Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
Gifts



Ira masuk ke kamar Viana tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Viana yang sedang menata pakaiannya di lemari barunya tidak mengetahui kedatangan Ira yang duduk di samping ranjang big sizenya.


"jadi dimana?" tanya Ira tiba-tiba. Viana terperanjat sambil memegang dadanya.


"setan!" umpatnya yang kaget dengan kehadiran Ira. Ira terkekeh.


"jadi elo sama Aldo mau tinggal dimana setelah nikah?" tanya Ira lagi


"gue niatnya mau minta dibeliin apartemen buat tinggal kita berdua nanti" jawab Viana yang masih menata pakaiannya.


"elo kan udah punya rumah sendiri ngapain beli apartemen?"


"ya gue pengen aja. Rumah ini sebagai tabungan masa depan gue. Kita kan gak tau kedepannya gimana"


"tapi elo gak akan ngusir gue dari sini kan?" tanya Ira


"tergantung" jawab Viana santai


"maksud lo?"


"ya selagi elo bermanfaat gue gak akan ngusir elo. Kebetulan gue belum ada pembantu disini" ucap Viana sambil nyengir kuda penuh maksud.


"elo mau jadiin gue pembantu? sahabat macam apa lo!!" rutuk Ira sambil menyilangkan tangan di depan dada.


"hahaha..." tawa Viana terbahak-bahak. "keluar sana! gue mau turun dulu" Viana mengusir Ira dari kamarnya.


"turun tinggal turun aja" jawab Ira lalu merebahkan tubuhnya dikasur empuk Viana dan memajamkan matanya.


"ish... bangun gak!" suruh Viana sekali lagi. Namun Ira tidak bergeming dan melanjutkan rebahannya tanpa menjawab Viana.


Viana lalu meninggalkan Ira yang masih betah di kamar mewahnya. Ia turun ke lantai 1 dan masuk ke kamar pribadinya yang berpintu silver. Viana mengunci pintu rapat agar tidak ada seorangpun yang mengganggunya.


Viana memandangi foto seseorang yang ia bawa di dalam kopernya dan meletakannya di meja rias kamar pribadinya. Ia mengelus permukaan foto itu pelan. Tak terasa airmatanya tumpah. Viana menangis terisak. Entah apa yang ia rasakan sekarang.


Tiba-tiba dering telfon menghentikan tangisnya. Ia meraih ponsel dan melihat nama Aldo tertera di layar ponselnya.


"halo"


"ya halo... lagi ngapain?"


"gak lagi ngapa-ngapain" jawab Viana sambil mengelap ingusnya yang sudah keluar mencapai ujung lobang hidungnya.


"entar malem gue jemput ya. Gue mau ngajak lo dinner"


"oke"


"iya" jawab Viana tanpa memberi tahu bahwa ia sudah pindah tempat tinggal.


******


Viana segera bergegas pergi ke kosan lamanya dengan diantar mang Asep. Sebelum jam 7 ia harus sudah sampai disana agar Aldo tidak curiga. Viana menunggu di luar gerbang mantan kosannya. Belum 5 menit menunggu Aldo sudah sampai disana. Viana menghembuskan nafasnya lega.


Aldo membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Viana masuk. Mobil mereka melaju ke sebuah restoran yang cukup mewah dikawasan Jakarta pusat. Viana masuk ke restoran dengan merangkul lengan Aldo. Mereka tampak serasi malam ini.


"lo suka tempatnya?" tanya Aldo yang duduk di depan Viana


"suka" jawab Viana senang. Aldo tersenyum lalu mengelus punggung tangan Viana.


Ditengah makan malamnya, pelayan restoran membawakan 3 baki yang ditutupi tudung saji ke meja mereka.


"elo pesen makanan lagi?" tanya Viana


"iya. Itu spesial buat elo" jawab Aldo


"tapi gue udah kenyang"


"buka aja dulu" pinta Aldo dan Viana menurut. Ia membuka tudung saji itu dan matanya terbelalak. Bukan makanan yang ia dapatkan tapi 28 coklat yang semuanya berbeda merk. Ada yang dari dalam negri dan luar negri. Viana tersenyum senang karena mendapat hadiah camilan favoritnya, coklat.


"kenapa 28?" tanya Viana penasaran


"sesuai tanggal lahir calon istri gue" jawab Aldo


"sok tau" Dalam hati Viana merasa bahagia karena Aldo tau tanggal lahir dan kesukaannya padahal Viana tak pernah memberitahu hal itu sebelumnya.


"tapi bener kan?" tanya Aldo dan Viana mengangguk. Viana lalu membuka hadiah yang kedua. Hatinya bertambah senang karena mendapat 4 buket mawar merah dan putih.


"jangan bilang 4 buket ini sesuai dengan bulan kelahiran gue" sergah Viana dan Aldo terkekeh.


"calon istri gue emang pinter" jawab Aldo lalu mengacak rambut Viana.


"ish..." Viana mendengus kesal sambil merapikan rambutnya. Setelah itu, ia membuka hadiah ketiga. Viana menutup kedua mulutnya tak percaya karena ia mendapatkan sebuah kunci dan pascode.


"ini...?" tanyanya tanpa melanjutkan pertanyaan.


"kunci mobil dan pascode apartemen baru buat kita berdua" jawab Aldo santai.


Belum juga Viana mengutarakan permintaannya untuk dibelikan apartemen tapi Aldo sudah memberikannya terlebih dulu seakan ia mengerti apa kebutuhan dan keinginan Viana.


Viana berpindah tempat duduk di samping Aldo lalu memeluk calon suaminya itu sebagai ungkapan terimakasih dengan hadiah-hadiah yang Aldo berikan padanya. Viana dapat mencium aroma maskulin dari tubuh Aldo yang membuatnya enggan melepaskan pelukan. Aldo yang sadar menjadi pusat perhatian tidak memperdulikan mereka karena Aldo juga nyaman dalam posisi ini.