Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
Bahagia



Viana mendorong kursi roda Sam ke taman rumah sakit yang terletak di tengah area tersebut. Kondisi Sam terlihat semakin membaik. Mukanya juga sudah cerah tidak pucat seperti sebelumnya. Mereka berdua ingin mencari udara segar di taman rumah sakit pagi ini sambil berbincang-bincang.


"jadi kamu mau tinggal dimana Sam?" tanya Viana lalu duduk di kursi taman dan Sam tetap berada di kursi roda di sampingnya. Viana tau Sam tidak lagi memiliki rumah karena rumahnya sudah dijual untuk menutupi hutang-hutangnya.


"entahlah" ucap Sam sedih " aku harap aku bisa pergi ke Indonesia dan menetap disana" lanjut Sam penuh harapan


"dengan siapa?" tanya Viana ingin tau dengan nada menggoda padahal ia paham maksud perkataan Sam.


"dengan seorang gadis yang sangat aku cintai" jawab Sam menatap Viana dalam.


"baiklah. Semoga kamu segera menemukan gadis impianmu" balas Viana


"beruntungnya gadis itu sudah ditemukan" balas Sam tak kalah.


"oh yah? lalu dimana dia sekarang?" tanya Viana. Sam lalu memegang tangan Viana dan meletakkannya di depan dada Sam "disini" ucapnya lalu mencium punggung tangan Viana.


Viana merasa tersipu. Setiap perlakuan Sam berhasil membuat hatinya meleleh. Perasaan bahagianya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata saat bersama dengan Sam. Viana mengelus pipi Sam yang berjambang sembari tersenyum manis padanya.


"oke. Setelah sembuh kita kembali ke Indonesia" jelas Viana


"tapi aku tidak punya uang atau apapun untuk biaya hidup disana" ucap Sam keberatan dan Viana merasa geli. Bagaimana bisa Sam berkata ia tidak punya apa-apa sedangkan di Indonesia hartanya berlimpah. Bahkan rumah mewah Viana dibeli dengan uang yang dikelola dari uang Sam.


"aku juga udah gak punya siapa-siapa lagi" ucap Sam sendu. Viana seketika merasa sedih dan bersalah. Seandainya saja ia tidak bertemu dengan Sam mungkin kehidupan Sam jauh lebih baik. Mungkin Sam masih bersama dengan keluarganya dan hidup bahagia dengan mereka. Semua ini memang salahnya, pikir Viana.


"kamu masih punya aku" kata Viana mengelus tangan Sam yang berbulu. "jadi jangan pernah merasa sendirian" lanjut Viana.


"trimakasih. Tapi mungkin aku harus bekerja dulu biar bisa nabung dan pergi ke Indonesia" ucap Sam.


"gak perlu. Setelah sembuh kita pulang ke Indonesia" ucap Viana sekali lagi.


"tapi...." ucap Sam terpotong.


"ssssstttt .. gak ada tapi-tapian" tegas Viana tidak ingin mendengar penolakan dari Sam "aku sekalian mau nunjukin sesuatu ke kamu"


"apa?" tanya Sam penasaran


"surprise" jawab Viana. "baiklah waktunya makan" lanjutnya lalu kembali ke ruang rawat Sam.


Viana menyuapi Sam dengan penuh perasaan. Ia sangat merindukan momen ini dimana ia selalu menyuapi Sam makan di saat Sam sakit ketika di Indonesia. Ditengah aktivitas suap-menyuapnya, mereka selingi dengan canda tawa. Suasana bahagia menyelimuti hati mereka. Sama seperti hati setiap insan yang dilanda jatuh cinta. Semuanya akan terasa indah dan bahagia jika bisa bersanding berdua apalagi bisa hidup bersama dalam ikatan yang Sah.


"jangan tinggalin aku lagi" ucap Sam ditengah kegiatan Viana yang sedang menyuapinya. Sudah berpuluh kali Sam mengucapkan kalimat ini padanya. Viana merasa senang karena Sam begitu takut kehilangannya. Viana juga bisa merasakan cinta Sam lebih besar dan tulus dari cinta Aldo.