
"Kenapa kamu lama sekali?." Tanya Devian.
Tadi aku mengobrol sebentar dengan mereka. Kenapa kau sudah memesan makanannya?." Jawabnya sekaligus bertanya.
"Gapapa. Sebagai tanda terima kasihku kepada mu, karena sudah mau membantuku." Jawabnya sambil mengelus lehernya.
"Terima kasih banyak." Langsung mengunyah makanan tersebut.
"Apa setiap hari kau harus melakukan hal seperti tadi?." Tanyanya sambil mengunyah makanannya.
"Benar. Mau bagaimana lagi, itu semua harus aku kerjakan, karena aku tidak mau mati ditangan mereka semua. Aku hanya takut dengan itu semua. Jadi aku harus menuruti kemauan mereka." Jawabnya langsung murung.
"Jangan bersedih, karena ada aku disini. Jangan bersedih lagi." Ucapnya tersenyum kepada Devian.
"Jangan tersenyum seperti itu kepadaku. Malu tahu." Ucapnya langsung buang muka dan melanjutkan makanannya.
"Sepulang nanti, mereka memerintahkan kita, untuk mengerjakan tugasnya di rumah Erika. Kau juga sering mengerjakan tugasnya di rumahnya?." Tanyanya.
"Aku belum pernah mengerjakan tugasnya di rumahnya. Dia sering menyuruhku untuk mengerjakannya di rumahku sendiri. Baru kali ini, aku mengerjakannya di rumahnya." Jawab Davien sedikit heran.
"Benar juga, apa ini sebagian dari rencana ayahnya. Aku harus mencari tahu." Ucap batinnya berfikir.
"Kenapa kau jadi memikirkannya?." Tanyanya.
"Bukan kok, aku hanya memikirkan bagaimana bisa mendapatkan mu. Hahahah." Jawabnya sambil tertawa.
"Uhuk, huk. Apaan sih yang kamu katakan itu. Sangat aneh." Ucapnya langsung tersedak dan kembali salting.
"Hahahahah, namanya bercanda. Bercanda tahu." Ucapnya kembali tertawa.
Sore pun tiba. Dimana pembelajaran akhirnya berakhir. Dan mereka sudah berada di luar universitas. "Kamu naik apa Jova?." Tanyanya sambil merapikan kacamatanya.
"Naik motor itu." Jawabnya langsung menunjuk motornya.
"Astaga, kau mengendarai motor sebesar itu. Itu kan motor pria, dan kenapa kau mengendarainya?." Tanyanya sedikit kaget.
"Kenapa emangnya, kalau aku memiliki kendaraan pria. Yang terpenting, aku bahagia dengan apa yang aku miliki." Jawabnya sambil membalikkan bola matanya.
"Apa kau tahu dimana rumah Erika?." Tanyanya kepada Davien.
"Aku tahu sih. Tapi aku tidak pernah masuk kedalam rumahnya, hanya saja aku pernah lewat di depan rumahnya." Jawabnya.
"Baguslah kalau kau mengetahuinya. Dan apa kau mempunyai nomor ponselnya?." Tanyanya kembali.
"Punya, kenapa emangnya." Jawabnya sekaligus bertanya.
"Ada hal yang mau aku tanyakan padanya. Apa aku bisa memintanya?." Tanyanya.
"Nih nomor ponselnya." Langsung memberikan nomor tersebut kepadanya.
"Terima kasih banyak." Langsung menghubunginya.
Tersambung. "Halo Erika, ini aku Young Soon. Kalian dimana?." Tanyanya.
"Hey anak baru. Kami sudah ada di rumah, cepatlah kemari dan gak pakai lama." Jawabnya dengan tegas langsung mematikan ponselnya.
"Mereka sudah ada di rumahnya. Tunggu sebentar, aku ambil motorku dulu." Langsung mengambil motornya yang ada di parkiran. Ia langsung mengenakan helm dan langsung menggas nya di depan Davien.
"Naiklah." Ucap Young Soon kepadanya.
"Aku gak mau. Aku takut, kau akan jatuh membawaku." Jawab Devian.
"Naiklah, dan pakai helm ini." Sudah menyediakan helm untuk temannya.
"Aku tak,
"Naiklah, dan jangan banyak tanya. Kau mau dipukuli lagi oleh teman Erika." Ucapnya.
Devian langsung menggelengkan kepalanya. "Gak mau kan, kalau begitu naiklah." Ucapnya langsung memberikan helm tersebut kepada Devian.
"Iya, iya.Aku naik deh." Ucapnya langsung mengambil helm dari Young Soon dan langsung memakainya.
