
"Selamat tinggal Viana, selamat tinggal Jakarta" batin Aldo sambil melihat jalanan ibu kota yang penuh dengan kenangan. Tanpa sadar, airmatanya sudah membendung ingin menyeruak keluar. Namun ia tahan. Hatinya benar-benar berat meninggalkan gadis yang ia cintai namun ini adalah pilihan terbaik baginya dan bagi Viana.
Lagi pula gadis yang ia cintai lebih bahagia dengan yang lain. Bukan berarti Aldo menyerah, hanya saja Viana tak memberinya celah. Mungkin perjalanan cinta Aldo memang harus berakhir sebelum di mulai.
Matanya terus menyusuri jalanan yang pernah ia lewati dengan Viana. Bibirnya tersenyum namun hatinya begitu perih. Mulai hari ini, ia akan memanen rindu-rindu kepada gadis yang mungkin akan menjadi milik orang lain.
Tuhan, andaikan waktu bisa diputar kembali. Ingin rasanya aku bersikap manis, berlemah lembut, tidak berdebat, dan perhatian pada dia. Akan aku buat ia senyaman mungkin saat berada di dekat ku. Aku sungguh tidak ingin berpisah darinya. Setidaknya beri kesempatan terakhir untuk bisa melihat dia.
Begitulah do'a-do'a yang ia panjatkan dalam hati sepanjang perjalanan. Angan-angan terus saja bertolak titik pada Viana. Tapi jika ia ingat kejadian sore kemarin rasanya ia benci sekali sudah mencintai Viana. Mungkin sudah ditakdirkan Aldo harus melupakan Viana.
Mobilnya sudah sampai di Bandara Soeta. Setelah mengecek semuanya sudah lengkap, ia langsung masuk ke pesawat tanpa menunggu lama karena jadwal keberangkatan 5 menit lagi. Pandangannya nanar.
"Selamat tinggal hati" gumam Aldo saat pesawat lepas landas.
####
Kondisi Viana hari ini semakin membaik. Dokter membolehkannya pulang sore nanti. Ira yang setia menjaga Viana baru saja membeli makanan di kantin. Sedangkan hari ini Sam ada jadwal. Dia akan menjemput Viana sore nanti.
Entah karena apa, namun pagi ini hati Viana gelisah. Ia tidak nafsu untuk makan apalagi tidur. Padahal kemarin ia sangat senang namun suasana hatinya berubah drastis pagi ini. Mungkin efek sakit pikirnya.
"Vi lo belum sarapan. Makan gih nanti lo gak jadi pulang sore nanti"
"gue kenyang"
"elo kenapa sih kaya ada yang gak beres" kata Ira
"gak tau perasaan gue gak enak aja" jawab Viana dengan muka masamnya
"ini efek elo belum dijenguk Aldo kali" kata Ira asal
"mana gue tau. Emang gue istrinya" ketus Ira "udah mulai perhatian nih yeee" sambung Ira dengan nada menggoda
"ih apaan. Gue khawatir aja nanti kalo masuk kantor malah kena omelan"
"kan dia tau elo lagi sakit"
"oh iya ya. kenapa gue jadi bego gini" Viana memukul kepalanya pelan
"udah dari sononya"
"huuu... sialan" Viana melempar bantal ke arah Ira.
Setelah perkelahian mulut mereka berdua, Ira membantu Viana mengemasi barang-barangnya.
"oh iya ra gue belum bayar administrasi rumah sakit. Elo bawa dompet gue gak?" tanya Viana sambil mencari keberadaan tasnya
"elo gak usah mikirin itu. Semua biaya rumah sakit lo udah ditanggung Sam"
"serius?" Viana terkejut senang. Namun ia juga merasa tidak enak karena selalu merepotkan Sam.
"duarius malah"
"ko elo gak nolak sih? gue kan bisa bayar sendiri. Bikin gue makin berhutang budi aja lo sama Sam" protes Viana
"rezeki gak boleh ditolak" jawab Ira singkat.