
Young Soon mendorong Devian, dan Devian langsung terlempar jauh, hingga ruang tamu. "Aduh, sakit Young Soon." Teriak Devian kesakitan.
"Astaga, aku mengeluarkan kekuatanku, di waktu yang tidak tepat." Panik Young Soon, langsung menghampiri Devian.
"Astaga Devian, maafkan aku. Makanya kamu jangan menggatal." Ucap Young Soon langsung membantu Devian berdiri.
"Kenapa kau begitu kuat?," tanya Devian langsung menatapnya.
"Mati aku, si Devian curiga lagi." Panik Young Soon, karena takut kekuatannya diketahui oleh orang.
"Aduh, sakit, sakit. Tanganku sakit." Berakting Young Soon, agar kekuatannya tidak ketahuan.
Devian pun ikut panik, dan langsung membantu Young Soon. "Kau baik baik saja Young Soon?." Tanya Devian membantunya duduk di sofa.
"Aku kesakitan, gara gara memukulmu tadi itu. Aku mengeluarkan semua tenagaku. Sakit." Jawab Young Soon memasang wajah kesakitan.
"Aduh, maafkan aku ya. Aku tidak akan menanyakan hal seperti itu lagi deh. Kalau begitu, kau duduklah di sini. Aku akan mengambilkan makan malam untuk kita berdua. Kebetulan aku masih ada stok di kulkas, jadinya aku masak tadi. Kau tunggulah di sini." Ucap Devian kembali ke dapur, untuk mengambil makan malam mereka berdua.
"Untunglah Devian mau mempercayaiku. Fyuh." Menghela nafas panjang.
Devian pun kembali, dan membawa makan malam untuk mereka berdua. "Ini makan malamnya. Walaupun tidak mewah banget. Kan bisa untuk mengisi perut. Nih punya mu." Langsung memberikannya kepada Young Soon, dan Devian duduk di sofanya juga.
"Terima kasih banyak Devian. Kau memang yang terbaik, dan se hati." Bahagia Young Soon, langsung mendekatkan piringnya. Dan mulai memakannya, sambil menaikkan kaki kanannya ke atas sofa.
"Apa yang Young Soon katakan barusan. Se hati. Apa dia mulai menyukaiku, astaga." Ucap batin Devian, dan pipinya sedikit memerah.
Young Soon meliriknya. "Hei, kepada kau melamun. Makan tuh mienya, keburu dingin." Ujar Young Soon menyadarkannya.
"Eh, iya iya." Jawab Devian, juga langsung menyeruput mie tersebut.
"Ouh ya Devian. Tadi kan aku datang ke lokasi bos Zax, dan besok katanya sudah langsung di laksanakan misi itu. Jadi besok kau harus menyiapkan semua alat alat yang diperlukan. Kau tahu itu kan. Jangan sampai orang tahu, kalau kita ini agen rahasia. Dan jangan sampai, musuh juga tahu keberadaan kita." Memberitahukannya kepada Devian.
Devian kembali meliriknya. "Aman, aku juga sudah tahu soal itu. Omong omong, bagaimana jadinya hubunganmu dengan Bae itu. Mantan tunangan mu itu?." Tanya Devian, sambil mengunyah makanannya.
"Aku sudah tidak memikirkannya lagi. Dia pria yang jelek dan tidak cukup satu wanita. Aku tidak suka dengan pria, yang tidak cukup Dengan satu wanita. Seperti apa ya, kayak besar aja tuh terongnya. Iyyuh." Jawab Young Soon sambil memiringkan bibirnya.
Sontak Devian yang mendengarnya, langsung tersedak. "Uhuk, huk, huk." Kesedak Devian.
"Woy, kau kenapa." Tanya Young Soon, langsung memberikannya air putih, dan Devian pun meminumnya.
"Argh, lega," ucap Devian, sambil mengusap bibirnya.
"Kau kenapa sih, aneh banget dari tadi?." Tanya Young Soon kembali, sambil menaikkan alisnya.
"Tidak apa apa, hanya keselek bagian mie ini tadi. Aku baik baik saja." Jawab Devian tersenyum tipis, dan melanjutkan makannya.
