
"au" erang Aldo mengompres pipi bengkaknya mencoba menarik perhatian Viana yang sedang mengompres luka Sam yang lebih parah.
Tau dengan akal-akalan Aldo, Viana mengabaikannya. Bukannya tidak perduli tapi Viana paham betul dengan sifat Aldo yang suka berpura-pura demi mendapat perhatiannya.
"elo gak apa-apa?" tanya Ira mengambil alih handuk dan air hangat di tangan Aldo lalu membantu Aldo mengompresnya. Aldo tidak menjawab pertanyaan Ira. Matanya masih fokus melihat ke arah Viana yang sedang merawat Sam yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit.
"selesai" ucap Viana dan Sam tersenyum. "kamu istirahat dulu biar cepet sembuh" sambung Viana lalu menghampiri Aldo yang duduk di sofa ruangan Sam dirawat. Untuk kali ini, Aldo lebih memilih mengalah dan berdamai dengan Sam. Tapi ia tidak membiarkan Sam memiliki kesempatan berduaan dengan Viana. Itu sebabnya dia meredam egonya dan memilih ikut ke rumah sakit ketimbang pulang kerumahnya.
"sakit" ucap Aldo manja saat Viana menghampirinya.
"siapa suruh berantem! Pada sok jagoan" ucap Viana ketus lalu mengambil alih handuk dan mengompres luka Aldo.
"gue beli minum dulu" pamit Ira sebelum keluar membeli minum karena tenggorokannya kering.
"giliran ke gue jawabannya ketus" protes Aldo. Mendengar itu Sam terkekeh.
"gak usah ketawa deh lo" umpat Aldo "aaaaa... jangan keras-keras" jerit Aldo kesakitan saat Viana mengusap lukanya kasar.
"bisa diem gak?!" tegas Viana
"iya nyonya" jawab Aldo
"gue masih nona ya belum jadi nyonya" komen Viana tak setuju dengan panggilan yang dilayangkan Aldo.
"kata siapa?" tanya Aldo
"gue lah" jawab Viana
"elo itu nyonya. Nyonya Aldo!" jelas Aldo membuat pipi Viana merah karena malu. Tanpa menjawab
"gue mau nyusul Ira sekalian beli makan buat kalian" ucap Viana lalu pergi meninggalkan Aldo dan Sam.
"tolong jaga Viana" ucap Sam
"tanpa lo minta pun gue akan jaga dia dengan baik" jawab Aldo
"gue serius" kata Sam lagi
"sejak kapan gue bercanda?" tanggap Aldo
"maaf karena aku jadi penghalang cinta kalian berdua"
"gara-gara elo gue harus berjuang dari nol lagi. Bahkan kali ini lebih berat karena gue harus sembuhin luka di hatinya karena elo dan menghapus cinta elo dari hatinya!" timpal Aldo meluapkan emosinya
"kamu kenapa bisa tau aku disini?" tanya Sam
"tadi Viana telfon"
"oh"
"Gofar dan Hilmaz lagi di jalan menuju kesini"
"aku gak apa-apa" kilah Sam
"lihat, luka kamu cukup parah dan besok kita harus balik ke Prancis"
"aku tau tapi aku gak apa-apa"
"apa yang terjadi sebenernya?" tanya Dinand mencoba memahami situasi
"hanya masalah kecil" jawab Sam
"dia coba bawa kabur Viana dari gue!" jelas Aldo menanggapi pertanyaan Dinand.
"kamu?" tanya Dinand mencoba mengingat-ngingat wajah Aldo yang tak asing.
"gue mantan manajer Viana sekaligus calon suaminya" timpal Aldo
"ah... jadi kalian berkelahi karena Viana" Dinand mengangguk paham akar permasalahan sahabatnya.
"bisa dibilang begitu" jawab Aldo dan Sam hanya diam seribu bahasa.
"sudah berapa kali aku ingatkan kalau kamu sudah beristri Sam" tukas Dinand dan Sam masih tetap diam.
"aku tau kamu tulus mencintai Viana tapi dia tidak akan mungkin jadi milik kamu" lanjut Dinand serius.
"aku gak bisa mengendalikan perasaan ini" jawab Sam lirih
"lupakan gadis itu dan fokus pada keluarga kamu"
"dengerin kalo ada orang ngomong" kata Aldo tak bisa menyembunyikan kekesalannya pada Sam.
Sam memejamkan matanya. Ia menghembuskan nafasnya kasar. Fikirannya frustasi jika ia harus melupakan Viana karena ia tidak yakin bisa melakukan hal tersebut. Jika saja ada pilihan mati atau melupakan, Sam sudah pasti akan memilih mati ketimbang melupakan Viana, gadis yang amat ia cintai.
Walau berat meninggalkan Viana setidaknya ia tenang karena ada seseorang yang akan menjaga Viana dengan cinta yang tulus bahkan melebihi cintanya pada gadis itu.