Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
Extra part 3



#**author cuma mau bilang makasih banyak buat kalian yang udah like dan vote meskipun novel ini masih minim komentar tapi author masih berharap kalian nulis sesuatu yang bisa bikin author semangat di kolom komentar. Jangan lupa kasih bintangnya juga ya๐Ÿ˜Š#


Happy reading ๐Ÿงก๐Ÿ’›**


-------


Sudah setengah jam Sam bolak-balik di pekarangan rumahnya seperti setrikaan. Sejak tadi siang perasaannya tak enak tentang Viana. Berkali-kali ia menghubungi nomor istrinya tapi diluar jangkauan. Wajah cemasnya tak bisa lagi ia sembunyikan. Sesekali ia menoleh kearah gerbang berharap disaat itu juga ia melihat Viana.


Pagi tadi Sam melarang Viana untuk menemui rekan bisnisnya seorang diri karena Sam harus meninjau bisnis propertinya dan tidak bisa menemani Viana. Tapi kepala istrinya itu seperti batu, sangat keras kepala. Viana meyakinkan Sam ia akan baik-baik saja. Mau tidak mau Sam mengizinkan Viana daripada nanti malam ia tak dapat jatah.


Mang Asep sudah pulang sedari siang karena Viana menolak untuk ditunggu supir pribadinya. Viana berdalih ia akan menelfon mang Asep jika urusannya selesai dan meminta untuk menjemputnya. Tapi sudah tiga kali Sam bertanya pada mang Asep sampe detik ini Viana belum juga menelfonnya.


"masih belum pulang juga?" tanya Ira yang melihat Sam mondar-mandir menunggu Viana


"belum" Jawab Sam cemas


"gak biasanya Viana belum pulang lewat jam 8" saut Ira sama cemasnya. Apa jangan-jangan ini ada hubungannya sama Aldo? batin Ira menerka-nerka. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor yang bertuliskan Aldo. Bukannya suudzon, Ira hanya ingin memastikan apakah Viana bersama Aldo atau tidak. Tidak ada yang salah dalam bertanya.


-----


Viana mengerjapkan matanya setelah mendengar dering ponsel yang ia yakini bukan miliknya. Ia kaget bukan kepalang saat Aldo tertidur pulas di sampingnya dengan tangan yang berada di perutnya. Viana lalu membuka selimutnya untuk memastikan Aldo tidak berbuat macam-macam.


Ia menghembuskan nafasnya lega setelah mendapati tubuhnya berpakaian lengkap. Tapi pakaian siapa yang ia pakai? seingat Viana dress yang ia kenakan sudah dirobek oleh Aldo.


Viana menggoyangkan tubuh Aldo agar lelaki itu bangun karena suara ponselnya begitu mengganggu pendengaran Viana, terlalu nyaring bunyinya. Tanpa bersusah payah membangunkan, Aldo sudah membuka matanya.


"udah bangun?" suara Aldo sangat lembut di dengar di telinga Viana


"ponsel elo brisik tau gak?" protes Viana lalu Aldo segera mematikan panggilan tanpa menjawabnya.


"kenapa gak diangkat?" Viana kembali angkat bicara


"jam berapa? gue mau pulang" kedua bibir Viana mengeluarkan pertanyaan dengan ketus.


"jam delapan lebih 20 menit" jawab Aldo santai


"apa?????" Sontak Viana tak percaya. Sudah seharian Aldo menyekapnya. Sam pasti sangat mencemaskannya. "gue mau pulang" pinta Viana memelas.


"lo makan dulu" titah Aldo namun Viana menggelengkan kepala. Viana yakin Sam sudah menunggunya di rumah.


"ya udah kalo lo gak mau makan lo harus tetap disini!" kata-kata yang Aldo keluarkan bagaikan ancaman bagi Viana. Sepertinya kali ini Viana harus sedikit mengalah. Selama permintaan Aldo tidak di luar nalar, Viana akan menurutinya agar ia bisa pulang.


Viana mengikuti Aldo ke ruang makan. Ia bisa mencium aroma makanan yang sudah disajikan di meja makan. Jika tadi Aldo tidur dengannya lalu siapa yang menyiapkan makanan? mungkin Aldo sekarang memiliki asisten rumah tangga yang mengurus semua kebutuhannya termasuk membersihkan apartemen karena Viana lihat apartemen Aldo sangat bersih.


Viana duduk manis di kursinya. Aldo menyendokkan nasi dan beberapa lauk untuk Viana. Viana menerimanya meski hatinya sangat kalut memikirkan Sam yang pasti sedang menunggi kepulangannya. Satu suap makanan masuk ke dalam mulut Viana. Ia mengunyahnya tanpa selera. Baru juga makanan itu masuk ke kerongkongannya perut Viana kembali merasa mual. Lagi-lagi Viana harus berlari ke kamar mandi terdekat. Beruntung dapur Aldo dilengkapi dengan westafel sehingga Viana bisa memuntahkan isi perutnya lebih dekat.


Viana hanya memuntahkan cairan bening karena sejak ia muntah tadi sore, perutnya sama sekali belum terisi apa-apa. Tubuhnya kembali lemas setelah muntah. Badannya juga terasa tidak enak.


Aldo memapah tubuh Viana dan kembali mendudukannya di kursi makan. Dengan penuh pengertian, Aldo membuatkan Viana susu jahe agar mualnya segera mereda. Viana menerimanya dan segera menghabiskan susu jahe buatan Aldo. Untuk kali ini perutnya baik-baik saja dan tidak kembali memuntahkan sesuatu yang baru memasukinya.


"makasih" ucap Viana dibalas dengan senyuman Aldo dan elusan di kepalanya. Viana merasa tenang dengan sikap Aldo yang kembali lembut.


"lo masuk angin?" Aldo menggeser kursinya ke samping Viana


"mungkin. Tapi tadi pagi gue baik-baik aja" jawab Viana


"besok kita cek ke dokter ya" ajak Aldo seolah ia yang menjadi suami Viana.


"bentar. Sekarang tanggal berapa?" tanya Viana yang merasa ganjal dengan sakitnya.