Come Back To Life And Have Power

Come Back To Life And Have Power
Episode 114: Bunga Tulip



Di perjalanan. "Kenapa kamu ingin cepat cepat pulang sayang. Apa kamu sakit hati?." Tanya. ayahnya menatap wajah Young Soon dari samping.


"Aku bukan sakit hati ayah. Aku hanya muak berada di rumah pria yang tidak cukup dengan satu wanita. Itulah yang membuatku jijik, dan tidak betah di sana." Jawab Young Soon terus terang, kepada ayahnya.


"Omong omong, kamu jadi sering memainkan ponsel kamu. Dan bahkan kamu terus mengangkat ponsel. Apa sih pekerjaan kamu?." Tanya ayahnya kembali.


"Sst, ayah tidak perlu tahu. Yang penting, aku tidak menyusahkan ayah. Dan cepatlah menikahkan Min Hwa dengan di Bae itu. Biar mereka cepat pergi dari rumah kita. Dan ada hal yang mau aku berikan kepada ayah, saat hari pernikahan Min Hwa nanti. Ayah pasti akan sangat terkejut." Jawab Young Soon, sambil tersenyum miring.


"Baiklah sayang. Ayah tidak akan melarang kamu lagi. Asalkan kamu baik baik saja, ayah akan tenang." Tersenyum kembali ayahnya, sambil mengelus tangan Young Soon.


Sesampai rumah. Merekapun langsung turun dari mobil bersamaan. Di dalam rumah, ayahnya duduk di sofa, yang ada di ruang tamu.


"Sayang, apa kamu mau aku buatkan teh?." Tanya Min Soo, sambil mengelus pundak Park Young.


"Tidak perlu, nanti penyakit gula ayah kambuh. Kamu mau membuat ayahku cepat mati." Ucap Young Soon berdiri, sambil melipat kedua tangannya.


"Apa yang kamu maksud itu sih nak. Ibu hanya mau menenangkan ayah kamu saja. Kan ayah kamu, juga suami ibu." Tanya Min Soo, berpura pura polos.


"Sudahlah, jangan banyak drama deh kamu. Mending kamu urus anak sana, untuk pernikahannya nanti. Jangan sampai membuatku malu nanti." Jawab Young Soon menatapnya dengan tatapan tajam.


"Sudahlah, kalian jangan terus bertengkar. Lebih baik kamu menemani Min Hwa saja di kamarnya. Karena sebentar lagi kan, dia tidak akan tinggal di sini lagi. Jadi temani dia." Ucap Park Young membela Young Soon.


"Baiklah sayangku. Kalau ada apa apa, panggil saja aku. Kalau begitu, aku duluan sayang." Melambaikan tangannya, dan masuk ke kamar Min Hwa, yang ada di lantai 2.


"Ck, menjijikkan." Ucap batin Young Soon, jijik dengan sikap Min Soo.


"Kalau begitu, ayah mau ke perusahaan dulu deh sayang. Karena masih ada pekerjaan yang harus ayah selesaikan. Kalau kamu mau di rumah saja, gapapa." Ucap ayahnya langsung berdiri dan merapikan pakaiannya.


Young Soon mendekat ke arah ayahnya. Dan merapikan dasi ayahnya yang berantakan. "Andai saja ibu masih hidup ya ayah. Mungkin saja ayah tidak akan menikah dengan wanita buruk rupa, dan busuk hati seperti mereka itu." Sedikit kesal Young Soon.


"Mau bagaimana lagi sayang. Ayah juga butuh pendamping. Tapi ayah penasaran, dengan apa yang kamu sembunyikan dari ayah. Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dari ayah sih sayang?." Tanya ayahnya, serius kepada Young Soon.


"Ada deh, rahasia. Yang terpenting, aku akan memberitahukannya kepada ayah, pada saat yang tepat dulu. Disitulah, baru aku memberitahu semuanya kepada ayah. Okey." Jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya.


Setelah merapikan dasi ayahnya. Ayahnya pun mengelus pipi Young Soon, dan keluar dari rumah, untuk kembali bekerja.


Young Soon pun duduk di sofa, sambil menyilangkan kakinya.


