
Di kamar Young Soon. "Fyuhh, lelah juga berakting didepan mereka. Tapi menyenangkan jika menipu ibu tiri dan Min Hwa itu." Ucapnya tersenyum tipis.
Mengambil kartu alamat yang diberikan Zax tadi. "Aku akan datang ke lokasi ini besok malam. Aku tertarik dengan hal pembunuhan begini, daripada pekerjaan yang diberikan Eun Ju. Lagian, gajinya banyak juga.Bisa kaya dalam sekejap nih." Ucap batinnya langsung berbaring di tempat tidur.
"Aku akan mencoba pekerjaan ini. Kan aku punya kekuatan khusus." Ucapnya sambil menatap kartu tersebut.
"Aku jadi tidak sabar untuk besok."
"Dan, preman preman tadi. Itu semua suruhan ibu tiriku. Lagi lagi dia mencoba menghabisiku. Kau tidak akan bisa melukaiku, karena aku di lahir kan kembali, untuk membalaskan dendamku." Ucap Young Soon mengepalkan tangannya.
Tiba tiba ada yang mengetuk pintunya. "Permisi non, saya boleh masuk?." Ternyata pembantu di rumahnya.
"Masuk." Jawab Young Soon langsung duduk dan memasang ekspresi masih kesakitan.
Pembantu itu pun langsung masuk ke dalam. "Apa sakitnya masih terasa non?." Tanya pembantu tersebut.
"Masih bi, ada apa bi?." Tanya balik Young Soon.
"Saya mau mengantarkan makan malam untuk anda non. Kata ayah anda, non Young Soon tidak perlu kebawah dan saya yang di perintahkan untuk mengantar makan malam ini ke kamar anda non. Di makan ya non." Langsung meletakkannya di atas meja kerja Young Soon.
"Terima kasih banyak bi, bibi jadi repot repot begini." Ucap Young Soon tersenyum.
"Ini sudah pekerjaan saya non, kalau begitu saya duluan ya non. Jangan lupa di makan." Langsung pergi dari kamar Young Soon dan tidak lupa untuk menutup pintunya.
Setelah pembantu rumahnya pergi. "Kebetulan aku laper nih, karena habis minum bersama Eun Ju. Bawaannya lapar." Langsung dan duduk di kursi kerjanya dan mulai menyantap makan malamnya.
"Enak ya, memang masakan bibi yang paling enak." Memuji saat orangnya tidak ada.
"Kalau sendiri begini, rasanya lebih nyaman dan tentram. Daripada bersama nenek bangka itu, sangat menyebalkan dan terus mengoceh dan mencari perhatian kepada ayah." Ucapnya kesal sendiri.
"Aku harus mencari cara, untuk menyingkirkan mereka dan membuat ayah sangat membenci mereka. Aku sudah membuat semua rencana itu dan aku jadi tidak sabar deh." Kembali tersenyum dan menyantap makan malamnya.
Setelah menghabiskan makanannya. Young Soon langsung memainkan ponselnya.
"La, la la." Nyanyi Young Soon sambil memainkan ponselnya.
"Bosan banget nih, mau ngapain ya." Bosan Young Soon.
"Tidur aja deh, lagian ini sudah malam dan aku harus mengunci pintu kamar dulu. Karena banyak kucing liar, yang suka masuk sembarangan ke kamarku." Ucapnya langsung mengunci pintu kamarnya dan berbaring.
"Ngantuknya setelah makan dan minum bir tadi. Tidur deh." Mulai memejamkan matanya.
Keesokan paginya.Young Soon yang masih tidur dengan nyenyak. Tiba tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Sayang, apa kau masih tidur?." Tanya yang tidak lain lagi ialah ayahnya.
"Hua, siapa sih bangunkan aku pagi begini." Bangun Young Soon membuka matanya yang masih lengket.
"Siapa?." Tanya Young Soon masih berbaring.
"Ini ayah sayang, apa kau sudah bangun. Apa boleh buka pintunya dulu?." Jawab ayahnya sekaligus bertanya.
"Tunggu." Jawabnya.
Young Soon langsung berdiri dan membukakan pintu kamarnya. "Ada apa yah, kemari?." Tanyanya.
"Apa kau sudah lebih baik?." Tanya balik ayahnya.
"Aku baik baik saja kok ayah, dan aku sudah mendingan dari sebelumnya." Jawab Young Soon tersenyum.
"Ayah kemari, karena mau mengecekmu saja dan mau mengajak sarapan. Tapi kalau masih sakit, tidak usah turun deh. Biar ayah suruh bibi ambilkan sarapan mu." Ucap ayahnya menjelaskannya.
"Tidak usah ayah, aku akan turun kebawah nanti. Ayah duluan saja, aku sekalian mau mandi dulu, nanti aku nyusul." Jawab Young Soon tidak mau merepotkan bibi rumahnya.
"Baiklah, ayah akan menunggu mu di bawah. Sampai jumpa nanti sayang." Ucap ayahnya melambaikan tangan.
"Sampai jumpa juga ayah." Langsung menutup kembali pintu kamarnya dan langsung bergegas mandi.