"Aku bisa begini." Jawabnya sambil memegang jok belakang motor.
"Cepatlah." Ucap Young Soon langsung menarik tangan Devian dan langsung memegang pinggangnya. Pipi Devian pun langsung memerah, karena memeluk pinggang Young Soon.
Dan Young Soon langsung menggas motornya dengan kecepatan tinggi, menuju rumah Erika. Devian jadi memeluk pinggang Young Soon dengan erat dan membungkukkan badannya.
Sesampai rumah Erika. Young Soon langsung membuka helmnya dan Devian langsung turun juga dan mual. "Hahahha, ga biasa naik motor begini yah?." Tanyanya sambil tertawa.
"Kau mengendarainya dengan sangat kencang. Aku hampir mau mati dengan mu." Jawabnya langsung mengusap bibirnya.
"Sudahlah, kalau begitu mari kita masuk." Ucap Young Soon langsung masuk kedalam bersama Devian.
"Sore." Ucapnya langsung masuk kedalam bersama Devian.
"Eh, anak culun dan anak baru, kalian sudah sampai. Duduklah." Ucapnya langsung menyuruh mereka duduk.
"Terima kasih." Ucapnya langsung duduk bersama Devian.
"Ini buku tugas kami semua. Kalian kerjakan ya, karena kami mau jalan jalan dulu." Ucapnya langsung memberikan buku tugas kepada Young Soon dan Devian.
"Jangan sampai tidak ada yang siap.Kalau kami sudah pulang, kalian harus sudah menyiapkannya. Kami pergi dulu." Ucap Erika langsung keluar bersama teman temannya.
"Dah." Ucap teman Erika melambaikan tangannya.
"Omong omong, rumahnya sangat besar ya." Kagum Devian kepada rumah Erika.
"Bagaimana tidak besar. Dia kan berada di keluarga yang sangat kaya raya. Sampai berada di tingkat ke tiga sebagai orang paling terkaya di kota ini." Jawab Young Soon.
"Kenapa kau bisa tahu tentang kekayaannya?." Tanyanya.
"Kan sudah ada di internet sih. Makanya jangan ketinggalan zaman dong." Jawabnya.
"Sudahlah, jangan banyak tanya. Lebih baik, cepat kita kerjakan tugas ini. Sebelum mereka kembali." Ucap Young Soon.
"Oh ya Devian. Bisakah kau mengambilkan barang yang ada di jok motorku. Ada yang ketinggalan disana. Bolehkah?." Ucapnya.
"Iya, iya. Aku akan mengambilnya sekarang." Ucapnya langsung keluar untuk mengambil barang yang ada di jok motor Young Soon.
"Selagi tidak ada siapapun. Mending aku letakkan kamera ini di tempat yang tersembunyi." Ucapnya langsung berdiri dan mengambil kamera mini, yang ada di tasnya, dan langsung meletakkan di pot bunga besar, yang ada di samping meja bingkai foto.
Saat Young Soon sudah meletakkannya. "Hei, kamu siapa?." Tanya yang tidak lain lagi ialah ayah Erika.
"Eh." Sontak kaget dan langsung berbalik badan.
"Halo, saya Jova, teman Erika. Disini, saya mau mengerjakan tugas yang sulit di kerjakan oleh Erika.
"Tadi saya lihat lihat foto pajangan ini. Sangat cantik, selera anda sangat bagus." Jawabnya.
"Terima kasih. Sepertinya kamu anak baru ya?." Tanyanya.
"Iya pak. Saya murid baru di universitas saya. Salam kenal pak." Ucapnya menundukkan badannya.
"Sepertinya dia kelihatan sangat polos. Aku bisa mengambil jantungnya. Karena dua anak baru." Ucap batin ayah Erika.
"Omong omong nama bapak siapa?." Tanyanya.
"Nama saya Barnes. Nama kamu siapa tadi nak." Jawabnya sekaligus bertanya.
"Nama saya Jova. Salam kenal." Jawabnya.
"Omong omong, bapak sangat kaya kan pak. Karena bapak adalah orang terkaya ketiga di kota ini. Bapak sangat keren pak." Ucap polos Young Soon.
"Ya begitulah. Saya juga bekerja keras untuk mendapatkan tahta saya." Jawabnya sambil tersenyum.
"Bekerja keras apanya. Dasar pria banyak omong." Ucap batin Young Soon hampir mual dengan jawaban dari pak Barnes.
Saat mereka sedang berbincang. Tiba tiba ada yang masuk, dan di adalah,