
Saat mereka sedang berbincang. Tiba tiba ada yang masuk, dan di adalah Davien.
"Eh, Davien. Kau sudah membawa barangku. Letakkan saja diatas meja." Ucap Young Soon kepadanya.
"Baiklah. Salam pak." Jawabnya sambil menundukkan badannya kepada tuan Barnes.
"Salam." Jawabnya.
"Saya permisi dulu ya, karena masih ada pekerjaan lainnya." Ucap tuan Barnes langsung pergi ke belakang rumah.
"Aku melihat ada darah yang menempel di sela pakaian bahunya. Mungkin dia sedang bekerja, mengambil jantung manusia. Pasti di rumah ini, ada ruang bawah tanah atau yang lainnya." Ucap batin Young Soon kembali duduk di sofa.
"Kau sedang mengobrol apa dengan ayah Erika?." Tanya Devian sambil mengerjakan tugas.
"Bukan urusan mu sayang. Kerjakan saja tugas mu itu, aku tidak mau mengenakannya. Karena aku tidak sepintar diri mu." Jawabnya sambil membalikkan bola matanya.
"Kenapa kau memanggilku dengan sayang. Jangan katakan itu lagi." Salting Devian sampai pipinya memerah.
"Terserah mu saja deh." Jawab Young Soon memainkan ponselnya.
"Aku harus mencari soal pak Barnes. Karena ada mungkin tempat bekerja nya ada disekitar sini. Apa mungkin ada di ruang bawah tanah. Aku harus mencari tahu, nanti malam. Karena, dia akan bekerja saat malam, dan disitulah aku harus menyiapkan semua barang barang dan yang lainnya." Ucap batinnya fokus.
"Aku harus mampir ke toko senjata tajam. Dan aku tidak boleh gegabah dengan apapun." Ucap batinnya kembali.
"Young Soon, bantulah aku dulu. Ini terlalu banyak tahu." Ucap Devian kepadanya dari tadi, tapi Young Soon tidak mendengarkannya.
"Hei Young Soon." Ucapnya menyadarkannya.
"Eh, iya. Apa yang kau katakan tadi?." Tanyanya.
"Bantu aku mengerjakan pekerjaan ini. Karena aku sedikit bingung dengan ini." Jawab Devian.
"Ya deh, aku bantu. Sini." Ucapnya langsung mengambil buku lainnya dan mulai mengerjakannya.
Setelah beberapa menit. Tugasnya pun selesai. "Siap juga akhirnya. Malas banget aku mengerjakan tugas si sampah ini." Kesal Young Soon.
"Kenapa kau mengatakan hal itu. Kalau sampai mereka tahu, bagaimana." Ucap Devian.
"Dia dimana. Dia kan tidak ada, dasar bodoh." Mengetuk dahi Devian dan langsung berdiri.
"Yuk pulang. Tugas juga selesai." Ucapnya langsung menyandang kembali tasnya.
"Baik, baik." Jawabnya langsung menurut.
"Tunggu." Ucap pak Barnes menahannya.
"Iya pak." Langsung berbalik badan dan menatap wajah pak Barnes.
"Bisakah nak Young Soon datang kemari nanti malam. Saya mau mengajak anda makan malam, bersama dengan anak saya. Karena kamu adalah anak baru di sekolah anak saya. Apa kamu bisa datang?." Tanya pak Barnes.
"Bisa banget pak. Saya akan datang di acara makan malam nanti. Saya permisi pak." Ucapnya langsung memberi salam keada pak Barnes dan Devian ikut memberi salam.
"Terima kasih banyak, kalian bisa pulang sekarang." Jawab pak Barnes.
Young Soon dan Devian langsung keluar dari rumah mereka. Di luar rumah. "Pakai helm mu." Ucap Young Soon langsung memberikan helm tersebut kepada Devian.
"Jangan ngebut ngebut dong. Bisa bisa aku mual lagi nanti." Ucap Devian mengambil helm yang diberikan Young Soon.
"Kalau mau ga ngebut. Naik beat aja sana. Haahhaha. Sudahlah, cepat naik." Ucap Young Soon tertawa dan langsung naik ke motornya.
"Baiklah, baiklah. Tapi jangan terlalu ngebut ya." Ucapnya ikutan naik ke jok motor Young Soon.
"Pegangan, dan jangan malu malu, dasar bodoh. Kita ini teman, bukan sepasang kekasih. Ngapain malu." Ucapnya.
"Iya," Jawabnya pasrah langsung memeluk pinggang Young Soon.
Dan Young Soon langsung menggas motornya, dan mengantarkan Devian pulang.
Di perjalanan. "Tunjukkan dimana rumah mu. Akan aku antarkan." Ucapnya.