Selesai mandi. "Segarnya, masa aku harus berpura pura pincang lagi. Gak mau deh, bilang saja aku sudah sehat."Ucap batin Young Soon sudah berpakaian rapi dan serba hitam seperti biasanya. Langsung turun ke bawah dan menuju meja makan.
Sesampai meja makan. "Maaf membuat kalian menunggu lama." Ucap Young Soon langsung duduk disamping ayahnya seperti biasanya.
"Apa kakimu sudah baik nak?." Tanya Min Soo ibu tirinya.
"Kenapa kau langsung makan dan tidak menunggu yang lainnya. Kami sudah menunggu mu lagi." Ucap Min Hwa langsung menatapnya.
"Kalau kau tidak mau menungguku, kenapa menungguku. Kenapa tidak makan saja dari sebelum aku datang." Ucap Young Soon meliriknya dengan tatapan rendah.
"Karena aku punya sopan santun terhadap yang lebih tua." Jawab Min Hwa dengan tegas.
"Jadi kau pikir, aku tidak punya sopan santun. Dasar." Ucapnya langsung menyantap kembali sarapannya.
"Sudahlah, kalian jangan Berantam lagi. Selalu saja bertengkar." Ucap ayahnya melerai mereka berdua.
"Dia duluan ayah." Ucap Min Hwa menyalahkan Young Soon.
"Dasar." Ucap Young Soon.
"Tuh kan ayah, dia mengataiku." Ucap Min Hwa mengadu kepada ayahnya.
"Sudahlah, jangan begini lagi. Stop!." Ucap ayahnya kesal sendiri.
Sontak Min Hwa kaget dan diam. "Sudahlah sayang, anak anak memang begitu." Ucap Min Soo menenangkan Par Young.
"Terima kasih." Jawabnya.
"Aku sudah siap, aku pergi dulu ayah. Ada urusan yang harus ku selesaikan." Ucap Young Soon langsung berdiri.
"Mau kemana sayang?." Tanya ayahnya.
"Ayah tidak akan mengerti, aku pergi dulu ayahku tercinta. Dahh." Langsung pergi dan membawa helmnya.
"Enak saja dia diperlakukan manis oleh ayah, aku tidak akan membiarkanmu bahagia sedikitpun Young Soon." Ucap batin Min Hwa mengepalkan tangannya dengan keras karena sangat amat marah.
Young Soon langsung pergi dari rumahnya dan menuju taman bunga yang biasanya ia datangi dulu.
Sesampai taman tersebut. "Taman ini masih sama seperti dulu. Aku sering kesini, kalau sedang di maki maki oleh ibu tiri dan kakak tiriku. Inilah tempat curhatku, aku sangat menyukai tempat ini." Ucap Young Soon langsung turun dari motornya dan duduk di kursi para wisata.
"Nyamannya disini, dengan pemandangan bunga dan alam yang menyatu. Aku suka pemandangan ini." Ucapnya menikmati angin dan aroma bunga tersebut.
"Aku jalan jalan sebentar deh, di sekitaran taman ini." Langsung berdiri dan mulai berjalan jalan melihat bunga yang bermekaran.
"La, la la la." Nyanyi Young Soon sambil melihat bunga warna warni yang begitu indah.
"Cantiknya, persis seperti ibu. Cantik dan harum, aku suka bunga ini." Memetik sebatang bunga tersebut.
Bunga itupun langsung di pasangnya didekat telinganya. "Cantiknya, persis seperti ibu." Kembali mengingat almarhum ibunya.
"Dulu juga, aku sering kemari bersama ibu dan ayah. Saat keluarga kami benar benar harmonis dan sangat bahagia. Aku merindukan saat saat itu bu, kapan kita akan bertemu lagi ya bu." Menatap langit.
Tiba tiba ada pria yang menghampirinya. "Halo kak." Panggil pria tersebut.
Menoleh. "Iya, ada apa ya?." Tanya Young Soon kepadanya.
"Saya lihat kakak cantik dengan bunga yang ada ditelinga kakak itu. Apa saya boleh memotret kakaknya?." Tanya pria tersebut sambil memujinya.
"Hahaha, terima kasih banyak atas pujiannya. Boleh, boleh. Apa kamu fotografer?." Jawab Young Soon sekaligus bertanya.
"Iya kak, saya mau mengirimnya, sebagai tugas kuliah saya. Apa kakak bisa membantu saya." Jawab pria tersebut.
"Boleh, boleh, mau model yang gimana. Apa kamu yang tentukan?." Tanya Young Soon menatapnya.
"Terserah kakak nya saja, akan saya potret." Jawabnya.
"Baiklah, aku akan mulai dari ini." Ucapnya mulai bergaya.
Satu, dua, tiga." Cekrek.
"Bagaimana.?." Tanya Young Soon menghampirinya.
"Bagus banget kak, terima kasih banyak kak. Saya duluan." Jawab pria tersebut sangat bahagia dengan hasil foto tersebut dan langsung meninggalkan Young Soon.
"Aneh banget sih pria itu, tapi biarlah. Asalkan dia bahagia." Ucap Young Soon mengusap lehernya.