
Rendi mengamuk di kamarnya saat tau bahwa anak yang dikandung Liana meninggal saat masih dalam kandungan. Lebih marahnya lagi karena calon anaknya meninggal karena ulah adik kesayangannya.
"maafin Meli kak, hiks" Meli merutuki kebodohannya dan terlihat ketakutan dengan sorot mata Rendi yang penuh amarah.
"Meli bener-bener kebawa emosi waktu tau Liana pernah tidur sama Aldo" imbuhnya.
"lihat akibat kecerobohan lo! calon bayi kakak meninggal!" bentak Rendi yang membuat Meli berjingkut karena kaget.
"maaf" lagi-lagi hanya kata maaf dan penyesalan yang mampu Meli utarakan.
"padahal ya kakak udah seneng Liana hamil karena dengan begitu dia bisa kakak miliki sepenuhnya dan elo bisa sama Aldo!" bentaknya lagi. Meli semakin terisak. Ia benar-benar menyesal dengan perbuatan kasarnya pada Liana.
"setelah ini Aldo pasti akan nikahin Liana" lanjutnya.
"lalu rencana kita selanjutnya apa kak?" dengan ragu kedua bibir Meli akhirnya mengajukan pertanyaan itu. Rendi tampak mencerna pertanyaan Meli dan berfikir sesuatu.
------
Di rumah orang tua Aldo, seluruh sanak saudara mereka sedang berkumpul karena satu jam lagi adalah acara akad Aldo dan Liana. Pernikahan mereka memang tidak dipublikasikan. Hanya saudara dan orang-orang terdekat saja yang menghadiri pernikahan sederhana itu. Semua ini atas permintaan Aldo dan Liana dan kedua orang tua Aldo tidak keberatan karena mereka sudah terlanjur menanggung malu dengan gagalnya rencana pernikahan Aldo beberapa bulan yang lalu.
Liana yang selesai memakai make-up dengan kebaya putih dihiasi sunda siger terlihat sangat cantik. Senyum merekah tersungging dari bibirnya yang dipolesi lipstik berwarna peach. Sebentar lagi ia akan menjadi istri Aldo, orang yang selama ini ia cintai.
"udah siap?" tanya Nita sembari memegang kedua bahu Liana. Gadis itu mengangguk mantap meski jantungnya berpacu tak menentu karena gugup. Nita lalu menuntun Liana ke lantai bawah dimana semua orang sudah berkumpul disana termasuk Aldo.
Liana menuruni anak tangga dengan digandeng calon ibu mertuanya. Liana berjalan menunduk menghindari tatapan semua orang yang berpusat padanya. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
Tau kalau Liana sedang gugup, Nita mengelus lengannya agar Liana bisa mengendalikan rasa gugupnya. Liana lalu bersanding di samping Aldo yang sudah menunggu di kursi yang sudah disiapkan untuk akad pernikahan mereka yang sudah di hadiri oleh penghulu, paman Liana sebagai wali juga orang tua Aldo.
Aldo terpesona dengan kecantikan Liana yang sangat sempurna. Sungguh, Liana mirip sekali dengan Viana. Bahkan dengan riasan tebal ala pengantin seperti ini, kecantikan alami Liana lah yang mendominasi. Aldo sampai tidak bisa membedakan siapakah yang ia nikahi, Liana atau Viana.
Tak kalah dengan Liana, jantung Aldo pun berpacu dengan sangat cepat. Jika ruangan rumahnya tidak ber-AC mungkin jidat Aldo sudah dipenuhi keringat karena saking gugupnya.
Tangan Aldo dan tangan paman Liana saling bersalaman untuk mengucapkan akad nikah yang sama saja Aldo mengucapkan janji suci sehidup semati di depan semua orang yang hadir dan juga Sang Pencipta.
"Sah" semua orang saling memandang dengan senyum merekah setelah dua insan yang berbeda kelamin akhirnya sah menjadi suami istri secara agama dan Negara meskipun Aldo harus mengulang ucapan akad selama tiga kali karena gugup.
Setelah membaca doa, Liana menyalami tangan Aldo sebagai bentuk penghormatan yang pertama sebagai seorang istri. Aldo lalu mengecup dahi Liana penuh khidmat.
Tak terasa airmata Liana jatuh tanpa perintah. Liana tak mampu menggambarkan betapa bahagianya ia setelah disunting oleh lelaki idamannya. Aldo menghapus airmata Liana dengan tissue lalu memeluknya.
"pelukannya nanti malam aja ya. Sekarang waktunya menghormati tamu" ucap Nita keras kemudian disusul gelak tawa semua orang. Sepasang pengantin baru itu hanya tertunduk malu dan senyum-senyum kuda.