"Lurus saja dan nanti belok, di dekat supermarket." Jawabnya langsung menunjukkan jalan tersebut.
Sesampai rumah Davien. "Lumayan juga rumah mu. Lain kali, akan aku ajak ke rumahku. Bagaimana." Ucapnya sambil menaikkan alisnya.
"Baiklah. Dan hati hatilah." Ucapnya langsung masuk kedalam rumahnya.
Young Soon pun langsung menuju toko senjata yang tersembunyi. Sesampainya, ia pun langsung masuk kedalam dengan melihat sekitar.
Didalam. "Kakak mau cari apa disini?." Tanya karyawan pria yang menjual senjata tersebut.
Young Soon pun langsung melihat senjata senjata yang sedang dipajang. "Bagus juga pistol ini. Omong omong, berapa harga ini kak?." Tanyanya sambil melihat pistol tersebut.
"Ini adalah pistol terbaik di toko kita kak. Pistol ini, bisa menembus memecahkan kaca yang berlapis hingga 100 lapis. Dan kekuatannya sangat bagus.
"Ini berkisaran diharga 5 JT untuk satu pistolnya dan sudah komplit dengan isinya kak." Jawab karyawan tersebut menjelaskannya secara detail.
"Saya ambil ini, dan saya beli anak pistolnya juga. Dan saya ambil pistol ini 2." Ucap Young Soon langsung mengeluarkan kartunya.
"Baik kak, ditunggu." Langsung membungkus pistol tersebut ketempat yang baik dan tertutup.
"Ini barang anda kak. Terima kasih banyak, dan semoga suka dengan barang kita." Langsung memberikan barang tersebut kepada Young Soon, dan langsung mengembalikan kartu tersebut.
"Sama sama.
Young Soon pun langsung menggas motornya dan kembali ke rumahnya. Sesampai rumahnya, ia langsung turun dari motornya dan membuka helmnya. Ia pun langsung masuk kedalam rumah.
"Malam." Ucapnya didalam.
Ternyata didalam tidak ada siapapun. "Eh, kenapa tidak ada siapa siapa. Dimana Min Hwa dan ibu tiri." Tanyanya dengan dirinya sendiri.
"Bi," Panggilnya.
"Iya non. Ada apa?." Tanya bibi langsung menghampirinya.
"Dimana yang lainnya?." Tanyanya.
"Kalau ayah non, sedang ada di ruang kerjanya. Tapi kalau nona Min Hwa dan nyonya Min Soo gak tahu dimana non." Jawabnya.
"Baiklah bi. Terima kasih banyak. Oh ya bi, buatkan saya susu hangat, dan antarkan ke kamar saya ya bi." Ucapnya langsung pergi ke ruang kerja ayahnya.
"Baik non." Jawabnya.
Young Soon pun langsung masuk kedalam ruang kerja ayahnya. "Halo ayah, ayah sedang apa?." Tanyanya langsung duduk di sofa.
"Halo juga sayang. Baru pulang?." Tanya balik ayahnya sedang mengerjakan pekerjaannya.
"Iya ayah. Omong omong dimana Min Hwa dan ibu?." Tanyanya.
"Mereka sedang pergi ke acara ibu mu sayang. Katanya ada hal penting. Jadi mereka bersama kesana deh." Jawab ayahnya.
"Ouh, baiklah." Jawabnya.
"Bagaimana dengan pekerjaan mu sayang. Katanya waktu itu kamu pernah bekerja di suatu perusahaan. Bagaimana?." Tanya ayahnya.
"Mati aku, aku sampai melupakannya. Bagaimana ini." Ucap batinnya.
"Ehm, soal itu ayah. Sebenarnya aku sudah lama resign dari tempat itu." Jawabnya langsung mengubah ekspresinya.
"Kenapa kamu resign?." Tanya ayahnya langsung menatap wajahnya.
"Masa ayah, disana banyak yang membicarakanku, dan terus mengejekku. Karena aku tidak betah, jadinya aku keluar saja deh." Jawabnya sambil melipat kedua tangannya.
"Namanya juga dunia bisnis sayang. Semua harus kita terima, agar kita bisa menjadi manager, maupun dikenal oleh banyak orang." Ucap ayahnya.
"Iya deh ayah. Tapi aku tidak suka dengan pekerjaan itu. Lebih baik aku keluar dari sana, daripada aku harus menangis karena sakit hati.Aku tidak suka tangisan ayah. Ayah tahu itu kan."
"Kalau begitu, aku masuk ke kamarku dulu ayah. Selamat malam ayahku sayang." Ucapnya langsung masuk kedalam kamarnya.
Saat di dalam kamar. Tiba tiba ada yang mengetuk kembali kamarnya, dan dia adalah,