Come Back To Life And Have Power

Come Back To Life And Have Power
Episode 41: Jus Racun



Saat Young Soon mau membuka ponselnya. Tiba tiba ada yang mengetuk pintunya, dan dia adalah bibi rumahnya.


"Non, ini susu hangat anda." Ucap bibi rumah dari depan kamarnya.


"Iya bi." Langsung membuka pintu kamarnya.


"Ini non, susu hangat anda." Langsung memberikannya kepada Young Soon.


"Terima kasih banyak bi." Ucapnya langsung mengambil susu hangat tersebut.


"Sama sama non, kalau begitu bibi duluan." Langsung turun kebawah, dan Young Soon langsung masuk kembali ke kamarnya, dan tidak lupa untuk menutup pintu kamarnya.


Di dalam kamarnya, ia langsung duduk kembali di kasurnya sambil meminum langsung susu hangatnya, dan ia kembali membuka ponselnya, dan melihat video kamera yang sudah ia letakkan di rumah tersembunyi Erika.


"Hahahahah, anakku sudah memakan daging ibunya sendiri. Tentu saja ia suka, namanya daging ibunya sendiri. Hahahh." Ucap yang tidak lain lagi ialah pak Barnes sedang duduk di ruang tamu, tepat di depan kamera mini tersebut.


"Kan sudah ku bilang, kalau itu benar benar daging istrinya sendiri. Huek. Menjijikkan sekali. Untung saja, aku tidak memakan sup daging itu." Ucapnya hampir mual dengan ucapan dari pak Barnes.


"Sebentar lagi, target selanjutnya adalah teman Erika, yaitu Jova. Dia cukup culun, dan aku bisa mengambil daging nya."Ucap pak Barnes.


"What the ****. Ternyata target selanjutnya adalah aku. Hahahahah, karena aku sudah tahu tentang misinya, jadi aku bisa menyusun rencananya." Ucap batin Young Soon kembali minum susu hangatnya.


Young Soon pun melihatnya dengan serius dan fokus. "Besok aku akan mengajaknya untuk mengerjakan kembali tugas Erika, dan aku akan memberinya jus, yang sudah aku berikan obat tidur. Dengan begitu, aku langsung menyuntikkannya obat tidur kembali, dan aku langsung bisa mengambil jantungnya.


"Dan aku akan langsung menjualnya ke Luar Negeri. Dan aku jadi kaya kembali. Hahahahah." Ucapnya tertawa puas.


"Astaga, dia mencoba memberikanku obat tidur. Dia tidak tahu, kalau aku tidak mempan dengan obat seperti itu. Berarti besok, aku harus berpura pura pingsan, agar dia percaya, dan aku bisa masuk ke ruangan tersembunyi nya. Dan besok aku harus kembali ke toko kamera, untuk membeli kamera mini kembali, dan perekam suara mini." Ucapnya sudah menyusun rencana.


"Sebentar lagi, riwayat mu akan tamat pak Barnes. Karena masih ada aku disini." Ucap batinnya tersenyum tipis dan langsung menghabiskan susu hangatnya dan menutup ponselnya, untuk bergegas tidur.


Keesokan paginya. Dimana Young Soon sudah siap sarapan, dan langsung berangkat ke universitas.


Sesampai universitas. Ia pun langsung mengenakan kacamatanya, dan langsung masuk kedalam kelas. Didalam, sudah ada Devian. "Pagi Devian." Sapanya langsung duduk di sampingnya.


"Pagi juga Jova. Bagaimana dengan makan malam mu kemarin?." Tanya Devian menatapnya.


"Ya begitulah. Seperti makan biasanya juga. Jangan banyak tanya, dan jangan terus menatapku seperti itu." Jawab Young Soon sambil menyangga tangannya di dagunya.


Tiba tiba Erika masuk bersama teman temannya. Dan mereka langsung menghampiri meja Young Soon. "Hei anak baru.Apa kau sudah menyelesaikan tugas yang aku perintahkan?." Tanyanya.


"Lihat saja di buku mu. Kan sudah aku selesaikan, dan jangan banyak tanya. Aku lagi males berbicara dengan siapapun." Jawabnya tidak mau menatap wajah Erika.


Erika langsung mencengkram pipi Young soon, dan Young Soon langsung menatap wajah Erika. "Kenapa kau mencengkram pipi ku?." Tanyanya.