"Mending aku ke makam ibu aja deh. Pengen lihat kabar ibu di sana." Ucap Young Soon Tersenyum, dan kembali berdiri, untuk masuk ke kamarnya.


Young Soon pun mengganti pakaiannya, dan mengenakan pakaian seperti biasanya, yaitu pakaian hitam.


Ia pun langsung turun ke bawah, sambil mengenakan sarung tangannya. Young Soon pun keluar dari rumah, dan mengeluarkan motor barunya, yang ia dapatkan dari balapan liar kemarin malam.


Di perjalanan, Young Soon mampir ke toko bunga, untuk membeli bunga yang disukai oleh almarhum ibunya, yaitu bunga tulip.


"Berapa satunya ini pak?." Tanya Young Soon, sambil tersenyum ramah.


"Ini harganya hanya di 50 ribu saja, untuk satu bucketnya nak. Mau yang mana." Jawab pria tersebut, sekaligus bertanya.


"Saya mau tulip merah muda ini deh pak. Tolong bungkuskan." Jawab Young Soon langsung memberikan bunga tersebut.


"Baik, mohon di tunggu sebentar." Ikut tersenyum si penjual, dan langsung masuk ke dalam, untuk membungkuskan bunga tersebut.


"Ini bunganya kak, sudah dibungkus dengan rapi." Ucap penjual tersebut, langsung memberikan bucket bunga tulip tersebut.


Dan Young Soon mengambilnya, dan mau mengeluarkan kartu ATMnya.


Saat Young Soon sedang mengambil kartunya. Tiba tiba saja. "Biar saya saja yang bayar pak. Ini uangnya." Ucap salah satu pria, langsung memberikan uang cash kepada si penjual.


Sontak Young Soon melihat ke arah suara tersebut, dan tidak lain lagi, itu adalah Tyger Carl, mafia kejam.


Sontak Young Soon sedikit kaget. Dan tidak mengedipkan kedua matanya. "Kedipkan matamu itu. Kalau tidak, akan ada hewan masuk ke dalam mata kamu itu sayang." Ucap Tyger Carl.


Young Soon pun langsung fokus ke depan. "Terima kasih banyak karena sudah mampir kakak." Ucap si penjual, menundukkan kepalanya, untuk memberi salam terima kasih banyak.


"Sama sama." Young Soon pun langsung berbalik badan, dan meninggalkan pria tersebut.


Tyger Carl pun menghalangi jalannya, sambil santai, dan melipat kedua tangannya. "Kenapa kau berada di hadapanku. Awas." Ucap Young Soon dengan nada tegas.


"Aku sudah membayarkan bunga kamu itu. Apa tidak mau memberi balasan kepadaku, atas niat baikku ini, kepadamu?." Tanya Tyger Carl, sambil menaikkan alisnya, yang menggoda itu.


"Siapa yang menyuruhmu untuk membayar bungaku. Aku juga tidak mau, kalau kau yang membayarnya. Tapi mau bagaimana lagi, bisa bisa aku mati di tempat. Karena sudah berkata kasar, kepada mafia yang paling kejam di dunia ini." Jawab Young Soon tersenyum miring, dan kembali mengenakan helmnya.


Young Soon pun mulai menyalakan motornya. Dan Tyger Carl, terus berada dihadapannya, sambil melipat kedua tangannya.


Young Soon pun mulai memainkan knalpot motornya. "Aku tidak akan segan segan untuk menabrakmu. karena aku bukan wanita yang bisa direndahkan oleh siapapun. Termasuk kau." Ucap Young Soon di motornya, dan Tyger Carl, terus menghalanginya.


"Baiklah kalau kau maunya begitu. Bay." Ujar Young Soon berjalan dihadapan Leonathan. Dan sontak Leonathan menepi, dan menghela nafas panjang.


"Dia benar benar wanita yang tidak takut apa apa. Aku tambah menyukainya." Tersenyum tipis Tyger Carl.


Di perjalanan. "Dia benar benar pria yang menganehkan. Ini sudah ketiga harinya aku bertemu dengannya. Benar benar memuakkan. Tapi kalau dilihat lihat, ya dia lumayan sih." Ucap batin Young Soon.


Tiba tiba saja