Come Back To Life And Have Power

Come Back To Life And Have Power
Episode 116: Mual



Sesampai rumah Young Soon. Young Soon pun langsung keluar dari mobil Tyger Carl.


"Terima kasih banyak atas tumpangan anda bos mafia kejam, yang ternyata tidak kejam. Lain kali, jangan kempiskan ban motorku lagi. Atau akan aku kempiskan bola matamu itu." Ucap Young Soon tersenyum jahat.


"Terserah kamu deh baby. Yang penting, aku terus bisa melihat kamu. Kan kamu yang paling cantik." Puji Tyger Carl kembali.


Young Soon pun kembali menghiraukannya, dan langsung berbalik badan. Saat itu juga Tyger tersenyum miring.


"Benar benar wanita idaman," kata hati Tyger Carl, langsung pergi dari rumah Young Soon.


Saat Young Soon mau masuk ke dalam rumahnya, ia berbalik badan, untuk melihat keberadaan Tyger Carl.


"Sudah pergi, baguslah. Benar benar pria yang aneh. Hem." Ujar Young Soon langsung masuk ke dalam rumahnya.


Di dalam rumah," sayang," panggil ayahnya yang sedang membaca koran di ruang tamu.


"Apa ayahku sayang," menghampiri ayahnya, dan langsung duduk disamping ayahnya.


"Kenapa wajah ayah seperti itu, kelihatannya ayah lelah. Sini aku pijitin." Ucap Young Soon, langsung berdiri dibelakang ayahnya dan memijit pundak ayahnya.


"Terima kasih banyak sayang, kamu tahu saja kalau ayah kelelahan." Tersenyum ayahnya.


"Ouh ya ayah, di mana kakak dan ibu?" tanya Young Soon sambil menaikkan alisnya.


"Kakakmu sedang istirahat, dan ibumu sedang pergi ke luar, katanya mau bertemu dengan teman teman arisannya, begitu." Jawab ayahnya.


"Ouh, baiklah ayah. Kalau begitu, Young Soon mau masuk ke kamar dulu ya ayah. Karena ada yang harus Young Soon kerjakan. Tidak apa apa kan, kalau Young Soon meninggalkan ayah di sini?." Tanyanya.


"Tidak apa apa sayang. Cepat kamu masuk kamar sana, kamu bau soalnya. Hahahah." Jawab ayahnya sambil mengejek Young Soon.


"Ayah ini, hahahah. Kalau begitu, aku masuk kamar dulu ayah." Mencium pipi ayahnya, dan langsung masuk ke kamarnya.


Setelah Young Soon masuk ke kamarnya," aku jadi tidak bisa melepaskan anak itu, saat dia memiliki pasangan nanti. Karena dia putriku yang paling baik dan perhatian terhadapku." Ucap batin pak Park Young, kembali membaca koran dan tersenyum tipis.


Di kamar Young Soon, ia langsung duduk di kursi belajarnya, dan meletakkan tasnya di atas meja.


"Aku mempunyai rencana, agar si Min Hwa dan Min Soo dibenci oleh ayah. Hahahah." Tersenyum licik.


"Kan Min Soo lagi keluar arisan, dan Min Hwa sedang tidur. Lebih baik aku kerjain mereka deh. Xixixixi."


"Aku akan mengambil sidik jari mereka, untuk menjatuhkan mereka berdua. Lihat saja, perbuatan kalian yang kalian lakukan kepadaku, semua akan terbayar." Ucapnya kembali tersenyum dan mengambil sebuah kaca tipis, untuk mengambil sidik jari Min Hwa dan Min Soo.


Setelah mengambilnya, Young Soon keluar dari kamarnya, dengan mengendap endap. Dan melihat dari bawah. "Ayah masih membaca korannya. Semoga ayah tidak tahu, kalau aku keluar kamar." Kata hati Young Soon, langsung masuk ke kamar Min Hwa terlebih dahulu.


Di dalam kamar Min Hwa, Young Soon melihat Min Hwa yang masih tertidur lelap. "Nikmatilah tidur kamu ini sayang. Semoga kamu akan terus bahagia, sampai akhir hayat. Maksudku, di dalam mimpi mu saja. Heheheh." Ucap batin Young Soon mendekati Min Hwa dan mulai meraih jari jempol Min Hwa.


