
Dering telfon membuat kamar kosan yang dihuni dua makhluk cantik jadi berisik. Sedari tadi benda pipih itu berbunyi namun belum ada yang menghiraukan.
"woy nenek gayung ada telfon" panggil Ira pada si empunya ponsel yang sedang melakukan ritual mandinya. Entah terdengar atau tidak namun belum ada jawaban dari kamar mandi. Hanya ada suara gemericik air dari keran yang terus menyala
"nenek gayung!" panggil Ira lagi asal sambil mengetuk pintu kamar mandi
"iya gue denger lo nenek lampir" saut Viana dari dalam kamar mandi.
"ada telfon noh dari suami elo" kata Ira sambil menatap layar ponsel Viana
"gue belum nikah bego!" teriak Viana dari dalam kamar mandi agar Ira mendengar suaranya. Tak lama kemudian Viana keluar dengan hanya memakai handuk yang membuat tubuh seksinya terlihat jelas.
"halo" kata Viana berbicara dengan Sam di telfon. Ira tidak memperdulikan percakapan Viana dan Sam. Ia tetap fokus menyetrika bajunya untuk ia kenakan ke kantor. Tak lama Viana menutup telfonnya.
"ngajak jalan ya?" tanya Ira
"kepo!"
"gak sih. Cuma pengen tau banget" ujarnya
"sama aja!"
"udah sana ganti baju. Gak ngefek ke gue meskipun lo telanjang juga gue gak bakal tertarik"
"et...dah... ini bocah. Lagian gue cuma bikin cowo yang tertarik sama gue bukan cewe. Amit-amit... lo kira gue lesbi!" seru Viana. Ira menjadi terkekeh mendengar ocehan Viana.
"pulang ngantor nanti gue mau ada perlu sama Sam" kata Viana. "lo gak papa kan pulang sendiri?" sambungnya lagi
"udah biasa gue pulang sendiri!" ketus Ira. Viana tertawa kecil karena ia memang sering dijemput Sam dan Ira pulang sendiri. Bukannya Viana tega, tapi Viana harus profesional sebagai partner bisnis Sam tidak perlu mencampurkan Ira dalam urusan mereka berdua. Berpartner bisnis dengan Viana membuat kesempatan Sam untuk mendekati Viana jauh lebih mudah.
---------
"Ra gue cabut ke ruangan dulu ya" Viana melangkahkan kakinya dengan terburu-buru.
"selamat pagi bu" sapa asistennya sambil berdiri menyambut kedatangan Viana
"selamat pagi juga" balas Viana dengan senyum sumringah
"saya Jonathan, asisten baru ibu. Mohon bimbingannya dalam bekerja nanti" kata Jonathan sopan
"katanya kamu pindahan dari perusahaan cabang ya?" tanya Viana
"iya bu" Jawabnya dengan kepala masih menunduk
"selamat datang di kantor baru. Oh iya saya panggil kamu apa nih?"
"saya biasa dipanggil Jojo bu"
"baik! Jojo tolong saya ambilkan berkas kenaikan harga emas di sekretaris ya. Ruangnnya lurus aja nanti ada tulisannya ko" Viana langsung menugasi Jojo.
Jojo langsung menuruti perintah manajernya mengambil berkas di sekretaris. Karena masih baru, Jojo menunduk malu ketika banyak wanita yang melihat ke arahnya dan
Bruuuuukkk...
Isi tas Ira berhamburan saat seseorang menabraknya. Ira memang tidak melihat ada seseorang di depannya karena matanya fokus mencari pulpen di dalam tasnya. Dilihatnya seseorang yang sudah menabraknya yang kini sedang memunguti isi tas Ira.
"nih" Jojo menyodorkan tas Ira yang sudah lengkap dengan isinya. Mata Ira terus fokus memandangi wajah manis Jojo yang mulus sehingga ia tidak sadar Jojo sedang menyodorkan tasnya.
"hey!" seru Jojo yang membuyarkan lamunan Ira
"ah...iya...makasih" kata Ira yang matanya belum berkedip. Seolah ia baru pertama kali melihat seorang pria.
"aku duluan ya... dah..." pamit Jojo sambil melambaikan tangannya.