"Pakai nanya lagi. Jelas jelas kamu yang mencari gara gara denganku. Pakai nanya lagi." Jawab Erika mempelototinya.


Young Soon langsung berdiri dan menatapnya kembali dengan tatapan tajam. "Apa yang kau bilang tadi. Aku tidak mendengarkannya, coba katakan kembali." Tanyanya langsung mencekik leher Erika, dan sontak semua teman Erika langsung ketakutan.


"Eh, lepaskan. Argh, sa, sakit." Ucapnya kesakitan.


"Sudahlah Jova, jangan mengganggunya. Dia itu anak dari orang terkaya di kota ini. Jangan mencoba mengusiknya." Ucap Devian takut dan mencoba melerai Young Soon.


"Diam kau Devian." Kembali mencengkram leher Erika.


"Hei kalian, tutup pintu kelas." Ucapnya memerintahkannya kepada teman Erika.


"Baik, baik." Ketakutan dan langsung menutup pintu kelas tersebut.


Pintu kelas pun langsung ditutup, dan semua langsung menatap ke arah Young Soon. "Lepaskan tangan mu ini, atau aku akan langsung melaporkannya kepada papaku. Papaku adalah orang terpandang di kota ini.Jangan macam macam luh." Ucap Erika kesakitan.


Young Soon langsung mendekat ke wajahnya. "Omaygat aku takut. Arghh, bacot. Aku gak takut dengan papa mu yang sok kaya itu. Dan kamu mau melaporkannya kepada papa mu. Dasar pengadu." Ucap Young Soon berpura pura ketakutan.


Tiba tiba ada yang menarik rambut Young Soon. Sontak Young Soon langsung menatap ke arah orang tersebut, dan ia adalah teman pria Erika.


Young Soon langsung memukul bagian perut pria tersebut dengan kakinya. "Aduh." Kesakitan teman pria Erika.


"Dasar bodoh." Langsung merapikan rambutnya.


Young Soon langsung menjatuhkan Erika ke lantai dan di atasnya sudah ada Young Soon yang menatapnya, dan masih terus menatapnya dengan tatapan tajam.


"Lepaskan cekikan mu ini. Akan aku katakan kepada papa ku nanti. Dan kamu tidak akan di beri ampun olehnya." Ucap Erika mengancamnya.


"Dasar pengadu." Ucapnya langsung berbisik ke telinga Erika.


Young Soon langsung mengambil pulpennya, yang ternyata di atas pulpen tersebut ada pisau kecil. Dan ia langsung menancapkannya tepat di dekat mata Erika.


Sontak Erika ketakutan dan gemetaran. "Kenapa kau mempunyai senjata tajam. Jangan beraninya kamu." Ucap Erika ketakutan sampai seluruh tubuhnya gemetaran.


"Kamu mulai gemetaran nya. Wah, dimana wajah mu yang sok tadi." Ucap Young Soon tersenyum kepadanya.


"Dan kalian, kalian kemarilah." Ucapnya memanggil teman teman Erika, yang sudah bersengkongkol untuk membully Devian.


Teman teman Erika pun langsung berdiri di samping Erika. Dan ikut ketakutan, sampai menundukkan kepalanya.


Young Soon langsung mengambil sapu, dan memakai batang sapu tersebut. "Apa kalian membully Devian. Katakan." Ucapnya memukul samping Erika dengan batang sapu tersebut.


"Eh, kami tidak ada melakukannya. Ka, kami tidak ada melakukannya kok." Jawab Erika dengan gemetaran.


"Kalian, apa kalian melakukannya. Katakan!." Tegasnya kembali mempelototinya mereka.


Sebelum itu, Young Soon sudah merekam perekam suara, sebelum masuk ke Universitas tadi.


"Apa kalian masih tidak mau mengatakannya. Sini kau." Langsung menarik teman pria Erika.


"Siapa nama mu?." Tanyanya langsung menatapnya dengan tajam.


"Nama saya Fane. Ada apa?." Tanyanya sambil menundukkan kepalanya.


"Katakan, atau aku akan menghabisi mu, atau aku akan memasukkan mu ke lubang parit. Katakan!." Tegasnya.


"Eh, ak, aku tidak tahu apa apa. Ak, aku beneran gak tahu apa apa." Jawabnya gemetaran.


