisa deh." Ucap Eun Ju sombong.
"Iya, iya, Eun Ju yang mengajariku naik motor keren ini. Kalau kau tidak mengajariku, aku tidak akan bisa menaiki motor besar ini." Langsung memeluknya.
"Masuklah, kita mengobrol di dalam." Mempersilahkan Young Soon masuk.
"Aku tidak akan segan segan ya." Langsung masuk ke dalam.
Di dalam Young Soon langsung duduk disofa dan meletakkan helmnya di meja. "Aku akan membuatkan kau minuman. Kau tunggulah disini." Ucap Eun Ju langsung kedapur.
"Baiklah, aku akan menonton televisi." Langsung menyalakan televisi.
Langsung menyalakan televisi. "Pemirsa telah ditemukan mayat gadis disebuah semak semak dan kabarnya, wanita ini meninggal diakibatkan karena kekerasan dan keperawanannya diambil. Pelaku sudah ditemukan tadi malam dan sudah berada dipenjara." Ucap reporter.
"Astaga, kasihan banget tu cewek. Kalau aku jadi dia, udah aku matikan aja tu pria gila." Kesal sendiri.
"Kalau bahas tentang itu, aku jadi teringat masa aku belum hidup kembali. Aku sangat disiksa, bahkan keperawananku juga diambil. Aku tidak sanggup membayangkannya." Ucap batinnya sambil mengerutkan keningnya.
Tiba tiba Eun Ju datang. "Minuman sudah datang." Langsung meletakkannya di atas meja.
"Terima kasih banyak sayang." Langsung mengambilnya dan meminumnya.
"Kau menonton apa, kalau dilihat dari wajahmu ini, seperti orang yang sedang marah?." Tanya Eun Ju langsung duduk disampingnya.
"Ini, ada berita tentang wanita yang meninggal karena kekerasan dan keperawanannya diambil." Jawab Young Soon.
"Aku sangat kesal dengan mereka, apa sih yang diinginkan mereka, sampai harus menganggu wanita." Ucap Young Soon.
"Benar juga sih yang kau katakan itu Young Soon. Kadang kita mau marah, tapi kita tidak bisa melakukan apapun." Ucap Eun Ju ikut meminum minumannya.
"Omong omong, kenapa kau datang kemari?." Tanya Eun Ju menatapnya.
"Aku bosan di rumah terus, dan aku mau cerita sesuatu."
"Apa itu, ceritain dong." Penasaran Eun Ju.
"Kemarin keluargaku dan aku termasuknya. Kami datang ke rumah Keluarga besar Bae." Jawab Young Soon sambil melipat kedua tangannya.
"Kenapa kau datang ke rumah keluarga besar calon suamimu itu?." Tanya Eun Ju.
"Kami