
Aku tidak boleh memberitahu soal itu, soal kalau aku mempunyai kekuatan. Aku tidak boleh memberitahukannya kepada siapapun, termasuk keluargaku dan sahabatku." Ucapnya langsung menuju kasir untuk membayar.
Young soon pun keluar dari cafe dan menunggu supir nya datang. "Aku harus menunggu lagi, di mana pak supir ini." Melihat lihat sekitaran.
Akhirnya supir pribadi ayahnya datang. "Datang juga, baru dibicarain." Ucap batinnya.
"Maaf membuat anda menunggu lama nona." Ucapnya merasa bersalah.
"Tidak apa apa pak, langsung jalan aja pak." Langsung masuk ke dalam dan merekapun berangkat.
Saat di perjalanan. Young Soon melihat ada sebuah toko besar yang menyediakan motor yang begitu bagus dan terdapat motor besar yang sangat cocok dengannya.
"Pak pak, boleh berhenti sebentar." Ucap Young Soon langsung menurunkan kaca mobilnya.
"Ada apa non?." Tanya supir.
"Saya mau ke sana, tolong antarkan saya kesana." Ucapnya sambil menunjuk toko besar sepeda motor.
"Baik non." Langsung belok dan menuju toko sepeda motor.
Sesampainya. "Terima kasih banyak pak, bapak bisa pergi dan jangan jemput saya lagi." Ucapnya langsung turun dari mobilnya.
"Baik non, kalau ada apa apa, hubungi saja aja." Jawabnya.
"Baik pak."
Young Soon pun langsung melihat sepeda motor tersebut. "Wow, bagus banget." Terpesona dengan keindahan motor tersebut.
"Lagi cari apa kak, ada yang bisa saya bantu?." Tanya karyawan tersebut.
"Ini berapa ya?." Tanya Young Soon sambil mengelus motor tersebut.
"Harganya 350 juta kak." Jawab karyawan tersebut.
"Saya ambil ini dan ini kartu saya." Langsung memberikan kartu ATM tersebut tanpa basa basi dan tawar menawar.
"Baik kak, ditunggu sebentar." Langsung menuju kasir.
"Bagus banget, untung saja aku pernah diajarin naik motor oleh Eun Ju, terima kasih banyak Eun Ju sayang. Aku akan memakai motor ini dengan baik." Ucapnya sambil mengelus motor tersebut.
Karyawan itu pun datang kembali. "Ini kak kartu anda. Apa motor nya mau dikirim atau langsung dipakai?." Tanya karyawan tersebut.
"Saya mau langsung pakai saja." Jawab Young Soon tersenyum.
"Baik kak, ini helm dan free jaketnya, juga sarung tangannya." Memberikan.
"Terima kasih banyak mbak, saya duluan." Young Soon pun langsung menaiki sepeda motor tersebut dan langsung pergi dengan motor mahalnya.
Di perjalanan. "Woo, keren banget gila, wow." Berteriak Young Soon dan sangat bahagia menaiki motor barunya.
"Aku harus jalan jalan ini, jalan jalan menelusuri kota ini." Ucapnya langsung menggas motornya.
Malam pun tiba. Dimana Young Soon belum pulang juga dan malah asyik menaiki motornya dengan santai. Sampai tiba tiba ponselnya berdering.
"Eh, siapa yang menghubungiku." Young Soon pun berhenti di pinggir jalan dan langsung mengangkat teleponnya.
"Halo, ada apa?." Tanya Young Soon.
"Kamu dimana sayang, ayah sudah menunggu mu di rumah. Katanya kamu mau membahas soal pernikahanmu, cepatlah pulang." Jawab yang tidak lain lagi ialah ayahnya.
"Oh iya ayah, aku segera pulang. Bay ayah." Langsung mematikan ponselnya.
"Astaga Young Soon, baru ingat kalau ada urusan untuk membahas soal pernikahan. Aku harus pulang cepat." Memakai kembali helm nya dan menggas motornya dengan cepat.
Sesampai rumah. Young Soon langsung membuka helmnya dan masuk ke dalam rumah. "Aku pulang."
"Pulang juga kamu sayang, ibu sangat khawatir denganmu." Ucap ibu tirinya.
"Dari mana saja kau sayang?." Tanya ayahnya duduk di ruang tamu.
"Aku habis jalan jalan dan membeli sepeda motor ayah." Jawabnya dengan santai.
"Apa, kau beli sepeda motor dan kau tidak meminta izin dulu kepada ibu atau ayah. Kau menghabiskan uang ayah saja." Ucap Min Hwa.
"Apa aku harus meminta izin kepada orang yang bukan darah daging ku dan lagian ayah sudah memberikanku kartu ini dan suka suka aku dong mau beli apa." Jawab Young Soon sambil melipat tangannya.
"Baik ayahku dan ini kartu ayah. Aku sudah selesai memakainya dan akan kuganti setelah aku mendapatkan pekerjaan. Aku sayang ayah." Mencium pipi ayahnya.
"Iya anak ayah yang paling baik." Tersenyum.