Tanpa basi basi Young Soon langsung menarik pakaian pria tersebut, dan sontak Fane langsung naik ke atas dan Young Soon langsung melemparnya ke meja depan. "Argh, sakit." Ucapnya kesakitan hebat.


Sontak yang lainnya langsung takut dan kembali gemetaran kembali. "Katakan!." Tegasnya kembali fokus menatap wajah Erika.


"Iya, iya. Kami yang sudah membully ya selama ini. Puas kamu." Jawab Erika langsung jujur, sambil menundukkan kepalanya.


"Akhirnya kalian jujur juga. Kapan dan sejak kapan kalian membully ya?." Tanya Young Soon mengintrogasi nya.


"Kami sudah melakukannya sejak ia masuk ke universitas ini." Jawab teman temannya.


"Sudahlah Jova. Jangan melukai mereka." Ucap Davien kembali menenangkannya.


"Ini demi mu Davien. Kau hanya perlu diam saja, dan jangan banyak tanya." Ucapnya sambil merapikan kacamatanya.


"Iya deh." Pasrah dan hanya bisa menatap wajah Young Soon.


"Hei, nanti aku akan bersama mu untuk pulang. Nanti kita bertemu di taman belakang Universitas. Aku akan kesana, dan kita ke rumah mu."


"Jika papa mu menanyakan kepada kamu mengajakku, kenapa. Bilang saja, kalau ada tugas kuliah, dan harus bekerja sama.Kau mengerti kan." Kembali menyondongkan pisau ke arah lehernya.


"Baiklah, baiklah. Aku akan mengikuti kemauan kamu." Jawabnya kembali gemetaran.


"Kalau begitu. Jangan sampai kalian membully Devian kembali, atau kalian akan mati ditangan ku. Aku tidak akan segan segan untuk membunuh kalian satu satu." Jawab Young Soon langsung menaruh pulpennya ke saku celananya.


"Kalau begitu, kalian bisa kembali duduk. Dan jangan katakan apapun kepada yang lain, atau akan terluka seperti dia." Menunjuk Fane.


"Baiklah." Jawab mereka semua kepada Young Soon, dan mereka langsung takut kepadanya.


"Duduklah dengan bagus. Dan jangan memasang wajah menjijikkan kalian itu." Ucapnya langsung merapikan rambutnya dan kembali duduk di kursinya.


Sore pun tiba. Dimana mereka sudah kembali pulang, dan Young Soon sedang bersama Erika.


"Aku akan langsung mengirimkan lokasinya kepada mu. Setelah bertemu, kita langsung berakting untuk belajar di rumah mu.Kau mengerti kan." Ucapnya kepada Erika.


"Baiklah Jova. Aku akan mengikuti kemauan kamu. Tapi jangan sampai kamu melukai saya. Kamu mengerti kan maksud ku." Ucapnya sambil menaikkan alisnya.


"Baiklah. Aku duluan." Ucapnya langsung naik motornya.


Di perjalanan." Aku harus kembali ke toko kamera. Karena aku harus kembali membeli kamera, karena untuk misi juga." Langsung menggas motornya dengan kecepatan tinggi.


Sesampai toko kamera. Ia langsung masuk kedalam dan langsung membeli kamera tersebut.


Setelah membeli kamera mini tersebut. Ia pun langsung menuju ke lokasi yang sudah ia tujukan dengan Erika.


Sesampai tempat tersebut. Ternyata sudah ada Erika yang menunggunya. "Kau sudah disini kan.Bagus sekali. Mari kita langsung ke rumah mu." Ucap Young Soon kembali mengenakan helmnya dan langsung pergi bersama Erika.


Sesampai rumah Erika. Mereka langsung masuk kedalam rumah Erika. "Papa." Panggilnya.


"Iya sayang. Kamu sudah pulang.Eh, Jova. Kamu kemari lagi?." Jawabnya sekaligus bertanya.


"Iya pak.Karena ada tugas di kuliah tadi. Jadi kami mau mengerjakannya bersama." Jawab Young Soon tersenyum.


"Kalau begitu, kalian duduk dulu. Papa akan menyiapkan jus untuk kalian." Ucap pak Barnes langsung ke dapur untuk menyiapkan jus sesuai rencananya.


Saat Young Soon mau duduk. Tiba tiba ponselnya berdering, dan itu adalah panggilan dari,