Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
Hanya mimpi



Viana terus memandang bayangan wajahnya di cermin. Jari jemarinya menyentuh setiap bagian mukanya. Bibirnya tersungging "cantik" batinnya. Tak pernah bosan ia memandang wajah ayu nya.


"tukang rias udah dateng vi" kata Ira memberi tahu. Viana semakin dag dig dug sebelum ia dirias. Ya, hari ini adalah hari pernikahan Viana dengan Wisam. Viana sangat bahagia karena ia bisa menikahi bule yang notabenenya adalah impian dia ingin menikahi warga negara asing.


Perlahan, Viana tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya hingga bibirnya terus memamerkan senyum manisnya.


Polesan demi polesan make-up telah menempel di pipi Viana. Namun ia masih terus memejamkan matanya sebelum ada aba-aba untuk membuka mata dari di periasnya.


1 jam telah berlalu, akhirnya Viana diperbolehkan membuka mata dan berkaca. Ia merasa asing dengan wajah yang ada di cermin. Wajah yang asing. Ah, Viana pangling dengan mukanya sendiri.


Ira pun seakan tak percaya dengan apa yang ada di depan mata. Dilihatnya sahabat satu-satunya yang menjelma bidadari cantik jelita. Ia pun memeluk haru tubuh Viana seakan tak percaya Viana akan melepas masa lajangnya begitu cepat.


Tak lama, rombongan pengantin tiba di rumah mempelai wanita. Namun sayangnya Viana tidak boleh menemui Sam calon suaminya sebelum mereka resmi menjadi suami istri. Viana hanya menunggu di kamar sebelum ijab qobulnya selesai.


Sayup-sayup Viana mendengar Sam sedang mengutaraka ijab qobul dengan bahasa Arab. Namun Viana heran ternyata Sam juga pandai sekali dalam bahasa Arab.


qobiltu tazwijaha wa nikakhaha linafsi bidhalik


"sah?" tanya penghulu pada saksi-saksi yang hadir


"sah!" jawab para saksi dengan lantang


"saaaaaaahhhhhhhhhhhh" teriak Viana bahagia di dalam kamar pengantinnya.


"banjiiiiir" sambung Viana lagi


"bangun woy" teriak Ira dengan menenteng gayung ditangannya. Sayup-sayup Viana membuka matanya dan di dapatinya Ira yang sudah berdiri di depannya.


"berisik lo!" kata Ira lagi


"sialan!! gue basah kuyup gini" protes Viana yang sudah sadar dari mimpinya


"sialan lo ra. Ngerusak mimpi gue aja" gerutu Viana yang sudah duduk di tepi ranjang


"lagian lo tidur tapi mulut lo masih aja berisik"


"emang tadi gue berisik kenapa?"


"ya elo tidur senyum-senyum sendiri terus bilang sah kenceng banget. Mimpi kawin lo ya?" tanya Ira penasaran


"idih kepo lo"


"terus mimpi apa lo sampe bilang sah...sah gitu?"


"mimpi basah!! nih kasur gue basah gara-gara ulah lo" Kilah Viana


"halah... ngeles aja lo. Bilang aja lo mimpi kawin sama pak Aldo" celoteh Ira asal


"gak ada sangkut pautnya sama pak Aldo tuh! kepikiran aja kagak" jawab Viana meyakinkan


"mimpi sama bule itu?" Ira makin penasaran


"kebanyakan nanya lo! udah ah gue mau ke kamar mandi. Gue sakit lo tanggung jawab!" ancam Viana sambil berlalu ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Viana masih terbayang dengan mimpinya barusan. Tak sadar iya pun kini senyum-senyum sendiri sambil mengingat mimpinya itu. "baru jalan sehari udah kebawa mimpi. Mana mimpinya langsung merit lagi. Duh jangan sampe gue jatuh cinta sama itu bule" kata Viana pada diri sendiri.


"woy!! lo mandi apa lanjut tidur?" tanya ira sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi


"brisik lo!" kata Viana dan lamunannya pun buyar.