Young Soon pun langsung masuk ke kamarnya dan mandi. "Dasar pencari perhatian, enak saja dia minta minta uang dengan ayah. Sedangkan aku tidak pernah diberi uang. Bahkan untuk membeli barang yang kuinginkan saja, tidak pernah diberikan." Ucap batin Min Hwa kesal.
"Jangan berbahagia dulu Young Soon, aku akan memberikan pelajaran kepadamu, karena calon suamimu itu, sudah menjadi milikku dan dia mencintaiku bukan mencintaimu. Kau akan malu nanti dan kau akan mengemis cinta kepada Bae. Aku jadi tidak sabar untuk melihatnya." Ucapnya tersenyum sebelah.
Setelah beberapa menit. Young Soon pun selesai mandi dan sudah berpakaian rapi, juga sudah merias wajahnya.
Young Soon duduk sebentar di kasurnya. "Aku seperti melupakan sesuatu, apa ya?." Memikirkannya.
Setelah memikirkannya. "Oh ya, astaga. Aku lupa kalau 2 minggu lagi adalah hari ulang tahun Min Hwa. Astaga, aku baru ingat. Saat itu aku tidak diperbolehkan keluar dan tidak boleh memakai gaun yang indah."
"Aku hanya dijadikan babu oleh mereka, tanpa sepengetahuan ayah dan mereka beralasan kepada ayah dan mengatakan bahwa aku sedang pergi kerumah teman untuk membahas pekerjaan."
"Kali ini aku tidak akan membiarkan mereka membohongi ayahku lagi, tidak akan." Memukul cermin yang ada didepannya.
Sontak cermin tersebut hancur lebur seperti batu kecil. "Eh, astaga. Aku baru ingat kalau aku punya kekuatan. Astaga." Mengerutkan keningnya.
"Aku harus turun sekarang, mungkin ayah sudah menunggu." Langsung mengambil tasnya dan turun kebawah.
"Aku sudah siap." Ucap Young Soon langsung menghampiri ayahnya.
"Anak ayah sangat cantik, kalau begitu mari kita pergi sekarang." Jawab ayahnya kepada anggota keluarganya.
Merekapun langsung pergi ke rumah Bae. Sesampai rumah Bae.
Mereka langsung masuk kedalam. "Halo pak Chu Bae." Panggil pak Park Young.
"Halo pak Young." Langsung memeluk sebagai tanda teman.
"Duduklah, duduklah." Ucap istri pak Chu Bae.
"Terima kasih banyak jeng." Jawab bu Min Soo.
"Maaf kami membuat anda menunggu lama." Ucap Young Soon langsung duduk disamping Bae.
"Kau sangat cantik sayang." Ucap Bae mengelus pipi Young Soon.
"Terima kasih." Tersenyum palsu.
Young Soon melirik kakak tirinya, untuk melihat ekspresinya dan ternyata yang disangka Young Soon memang benar. Dia melihat wajah Min Hwa yang sedang menggigiti bibir bawahnya cemburu.
"Ck, aku sudah tahu ekspresi mu akan seperti itu.Ini masih permulaan." Ucap batin Young Soon.
"Mari kita makan bersama." Ucap pak Chu Bae.
Merekapun langsung makan bersama. "Omong omong, ada apa datang kemari pak Young?." Tanya pak Chu Bae.
"Saya mau membahas soal pernikahan anak mu dan anak saya. Anak saya meminta agar pernikahan segera diselenggarakan." Jawab pak Park Young.
"Wah, kenapa tiba tiba?." Tanya pak Chu Bae.
"Gimana ya, kami sangat sibuk. Tapi kami akan membahas soal pernikahan ini dengan cepat." Ucap pak Chu Bae.
"Oh ya ayah, saya baru ingat kalau sebentar lagi kan ulang tahun kakak dan seharusnya pernikahannya dilaksanakan 3 bulan lagi. Bagaimana." Ucap Young Soon berbeda pendapat lagi.
"Kenapa tiba tiba berubah lagi sayang?." Tanya ayahnya.
"Aku baru ingat kalau bentar lagi adalah hari ulang tahun kakak. Jadi tidak akan sempat untuk pernikahan dan ulang tahun ayah, itu akan sangat merepotkan." Jawab Young Soon tersenyum.
"Yang dikatakan adik memang benar ayah, seharusnya ulang tahunku dulu dilakukan. Habis itu pernikahan Young Soon." Ucap Min Hwa.
"Tuh kan ayah, kakak saja mendukungku. Bagaimana?." Tanya Young Soon meminta pendapat.
"Benar juga yang dikatakan Young Soon pak. Bagaimana kalau kita bahas pernikahan ya untuk 3 bulan lagi. Disitu kita akan merayakan pernikahan yang begitu megah dan indah." Pendapat sama dengan Young Soon.
"Okelah, kalau begitu pernikahan akan di laksanakan 3 bulan lagi dan 2 minggu lagi, kita akan menyiapkan ulang tahun Min Hwa." Jawab pak Park Young.
"Terima kasih banyak ayah." Tersenyum bahagia karena rencananya berhasil.
"Kau lihat saja Young Soon, aku tidak akan membiarkan kau mengikuti perayaan ulang tahunku." Ucap batin Min Hwa sudah bahagia karena rencananya akan berhasil.