Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
Pergi tanpa kata



"gimana hasilnya?" tanya Aldo pada seseorang di seberang telfon.


"mereka memang ada hubungan bro" jawab seseorang di seberang sana. Mendengar hal itu Aldo membuang nafasnya kasar. Ia sudah bisa menebak dua manusia itu pasti memiliki hubungan spesial setelah ditinggal olehnya.


"pokoknya bagaimanapun caranya kita harus bisa menemukan kekurangan bule brengsek itu!" tukas Aldo


"jadi gue harus nguntit dia gitu apa yang dia lakukan setiap harinya?" jawab seseorang lagi


"apapun itu. Bahkan kita perlu cari informasi lebih dalam lagi tentang dia dan keluarganya" perintah Aldo yang masih gigih memperjuangkan Viana.


"terus perjodohan elo sama Meli gimana?"


"batal!" tegas Aldo "Dia bukan tipe gue" lanjutnya lagi


"apa???"


"kenapa?? lo gak percaya?" Aldo tanya balik


"ngg.... itu..."


"itu apa?" tanya Aldo makin penasaran


"nanti gue jelasin kalo kita ketemu"


"shit!! bikin gue penasaran aja lo"


"ok bye" panggilan dimatikan.


---------


Tok tok tok...


Seseorang mengetuk pintu kamar kos Viana dan Ira. Namun Viana yang sedang mendengarkan musik lewat earphone tidak mendengar ketukan pintu.


"Vi elo budeg ya?" protes Ira yang terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ketukan pintu berkali-kali.


"apaan? ganggu aja lo" omel Viana yang matanya masih fokus pada layar ponsel sambil membalas pesan seseorang. Ya, siapa lagi kalo bukan Sam.


"iishhh budeg! itu ada yang ketuk-ketuk pintu kenapa gak lo buka?" Ira bangun dari ranjang dan bersiap membuka pintu.


"sejak kapan pintu ada yang ngetuk..." gumam Viana acuh sambil memincingkan matanya lalu kembali fokus ke ponselnya.


"AL......."


"ada apa sih pak? bapak dari mana aja? ko bapak menghilang?" Ira menghujani Aldo dengan pertanyaan yang selama ini ada di benaknya.


Mereka berdua duduk di kursi yang ada di lorong kosan yang memang sengaja disediakan untuk tamu penghuni kosan. Sedangkan di kamar, Viana masih asyik dengan ponselnya.


"jangan panggil bapak" protes Aldo karena Ira masih memanggil namanya dengan panggilan pak seolah Aldo masih menjadi manager di kantornya.


"ya udah. Aldo elo kemana aja selama ini?" ulang Ira dengan pertanyaan yang sama namun singkat.


"gue ke Amrik"


"gila lo ya pergi gak bilang-bilang" omel Ira


"bilang ke Viana maksud lo?" tanya Aldo


"tega lo ya, Viana sakit elo tinggal begitu aja" ketus Ira


"gue gak bermaksud gitu" jelas Aldo sambil menundukan pandangan karena ia sendiri merasa bersalah. "Viana mana?" tanya Aldo dengan suara parau


"jadi elo kesini mau ketemu dia?" tanya Ira dan Aldo balas dengan anggukan pertanda YA.


Ira bangkit dari tempat duduknya dan pergi menuju kamarnya. Viana yang masih fokus dengan ponselnya acuh tak acuh dengan keadaan di sekitarnya. Bahkan ia tak menyadari Ira sudah duduk di tepi ranjangnya.


"woy ada yang nyariin" gugah Ira memecah fokus Viana pada ponselnya.


"siapa sih?" tanya Viana malas


"elo liat aja sendiri" jawab Ira tak mau memberi tau siapa yang datang.


"gak tau apa orang lagi PW (posisi wenak)"


"udah cepetan lo temuin" Ira menarik tangan Viana sampai sahabatnya itu berdiri dengan rambut yang masih acak-acakan. Viana yang menyadari rambutnya berantakan tak mau ambil pusing. Toh bukan tamu spesial ini pikirnya.


Viana melangkah keluar menuju lorong. Didapatinya seorang cowo yang sedang duduk sambil menghadap ke jalan.


Menyadari ada yang datang, Aldo membalikan badannya dan dilihatnya gadis cantik yang sangat ia cintai sampai detik ini dengan rambut acak-acakan namun tidak menghilangkan aura kecantikan di wajahnya.


Sedangkan Viana, begitu tau siapa yang bertamu, ia pergi dengan tergesa-gesa kembali ke kamarnya tanpa kata ataupun sapa pada Aldo.


Aldo sadar, mungkin Viana begitu marah dengannya. Bahkan bisa jadi Viana membencinya karena sudah meninggalkan anak buahnya (Viana) yang sedang sakit lalu meninggalkan pekerjaan yang masih menjadi tanggung jawabnya dan melimpahkan semuanya pada Viana. Aldo sadar akan kesalahannya. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada Viana.