
Saat masuk ke dalam universitas tersebut, semua siswa menatapnya dari bawah hingga ke atas.
Young Soon yang hanya bisa cuek dan langsung masuk duduk di depan kelas, untuk menunggu dosennya datang.
Saat sudah menunggu beberapa menit. Gurunya pun datang dan langsung menyuruhnya masuk kedalam. "Mari Young Soon." Ucap dosen tersebut.
"Baik pak." Langsung berdiri dan masuk kedalam.
"Selamat pagi anak anak." Sapa dosen.
"Selamat pagi juga pak." Ucap siswa tersebut langsung menatap ke arah Young Soon.
"Disini bapak mau memperkenalkan siswa baru disini, dia akan masuk ke kelas kalian. Silahkan perkenalkan diri anda nak." Ucap dosen tersebut.
"Nama aku Jova, dan saya tamatan dari SMA Gold, SMA terbesar di kota ini." Ucap Young Soon memperkenalkan dirinya dengan nama samarannya.
Sontak Young Soon langsung menatap ke arah pria yang persis seperti di foto yang diberikan oleh bos Zax.
"Tidak salah lagi, dia Devian." Ucap batin Young Soon menatap ke arah Devian dan ia juga menatapnya, sontak Young Soon langsung menaikkan alisnya, dan ia langsung buang muka.
"Semoga kalian bisa berteman dengan baik, dan Young Soon, kamu duduk di belakang sana. Di samping cowok yang sendirian itu." Ucap dosen tersebut menunjukannya.
"Terima kasih banyak pak." Tersenyum dan langsung menuju kursi belakang.
"Dia kan anak yang dibully itu. Dan misi ku adalah untuk menyelamatkannya." Ucap batin Young Soon langsung duduk di sampingnya.
"Kalau begitu, saya mau ke kelas lainnya. Dan tunggu guru kalian. Jangan ribut." Ucap dosen.
"Baik pak." Jawab mereka bersamaan.
Dosennya pun langsung pergi dari kelas mereka. Dan Young Soon langsung meletakkan bukunya di atas meja. "Halo, saya Devian. Nama kamu Jova kan?." Memperkenalkan dirinya.
"Ya, nama saya Jova. Semoga bisa berteman baik." Jawabnya tersenyum.
"Dia sangat cantik. Dan dia sangat mudah senyum. Cantiknya." Ucap batin Devian salting, sampai pipinya memerah.
Tiba tiba ada yang memukul mejanya. Dan dia adalah target Young Soon, dalam misinya, yaitu Erika.
"Hei anak baru. Gak usah banyak gaya disini deh, karena disini, kami yang paling berkuasa disini. Dan aku yang paling cantik disini, jadi kau tidak perlu sok cantik disini. Kamu mengerti." Gertak Erika.
"Ini adalah targetku nanti. Nama Erika, dengan wajah yang sok pemberani, tapi didalam dirinya dia hanya si penakut. Dia berani, saat ada temannya saja." Ucap batin Young Soon menatapnya.
"Hei, kenapa kau diam saja. Kau mengerti kan." Ucap Erika mendorong dahinya.
"Iya, aku mengerti." Ucapnya berpura pura polos.
"Baguslah, dan kau anak culun. Jangan lupa untuk ambilkan nanti makanan di kantin, dan antarkan ke meja seperti biasanya. Kau mengerti kan." Gertaknya kepada Devian.
"Aku mengerti." Ucapnya langsung menundukkan kepalanya.
"Baguslah kalau mengerti. Aku duduk dulu." Ucapnya kembali ke mejanya bersama teman temannya.
"Kenapa kau mau disuruh suruh olehnya?." Tanya Young Soon berbisik di telinganya.
Sontak telinga Devian memerah langsung menjauh darinya. "Eh, jangan terlalu dekat denganku." Ucap malu Devian.
"Baiklah, kalau begitu jawablah, kenapa kau mau disuruh suruh oleh mereka?." Tanyanya dengan pelan.
"Aku tidak bisa menolaknya. Karena mereka tidak segan segan, untuk memukuliku dan membully ku." Jawabnya sambil menundukkan kepalanya.
"Mau bagaimana lagi. Aku tidak mempunyai teman, dan aku hanya bisa sendirian, dan menerima semua hinaan dari mereka. Dan lagi pula, aku tidak punya siapa siapa, selain nenekku." Jawabnya langsung bersedih.
