
Meli menghentakkan kakinya kesal lalu menghampiri Rendi. Ia melipat tangannya di depan dada dengan muka cemberut yang tak sedap dipandang. Sedangkan Rendi, ia tau pasti kali ini rencana mereka tidak berjalan dengan mulus.
"cewek sialan itu... aaaarhh" sungut Meli mengepalkan kedua tangannya
"gagal?" tanya Rendi santai.
"ini semua gara-gara cewek sialan itu kak!" ucap Meli dengan nada tinggi.
"kenapa bisa begitu? kenapa lo gak langsung minumin aja ke Aldo?" tanya Rendi. Meli berfikir sejenak. Kenapa ide itu tidak muncul dibenaknya. Setidaknya ini menghindari Viana menyerobot gelas dan meminumnya.
"kenapa kakak gak bilang sih?" Meli balik menyalahkan kakaknya
"sekarang mereka berdua kemana?" tanya Rendi "jangan bilang mereka pergi berdua dan melakukan hal yang seharusnya Aldo lakukan sama lo" lanjutnya lagi.
"****! jadi gue harus gimana kak?" tanya Meli putus asa.
"lo coba telfon Aldo sekarang"
Dan tanpa ba bi bu Meli langsung mencari kontak Aldo di ponselnya lalu menelfonnya.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.
"sial....sial...sial...." umpat Meli meluapkan emosinya. "mereka pasti sedang melakukan itu" lanjutnya dengan muka sedih.
Aldo menggendong Viana lalu memasukkannya ke dalam bath up yang berisi air dingin. Terlihat Viana sedikit tenang dan tidak mengeluh kepanasan lagi. Tiba-tiba tangannya menarik kemeja Aldo hingga Aldo ikut tercebur ke dalam bath up.
Viana membuka kancing kemeja Aldo secara perlahan sambil memagut bibirnya. Aldo sebagai lelaki normal tidak mampu menolaknya apalagi melihat tubuh molek Viana hanya terbungkus pakaian dalam.
Aldo membalas ciuman Viana lalu turun ke leher dan dadanya. Erangan demi erangan keluar dari mulut keduanya. Aldo melepaskan ciuman dari dada Viana dan menggendong gadis itu ke atas ranjang. Entah sejak kapan tapi kini tubuh keduanya tanpa sehelai benang.
"Viana gue cinta sama elo" ucap Aldo dengan tangan yang terus bergerilya di tubuh Viana.
"ah... Aldo gue juga cinta sama elo. Gue gak suka lo sama cewek lain" racau Viana setengah sadar sambil mendesah.
"lo mau kan nikah sama gue Vi?" tanya Aldo masih dalam aksinya. Viana mengangguk sambil menikmati setiap serangan dari Aldo. Aldo tersenyum senang. Ia lalu mencium bibir Viana tanpa menghentikan pergerakan tangannya. Meskipun rencananya gagal ingin melamar Viana di depan semua tamu undangan, tapi Aldo senang karena lamarannya di atas ranjang diterima tanpa penolakan.
Sentuhan demi sentuhan Aldo lancarkan ke seluruh tubuh Viana hingga tangannya berhenti di pusat dari segala kenikmatan, Aldo memainkannya pelan tapi pasti yang membuat Viana mabuk kepayang. 15 menit Aldo bermain disana dan Viana merasakan ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam sana.
"terus.... aaah.... aku keluar Sam" erang Viana dengan lenguhan panjang.
Apa? Sam? Viana menyebut nama Sam ditengah pergulatan mereka? Aldo seketika menghentikan aktifitasnya. Ia duduk di tepi ranjang dan membiarkan Viana menikmati sisa-sisa kenikmatan yang ia berikan. Hasrat dalam dirinya hilang begitu saja setelah mendengar Viana menyebut nama lelaki lain ditengah pergumulan mereka.
Bagaimana bisa Viana masih memikirkan tentang Sam padahal baru saja ia menerima lamaran Aldo? Aldo merasa sakit hati. Ternyata Viana belum bisa melupakan Sam sepenuhnya. Ia segera memakai kembali pakaiannya dan berbaring di samping Viana dengan memunggungi gadis itu yang tubuhnya sudah ditutupi dengan selimut.
Hampir saja Aldo memiliki Viana seutuhnya malam ini namun semuanya sirna hanya dengan satu kata yang mungkin tidak sengaja Viana lontarkan. Ah sudahlah... besok pagi Aldo ingin meminta kepastian dari Viana.