"Apa yang dikatakan Young Soon barusan ya. Apa dia menyukai pria yang terongnya besar. Apa punyaku besar ya, nanti aku cek deh." Ucap batin Devian, sambil melirik Young Soon, yang fokus menyeruput mienya.
"Sama sama, itu bukan apa apa. Karena kau ini adalah bos ku juga. Sudah jadi bagianku, untuk memberikanmu kenyamanan." Jawab Devian ikut tersenyum.
"Ouh ya, kau jadi naik motorku gak, untuk pulang. Mau pulang gak?." Tanya Devian, sambil menaikkan alisnya juga.
"Ouh ya, ini sudah malam ya. Kalau begitu, aku pinjam motormu ya." Jawab Devian meminta kunci motor Devian langsung.
"Apa tidak mau ku antarkan, biar lebih aman." Menawarkan dirinya.
"Tidak perlu, aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau tenang saja kawan. Kalau begitu, aku pulang dulu. Bay." Jawabnya kembali, dan melambaikan tangannya.
Young Soon pun langsung keluar dari rumah Devian, dan mengendarai motor Devian. Young Soon bergegas pergi dari rumah Devian, dan kembali ke rumahnya.
Di perjalanan. Tiba tiba saja ada yang mengikutinya dari belakang. "Seperti ada yang mengikutiku. Terdengar banyak suara motor." Ucap batin Young Soon langsung melihat ke belakang, dan terlihatlah beberapa motor di belakang Young Soon.
"Astaga, geng motor dari mana lagi ini. Mengganggu lagi. Baru saja aku istirahat." Ujar Young Soon menghela nafas panjang.
Young Soon pun langsung memberhentikan motornya di tengah jalan, dan geng motor itupun, ikut berhenti.
Young Soon membuka helmnya. "Mau apa kalian?." Tanya Young Soon.
Tiba tiba saja pria yang paling depan, langsung membuka helmnya, dan ia adalah Tyger Carl. Sontak Young Soon kaget, hingga pupil matanya membesar.
"Tyger, kenapa kau terus mengikuti. Bisa gak sehari saja, jangan ada di depan mataku." Ucap Young Soon.
"Bagaimana aku tidak terus berada di depan mata kamu sayang. Orang aku benar benar menyukaimu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu sayang." Sahut Tyger Carl, sambil tersenyum miring.
"Benar benar pria red fleg nih orang. Menyebalkan juga." Ucap batin Young Soon menahan emosinya.
"Kamu tidak lupa kan, soal janji kita. Kamu kan sudah resmi menjadi pacar saya. Jangan mengingkari janji." Kembali mengingatkannya.
"Iya, iya. Aku ingat soal janji itu. Tapi ada apa mengikutiku?." Tanya Young Soon kembali, sambil melipat kedua tangannya.
Tiba tiba saja ada yang mau memukulnya dari samping. Dengan sigap, Young Soon bisa mendengar suara langkah kaki, dan Young Soon langsung memukul wajah pria tersebut. Dan pria tersebut langsung terlempar cukup jauh, dari tempat ia berdiri.
"Katakan, kenapa mengikuti?." Tanya Young Soon kembali, dan semua pengawal Tyger Carl tercengang dengan Young Soon.
"Wanita itu benar benar kuat. Aku jadi takut dengannya." Ucap pengawal Tyger Carl yang berada dibelakangnya.
"Kenapa wanita itu sangat kuat. Dia bukan wanita yang biasa. Seperti kejadian waktu itu. Saat ia terluka, dan dia tidak sengaja menciumku. Tiba tiba saja, ada sebercak cahaya dari lukanya itu. Dan saat aku melihatnya lagi. Tiba tiba luka itu sudah menghilang. Dia bukan wanita yang biasa." Ucap batin Tyger Carl mengingatnya kembali.
"Hei kau. Kenapa diam saja Tyger Carl. Si mafia yang paling kejam?." Tanya Young Soon kembali, sambil merapikan lengan pakaiannya.
Tyger Carl langsung turun dari motornya. "Aku ingin mengajakmu balapan motor. Bagaimana." Jawab Tyger Carl, sambil menaikkan alisnya.