Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
Penghianatan



Viana bersiap-siap pergi ke apartemen hadiah pernikahan dari Aldo untuk mengambil kartu undangan yang sengaja mereka simpan disana. Viana sudah menyuruh seseorang untuk menyebarkan undangan ke teman-teman Viana. Sebenarnya Viana rindu pada Aldo setelah beberapa hari mengabaikannya. Viana ingin bersua dengan calon suaminya.


Viana yang beberapa hari ngambek pada Aldo mulai meredam egois dan emosinya dan berniat akan menghubunginya setelah sampai disana sekaligus ia ingin bicara dengan Liana untuk segera pindah ke tempat lain asal bukan diapartemennya. Bila perlu Viana akan turun tangan untuk mengusir Liana dari apartemen hadiah calon suaminya jika Liana enggan pergi dari tempat itu.


Hari ini keadaan hati Viana cukup baik. Wajahnya pun sudah ceria kembali tidak seperti kemarin-kemarin yang terlihat murung. Viana ingat dengan perkataan Ira bahwa ini adalah ujian menjelang hari pernikahan mereka. Itu sebabnya Viana belajar menerima setiap kejadian yang menimpanya.


Viana sudah sampai di depan pintu apartemen lalu menekan pascode apartemennya. Ia masuk perlahan mencari keberadaan wanita yang menjadi penyebab pertengkarannya dengan Aldo akhir-akhir ini namun tidak ia temukan.


Matanya memandang sekeliling apartemennya yang sangat bersih. Mungkin Liana rajin membersihkan setiap jengkal apartemen ini hingga debupun tak Viana dapati. Viana melenggang ke ruang tengaj dimana ia dan Aldo menaruh kartu undangan mereka.


Setelah mengambil kartu undangan, Viana mengecek dapurnya. Semua perabotan tertata rapi. Disana juga terdapat beberapa hidangan makanan yang sepertinya Liana masak untuk dirinya sendiri. Viana lalu mengambil gelas dan meneguk air putih untuk membasahi tenggorokannya.


Setelah itu ia melenggang pergi menuju kamar utama untuk merebahkan tubuhnya sebentar sebelum menjalankan aktifitas yang akan sangat melelahkan tubuhnya hari ini menilik jadwal kegiatan Viana sebagai pebisnis muda sangat padat.


Viana membuka pintu kamar utama yang rencananya akan menjadi kamarnya dengan Aldo. Namun saat melihat pemandangan di depannya, ia membungkam mulutnya tak percaya. Viana mundur selangkah. Badannya sempoyongan karena lututnya lemas. Kembali airmatanya berlinang membasahi pipi mulusnya. Tangan kirinya memegang dadanya yang terasa sesak.


Viana yang melihat adegan menyakitkan itu menangis terisak tanpa suara. Pandangan matanya kabur. dunianya hancur dan harapannya lebur. Viana sempoyongan. Ia roboh di luar pintu kamarnya. Viana tak tahan melihat pemandangan di depannya. Ia ingin segera pergi bila perlu pergi sejauh mungkin.


Viana keluar dari apartemennya dengan merangkak karena tak memiliki tenaga untuk berdiri. Ia merasakan sakit di lututnya namun tak sesakit hatinya. Darah berceceran dari lutut Viana namun tak ia hiraukan. Viana terus merangkak keluar tak ingin menyaksikan dua makhluk yang sudah menghancurkan hatinya.


Belum juga lukanya sembuh beberapa hari yang lalu, kini Aldo sudah menorehkan luka yang jauh lebih sakit dari sebelumnya. Viana menangis sejadi-jadinya. Ia tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Ia tidak bisa menerima penghianatan kali ini.


Viana memukul-mukul tangannya di tembok luar apartemen Aldo dengan tangan sudah lecet dan memar disertai airmata yang semakin deras melebihi derasnya banjir bandang di ibukota. Namun ditengah tangisnya tiba-tiba ponselnya berdering. Viana merogoh ponsel di dalam tasnya dengan tak bertenaga lalu menjawab panggilan.


"halo?" ucap Viana menghapus airmatanya


"Sam?" lanjutnya dengan tangan gemetaran.


##bersambung##