Tiba tiba saja Min Hwa bergerak ke sisi lain, dan Young Soon langsung melepaskan jari Min Hwa. "Hem." Ucap Min Hwa mengigo, dan ke sisi kiri lainnya, sambil memeluk bantal guling.


Young Soon pun kembali ke sisi lainnya, dan mulai meraih jari jempol Min Hwa. Dan akhirnya Young Soon berhasil menjiplak jempol Min Hwa, di sebuah kaca kecil dan tipis.


Setelah itu, Young Soon pun masuk kembali ke kamarnya. Dan langsung duduk di tempat tidurnya. "Sekarang aku tinggal simpan di tempat yang tidak bisa hilang sidik jari ini." Ujarnya mengambil alat alat agen rahasianya.


Malam pun tiba. Di mana Young Soon sedang makan malam bersama keluarganya. "Kamu cantik banget adikku. Kamu mau ke mana?." Tanya Min Hwa sambil mengunyah makanannya.


"Ada urusan pribadi, dan ini bukan urusanmu kakak," jawab Young Soon tanpa ekspresi dan kembali mengunyah makanannya.


"Kalian jangan ikut campur urusan Young Soon, karena dia sudah besar. Kamu paham kan Min Hwa." Ucap ayahnya sedikit tegas dengannya.


"Baik ayah, aku tidak akan ikut campur urusan Young Soon lagi." Jawab Min Hwa menundukkan kepalanya, dan kembali mengunyah makanannya.


Tiba tiba saja Min Hwa mengalami hal hal yang menganehkan. Tiba tiba Min Hwa mau mual.


"Huek," ucapnya langsung ke kamar mandi untuk mual.


"Kamu kenapa sayang?." Tanya ibunya langsung panik, dan mengejar Min Hwa yang berlari ke kamar mandi.


"Dia kenapa ayah," bertanya tanya Young Soon juga, kepada ayahnya.


"Entahlah," jawab ayahnya sambil mengangkat bahunya.


Disisi lain, di kamar mandi. "Kamu kenapa sayang?." Tanya ibunya langsung membantu Min Hwa berdiri kembali.


"Entahlah bu, tapi akhir akhir ini aku sering mual mual dan pusing bu. Kenapa ya." Jawab Min Hwa sambil memegang kepalanya yang pusing.


"Apa mungkin kamu hamil sayang," ucap ibunya membantu Min Hwa berdiri.


"Hah, maksud ibu aku benar benar hamil. Dan mungkin saja ini anak Bae." Ujar Min Hwa membersihkan mulutnya.


"Ini kabar baik untuk kamu sayang, biar kamu tambah bahagia dengan Bae, dan kalian akan abadi bersama." Bahagia ibunya, langsung menuntun Min Hwa ke meja makan kembali.


Di meja makan," kenapa kamu Min Hwa?." Tanya ayahnya langsung.


Min Hwa dan Min Soo kembali duduk," sepertinya Min Hwa hamil deh sayang." Jawab Min Soo sambil tersenyum.


"Hah, hamil," ucap bersamaan Young Soon dan ayahnya.


Min Hwa menganggukkan kepalanya," ini adalah suatu kebahagiaan, karena kamu hamil. Dengan begini, acara pernikahan, akan dilaksanakan secepatnya. Kalau begitu, nanti cepat kamu hubungi Bae, dan beritahukan soal kabar baik ini." Perintah ayahnya ikut tersenyum.


"Baik ayah, aku akan mengabarinya nanti. Aku tidak sangka, kalau aku akan mempunyai anak dari Bae. Dan aku tidak sabar untuk melihat wajahnya." Bahagia Min Hwa, sambil memegang perutnya.


"Selamat kakak, semoga kalian langgeng sampai tuan." Tersenyum palsu Young Soon.


"Aku tahu kalau kau iri denganku kan Young Soon. Makanya kamu bersikap seperti itu kepadaku. Rasain pembalasanku itu." Ucap batin Min Hwa tersenyum tipis.


Young Soon meliriknya