Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
Unek-unek



"iya ini aku" jawab Aldo sambil menyunggingkan senyumnya.


"ngapain sih pagi-pagi kesini?" tanya Viana kesal karena Aldo pasti akan merusak rencana hang-outnya


"loh ko ada Aldo sih?" tanya Ira di belakang Viana


"iya gue mau jemput kalian berdua" ujar Aldo


"ekhmmm..." Ira berdehem di lanjut dengan batuk yang disengaja. "mau jemput kita berdua atau cuma Viana?" tanya Ira memastikan. Padahal ia tau Aldo hanya berkilah karena sebenarnya ia hanya ingin menjemput Viana.


"sorry do kita berdua gak bisa. Ada urusan lain yang lebih yang harus gue dan Ira selesaikan" ucap Viana menyela sebelum Aldo menjawab pertanyaan Ira.


"kalian mau ke kantor kan? ya udah bareng aja" kata Aldo


"eeeeemmm.. itu.." Viana bingung harus berkata apa. Tangannya menoel Ira yang berada di sampingnya berharap ia membantu memberi alasan yang tepat.


"kita berdua mau hang-out" jawab Ira dan Viana langsung memplototinya karena bicara blak-blakan. "hehehe... lebih tepatnya kita gak ngantor" lanjut Ira tanpa memperdulikan tatapan maut Viana.


"kenapa?" tanya Aldo


"pengen refresh otaklah" timpal Viana ketus


"oke... gue ikut. Kebetulan otak gue lagi mumet" jawab Aldo sambil memijit kepalanya.


"haaahh?!" ujar Viana dan Ira berbarengan.


"alamat jadi obat nyamuk dah gue" gumam Ira pelan namun Viana dan Aldo bisa mendengarnya.


"kenapa gak jalan sendiri aja sih?" sungut Viana kesal


"kita kan punya tujuan yang sama jadi kenapa gak bareng aja" timpal Aldo dan Viana menghembuskan nafasnya kasar.


"ya udalah gak apa-apa Vi. Lumayankan menghemat ongkos" kata Ira menepuk bahu Viana.


"dasar otak gratisan" umpat Viana


"ayo kita berangkat sekarang" ajak Ira lalu mengunci pintu.


Viana dan Aldo berjalan beriringan sedangkan Ira menyusul di belakang. Viana mengambil tempat duduk di belakang yang juga diikuti Ira.


"ko di belakang semua duduknya?" tanya Aldo


"trus dimana? di bagasi gitu?" jawab Viana ketus


"ya kamu pindah ke depanlah. Gue kan bukan supir pribadi kalian" Protes Aldo memantik perdebatan


"siapa suruh ikut gue sama Ira?"


"udah deh lo pindah ke depan gih" usir Ira agar Viana menuruti Aldo


"elo aja sana"


"ko gue? ya elo lah"


"ya elo harus harus mau. Minggir kaki gue mau selonjoran. Cape semalem tidur ketekuk nih kaki" timpal Ira selonjoran yang membuat Viana tidak memiliki ruang untuk duduk. Itu memang strategi Ira mengusir Viana secara halus karena gadis itu tidak akan mempan jika hanya dengan kata-kata. Dengan terpaksa dan tanpa banyak kata-kata, Viana pindah ke depan dan bersampingan dengan Aldo. Aldo tersenyum ke arah Ira sambil mengacungkan jempolnya.


Aldo melajukan mobilnya. Jalanan ibukota yang macet membuat kecepatannya tak lebih dari 40 km/jam. Sesekali ia mencuri-curi pandangan ke arah Viana yang sedang fokus melihat jalan raya.


--------


Sam menelfon Viana berkali-kali namun tak ada jawaban dari gadis itu. Bahkan pesannya sama sekali tidak dibalas. Pagi ini Sam ke kantor Viana untuk mengembalikan cincin yang dulu pernah ia kasih ke Viana namun rupanya gadis itu tidak pergi ke kantor hari ini.


Bahkan Sam juga mencari Ira di ruang kerjanya namun nihil. Dua gadis itu sama-sam tidak masuk kantor hari ini. Sam masih menunggu di lobby berharap Viana akan datang dan ia meminta maaf pada gadis itu.


30 menit berlalu belum juga ada tanda-tanda Viana muncul. Apa mungkin Viana sakit? apa Viana berhenti kerja? apa Viana pindah dari kota ini? atau jangan-jangan Viana sedang berduaan dengan cowok kemarin makanya dia gak mau diganggu. Begitulah yang ada difikiran Sam.


Sam berinisiatif untuk datang ke kosan Viana. Ia ingin memastikan bagaimana keadaan Viana sekaligus Sam juga ingin bertemu karena sejujurnya hatinya begitu rindu dengan gadis yang selama ini ia puja meski dalam kebohongan belaka.


Nyatanya, Viana tak juga Sam temukan di kosannya. Sam menjambak rambutnya frustasi. Bagaimana tidak? Viana tidak ada kabar dan panggilananya diabaikan. Sam takut kalau Viana benar-benar pergi dari hidupnya selamanya.


-------


"Kenapa gak diangkat?" tanya Aldo pada Viana yang hanya menatap layar ponselnya.


"gak apa-apa" jawab Viana pelan


"dari bule brengsek itu?" tanya Aldo lagi


"hmmm" jawab Viana malas saat mendengar tentang Sam karna hatinya masih hancur akibat kebohongan Sam yang selama ini.


"sini biar gue aja yang angkat" tawar Aldo sambil mengulurkan tangan kirinya


"gak usah biarin aja" tolak Viana halus


"jangan bilang lo udah tau masalah Viana do" ucap Ira yang ada di belakang


"malah gue jadi saksi perpisahan mereka" jawab Aldo sambil tersenyum senang saat mengingat Viana dan Sam putus.


"serius lo?" Ira tak percaya.


"gue selalu serius sama temen elo yang satu ini. Dianya aja yang gak pernah sadar" jawab Aldo dan Viana langsung melihat ke arahnya intens.


"udah deh. Elo gak usah pura-pura. Gue juga tau elo udah punya cewe. Elo sama Sam gak ada bedanya" tegas Viana dengan muka merah menahan emosi.


"apa lo bilang?" tanya Aldo tak percaya dengan apa yang dikatakan Viana.


"iya elo udah punya cewe. Gue liat sendiri elo mesra-mesraan sama cewe malam itu" Hati Viana seakan lega saat mengeluarkan semua unek-uneknya yang ia pendam tentang Aldo.


"jangan bilang elo liat gue di restoran dengan Meli dan elo cemburu gue jalan sama cewe itu" ucap Aldo


"mau meli mau mela terserah siapa namanya gue gak perduli" Viana menghembuskan nafasnya kasar.


"Dan elo cemburu?" tanya Aldo