
"Siap ayah, kalau begitu, teh ini buat ibu saja." Langsung memberikannya kepada Min Soo.
"Mati aku, sudah hari ke 10 aku meminum teh ini terus. Bagaimana ini, bisa bisa aku mati dan tidak akan mendapatkan harta milik keluarga Young. Bagaimana ini." Gemetaran dan langsung menundukkan kepalanya.
"Hello ibu. Kenapa ibu, apa ibu ketakutan kalau ibu meminum teh ini?." Tanyanya tersenyum tipis.
"Apa yang kamu katakan itu sih. Bukannya ibu tidak mau, ibu lagi terkena penyakit gula. Jadi ibu tidak boleh banyak banyak makan gula. Mending kamu buang saja, kalau memang ayah kamu tidak mau meminumnya." Jawab Min Soo langsung mengegas perkataan Young Soon.
"Tidak perlu mengegas dong bu. Aku juga tahu kok, kalau begitu tehnya akan aku buang, dan akan aku gantikan dengan kopi yang baru ." Menuju dapur kembali, untuk membuatkan kopi ayahnya.
Setelah membuatkan kopinya, ia pun langsung menuju meja makan. "Ini kopi untuk ayahku tercinta." Langsung meletakkannya dihadapan ayahnya.
"Terima kasih banyak sayang. Kopi kamu memang yang paling enak." Bahagia dan langsung meminum kopi tersebut.
"Sama sama ayahku sayang. Kalau begitu, mari kita lanjutkan makanannya." Langsung kembali mengunyah makanannya.
Setelah beberapa menit. Young soon langsung meletakkan piring piring di tempat pembersihan. Ia langsung duduk di ruang tamu. "Oh ya ayah, apa ayah mau pergi sekarang?." Tanyanya.
"Iya sayang. Apa mau ikut ke perusahaan ayah." Jawabnya sekaligus bertanya.
"Tidak perlu ayah. Kapan kapan saja aku akan pergi kesana ayah. Soalnya aku mau kerja dulu, aku baru mendapatkan pekerjaan baru, dan tidak boleh ada yang tahu ayahku sayang, termasuk ayah." Jawabnya dengan senyumannya.
"Kalau begitu, ayah duluan ya sayang. Dan semoga kamu betah dengan pekerjaan kamu. Ayah tidak akan ikut campur urusan kamu, asalkan tidak menganggu kesehatan kamu." Ucap ayahnya langsung menuju perusahaan, dengan mobilnya.
Min Hwa pun datang, mau mengambil sesuatu yang ada di ruang tamu. "Eh, kakak. Kebetulan banget kak, ada yang mau aku bicarakan denganmu." Ucap Young Soon langsung berdiri dan menghampiri Min Hwa.
Min Hwa langsung menatapnya. "Ada apa adikku, kenapa kamu memanggilku. Apa ada urusan yang mau kamu bicarakan denganku?." Tanya Min Hwa langsung menatapnya.
"Duduk dulu dong kakak. Ada yang mau aku bicarakan dengan kakak." Langsung duduk, dan Min Hwa ikutan duduk disampingnya.
" Oh ya kak, apa besok kakak ada waktu. Aku mau mentraktir kakak untuk belanja pakaian besok. Apa mau ikut, nanti aku bayarin deh." Jawab Young Soon langsung melipat kedua tangannya.
"Wah, itu sungguh ide yang sangat bagus. Kalau dibayarin sih kakak mau dong. Besok jam berapa?." Tanya Min Hwa langsung bahagia.
"Besok akan aku kabari. Tapi sebelum itu, aku mau mengukur badan kakak dulu, untuk mengecek berapa ukuran pakaian yang cocok untuk kakak. Dengan begitu, besok kita langsung mengambilnya saja, tanpa harus mencobanya." Ucap Young Soon tersenyum tipis.
"Baiklah, asalkan aku mendapatkan pakaian gratis dengan brand yang mahal, kakak akan setuju saja kalau diukur. Kalau begitu, cepat ukur kakak." Langsung berdiri dan siap diukur.
Young soon pun langsung berdiri. "Okey, kakak rentangkan kedua tangan kakak dulu, biar lebih gampang aku ukur." Langsung mengeluarkan alat ukur badan.
Min Hwa langsung merentangkan tangannya. "Naikkan kepala kakak ke atas, jangan melihat kesini." Perintah Young Soon.
Min Hwa yang bodoh, menurut saja, dan menaikkan kepalanya keatas. Saat itu juga Young Soon