
Di kantor, Jojo sudah berada di ruangan menghandel semua pekerjaan yang diberikan manajernya. Viana hari ini izin tidak masuk kerja. Jojo mengorek-ngorek meja Viana seperti mencari sesuatu. Entah apa yang ia cari namun tindakannya begitu mencurigakan. Jojo kemudian meraih ponselnya dan menelfon seseorang sambil memelankan suaranya.
---------
Sudah tiga hari Sam terbaring di rumah sakit dan belum juga sadar dari komanya. Disana sudah ada Dinand, Hilmaz, dan Gofar yang sedang menunggui sahabatnya itu.
Viana memang sudah menghubungi ketiga sahabat Sam. Walau bagaimanapun juga ia yang nantinya akan disalahkan jika terjadi apa-apa dengan Sam. Itu sebabnya Viana harus mengabari ketiga sahabat Sam tentang kondisi Sam.
Viana tampak sedikit kurus karena selama tiga hari ini ia sedikit makan karena tidak berselera melihat Sam masih dalam keadaan antara hidup dan mati.
"minum..."
Suara itu membuyarkan lamunan para penghuni ruangan Sam. Di dapatinya Sam yang sudah sadar dan tangannya mencoba mengambil gelas di meja sampingnya.
Viana yang mengetahui hal itu langsung meraih gelas dan meminunkannya pada Sam perlahan dengan perasaan yang begitu senang karena Sam sudah sadar.
" gimana keadaan kamu sekarang?" tanya Hilmaz yang juga merasa lega dan senang melihat Sam sadar
"aku gak apa-apa" jawab Sam kemudian meringis karena kepala masih sakit.
"yakin?" tanya Dinand
"kamu mimpi apa sih selama 3 hari?" tanya Gofar
"maksudnya?" Sam masih belum mengerti pertanyaan Gofar
"kamu koma selama 3 hari" jawab Dinand
"are u kidding me?" jawab Sam tak percaya
"tanya aja sama Viana" ucap Dinand sambil melihat kearah Viana.
"sayang ko kamu jelek banget sih" ledek Sam sambil terkekeh. Viana yang mendengar ledekan Sam kemudian mencubit tangan Sam.
"au... sakit" jawab Sam yang mengelus tangan bekas cubitan Viana.
Dokter kemudian datang dengan suster dan Ira. Barusan Ira ke ruangan dokter setelah melihat Sam siuman. Dokter langsung memeriksa keadaan Sam.
"Doa-doa kalian terkabul. Pasien baik-baik saja" ucap dokter dengan senyum bahagia karena kondisi Sam meningkat drastis tidak seperti kemarin-kemarin.
"tapi pasien masih belum pulih. Dia masih butuh istirahat yang cukup" lanjut Dokter.
"berapa hari lagi aku harus dirawat dok?" tanya Sam
"lusa sudah boleh pulang" jawab dokter kemudian permisi meninggalkan ruangan.
"kamu laper?" tanya Viana penuh perhatian "aku beliin bubur ya" tawarnya.
"gausah sayang. Biar mereka aja yang beli makan. Kamu disini aja temenin aku" terang Sam sambil melihat ke arah ketiga sahabatnya.
"gak apa-apa. Biar aku aja." kata Viana tanpa melepaskan senyum bahagianya lalu menggandeng Ira untuk membeli makanan.
"kalian kenapa balik lagi?" tanya Sam pada sahabat-sahabatnya setelah kepergian Viana dan Ira.
"kamu kenapa bisa begini sih?" tanya Gofar penasaran
"mungkin malem itu aku kurang berhati-hati" kata Sam
----------
Viana dan Ira melangkah beriringan. Kebahagiaan di hati Viana tak bisa dilukiskan. Seperti baru disinari matahari setelah sekian hari wajahnya begitu berseri.
"cie" goda Ira
"apa sih lo" komen Viana
"orang gila"
"mana"
"ini disamping gue"
"sembarangan lo!" kata Viana mulai berdebat.
"lah emang iya. Kalo lo gak gila ngapain lo senyum-senyum sendiri?"
"kapan gue senyum sendiri?"
"tadi di sepanjang jalan. Emang dasar orang gila gak pernah ngerasa"
"masa sih? coba mana kaca" Viana mengulurkan tangannya kesamping menunggu kaca dari Ira.
"terus lo mau ngaca sambil jalan gitu?" tanya Ira enggan memberi kacanya.
"iya. Tadi Sam bilang muka gue tambah jelek" kata Viana sambil merapikan rambutnya.
"dari dulu juga lo jelek" ledek Ira
"mana kacanya?"
"amit-amit gue punya temen kaya lo" kata Ira sambil memberikan kacanya pada Viana.
Viana tidak mengindahkan ucapan Ira. Ia kini fokus dengan kaca di tangannya sambil terus berjalan tanpa melihat ke depan.
Bruuuukkkk
Viana terjatuh karena menabrak seseorang yang membelakanginya.
"kalo berdiri jangan di tengah jalan!" protes Viana sambil bangun dari posisi terjatuhnya. Sedangkan Ira terkekeh melihat Viana terjatuh karena hanya memperhatikan kaca yang di genggamnya.
Dilihatnya orang yang baru saja di tabraknya. Matanya terbelalak. Mukanya berubah menjadi tak menyenangkan. Plaaaaaakkkk!! Sebuah tamparan mendarat telak di wajah orang tersebut. Viana kemudian menarik Ira dan meninggalkan orang itu yang masih meringis dan malu karena mendapat tamparan di depan umum.
"sialan!!! tunggu pembalasan gue" gumamnya sambil mengelus pipinya.
#Jangan lupa like dan komennya karena like dan komen kalian menyemangati author untuk up lagi dan lagi#😍😍😍😍