"Kalau begitu, jangan takut lagi, karena ada aku disini. Aku akan melindungi mu." Mengelus rambut Devian.
Sontak pipi Devian kembali memerah. "Eh, kenapa kamu mau membantuku. Padahal kita tidak bertemu, bahkan mengenal?". Tanyanya sedikit bingung.
"Aku hanya kasihan kepada mu. Tampan tampan begini, malah mengenakan kacamata sepertiku. Padahal kau tampan. Dasar aneh." Jawab Young Soon langsung melipat kedua tangannya.
"Kamu juga memakai kacamata, padahal kamu cantik. Aneh." Ucap Devian juga berkata yang sama seperti Young Soon.
Disisi lain. "Lihatlah si culun dengan si anak baru, berbicara bersama dan berteman bersama. Hahahahah, sangat cocok bukan." Ucap Erika mengejeknya.
"Benar itu. Hahhhahahah." Ucap temannya temannya.
"Sabar Young Soon, kau harus menahan emosi mu. Jangan sampai kau merusak rencana mu." Ucap batinnya menahan emosinya.
Siang pun tiba. Dimana tiba jam istirahat. Dan Young Soon langsung mengajak Devian untuk makan bersama. "Mau makan bareng?." Tanyanya.
"Boleh, tapi uangku sudah di ambil oleh mereka semua. Jadi aku tidak bisa makan deh." Jawabnya kembali menundukkan kepalanya.
"Jangan pikirkan soal itu. Biar aku yang mentraktir mu makan. Yuk." Jawabnya tersenyum dan langsung menarik tangannya, menuju kantin.
"Kenapa jantungku berdebar saat bersama Jova ya. Apa aku menyukainya." Ucap batin Devian pipinya langsung memerah.
Merekapun langsung menuju kantin. Sesampai kantin, Devian ingat kalau ia harus mengantarkan makanan siang kepada Erika dan teman temannya. "Oh ya Jova, aku harus mengantarkan makan siang kepada Erika. Nanti mereka sudah menunggu, dan bisa bisa mereka marah kepadaku lagi." Ucap Devian.
"Bagiamana kalau aku saja yang mengantarkannya. Kau duduklah di meja ini. Biar aku yang mengantarkannya. Tenang saja, kau tidak perlu khawatir denganku." Ucapnya sambil merapikan kacamatanya.
"Baiklah, ini punya Erika dan teman temannya. Semoga berhasil." Ucap Devian sambil melambaikan tangannya.
Young Soon pun langsung mengantarkan makan siang Erika dan teman temannya ke meja yang sudah ditunjukkan oleh Devian. Dan mereka sudah ada disana.
Young Soon pun langsung menghampiri mereka. "Ini makanan siang kalian." Langsung meletakkannya di atas meja.
"Dimana anak culun itu?." Tanya Erika sambil menatapnya.
"Dia sedang ada di meja sana. Dan aku hanya mau membantunya saja." Jawabnya dengan nada ketakutan, sebagian dari rencananya.
"Sangat cocok tuh Erika. Si culun, dan anak baru. Hahahah." Ucap teman prianya.
"Memang iya. Sama sama cocok, dan sama sama jelek. Hahahah." Ucap Erika menghinanya didepannya.
"Sabar Young Soon, kamu harus menahan emosi mu. Tahan, tahan." Ucap batinnya menghela nafas.
"Pergilah, kenapa masih berdiri disini. Menggangu saja. Oh ya, nanti kau datanglah ke rumahku, bersama anak culun itu. Kalian harus mengerjakan tugas sekolah kami. Kau paham kan." Ucapnya dengan tegas.
"Baik. Saya akan mengerjakan tugas kalian. Saya permisi dulu." Jawabnya langsung pergi meninggalkan mereka.
Menuju mejanya. "Ini adalah sebagian rencanaku berhasil. Karena aku akan datang ke kediaman keluarganya.Dengan begini, aku bisa melacak mereka.
"Dan aku membawa kamera miniku, untuk berjaga jaga. Dengan begitu, aku bisa memakai kamera ini dulu, untuk meletakkannya di rumah Erika." Ucap batinnya tersenyum tipis dengan rencananya dan langsung duduk di meja makan.
"Kenapa kamu lama sekali?." Tanya Devian.
Tadi aku,