
Meli pulang dengan muka ditekuk setelah mendapat penolakan dari Aldo. Sebenarnya yang membuat Meli kesal bukan karena penolakan Aldo melainkan Meli benci melihat Aldo pergi dengan Viana meskipun mereka tidak pergi berdua.
Meli membuka tirai jendela kamarnya. Semilir angin masuk dari celah jendela yang ia buka mengusik batinnya. Meli mendengus kasar. Hatinya gusar. Ia berpikir keras bagaimana memutar balikan hati Aldo agar ia bisa jatuh ke pelukannya.
Samar tapi pasti Meli mendengar ketukan pintu kamarnya. Ia masih tetap beringsut dan enggan membuka pintu. Tiba-tiba pintu kamar terbuka oleh seseorang yang tadi mengetuk pintu walau belum mendapat izin dari empunya.
"hai sayang" Sapa Rendi menggoda adiknya yang sedang bad mood. Meli melirik Rendi sekilas lalu mengalihkan pandangannya lagi keluar jendela.
"adek gue yang paling cantik sekamar ini ko cemberut gitu sih? ada apa?" Meli tetap diam beberapa detik kemudian mulutnya terbuka.
"apa kakak bilang? paling cantik sekamar ini? ish... enak aja!!" protes Meli makin kesal namun tiba-tiba sikap manja pada kakaknya kambuh.
"kak..." panggil Meli dengan nada memelas
"Apa?
" Gue lagi kesel sama Aldo. Dia jalan sama cewek yang waktu itu gue nemuin foto dia di kamar Aldo" Ungkap Meli
"Berdua?"
"Gak sih.. Berempat"
"Oke.. Trus masalahnya dimana?"
"Ya gue kesel lah kak. Gue kan suka sama Aldo mana rela gue ngliat dia sama cewek lain dan kakak tau gak Aldo bilang dia gak suka sama gue. Lebih parahnya lagi dia malah ngebelain tuh cewek. Ah..!!! Meli membanting tubuhnya ke ranjang dengan posisi tengkurap
" Dia bilang itu ke elo?" Tanya Rendi memastikan dengan emosi mulai naik. Meli mengangguk.
"Bener-bener gak bisa dibiarin" Lanjut Rendi
"Kakak elo bantuin gue buat dapetin Aldo. Apapun caranya!" Rengek Meli seperti anak kecil yang minta dibelikan sesuatu dan harus dituruti.
"lo tenang aja Mel. Selama kakak lo masih bernafas apapun yang elo mau akan gue penuhi"
Meli puas mendengar jawaban kakaknya. Ia segera bangkit dan memeluk kakak kesayangan dan satu-satunya yang sedang duduk menyender di sofa kamarnya.
"makasih kak" ucap Meli lalu mengecup pipi rendi. Rendi lalu menunjuk dahi meli dengan jari telunjuknya dan menjauhkan muka adiknya hingga ia terdorong ke belakang.
"ih.... elo orang apa buldog sih... pipi gue jadi basah kan" protes Rendi cepat-cepat mengelap pipinya. Meli hanya terkekeh
"kalo kaya gini yang ada gadis di luar sana gak ada yang mau nyium gue" lanjut Rendi lagi.
"biarin... weee" ucap Meli menjulurkan lidahnya lalu beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"apa? gue gak denger" saut Meli yang sudah menyalakan showernya. Rendi lalu meletakkan undangan yang ia selipkan dibalik kemejanya ke meja rias Meli lalu beranjak pergi.
******
"sumpah gue masih kaget dengan cerita elo" ujar Ira yang berbaring di samping Viana dan keduanya menatap langit-langit kamar kosan mereka.
"cerita yang mana?" tanya Viana
"yang katanya elo dapet harta melimpah dari Sam"
"oh itu.... liat aja tuh berkasnya gue simpen di laci" jawab Viana sambil menunjuk laci meja disudut kamar mereka.
"elo mau apain uang sebanyak itu?" tanya Ira lagi. Belum sempat Viana menjawab, dering telfon Viana memutus percakapan mereka.
"ada apa lagi sih?" Ucap Viana masih jengah dengan kejadian 2 hari yang lalu.
"elo minggu depan sibuk gak?" tanya Aldo di seberang sana
"bukan urusan elo" ketus Viana
"ehem... gue mau ngajak elo buat hadiri acara penrnikahan...."
"oh baguslah.. akhirnya lo nikah juga sama cewek itu" ucap Viana santai meski hatinya bergemuruh.
"hah? bukan gue yang mau nikah"
"trus?"
"makanya lo jangan potong dulu kalo ada orang ngomong"
"hem"
"gue mau ngajak elo hadiri pesta pernikahan temen gue. Jojo juga nanti mau ngajak Ira. Barangkali cepet ketularan.. hehe" canda Aldo "ya itung-itung double date" sambungnya lagi.
"gue pikir-pikir dulu" jawab Viana
Tut...tut...tut...
Viana mematikan panggilannya. Sekilas bibirnya tersenyum kecil walaupun ia masih kesal dan bisa dibilang cemburu dengan meli. Meski demikian Ia senang karena Aldo lebih memilih mengajaknya ketimbang Meli.