
Viana keluar dari apartemen dengan langkah gusar dan penuh emosi. Ia melangkah cepat tanpa memperdulikan Aldo yang mengejarnya di belakang sambil memanggil-manggil namanya.
"Viana!" panggil Aldo yang berhasil meraih tangan Viana lalu sedetik kemudian Viana tepis dengan kasar.
"lo urus aja mantan lo. Gak usah perduliin gue!" kata Viana yang emosinya sudah di ubun-ubun.
"tolong dengerin dulu" ucap Aldo sambil mengelus pundak kiri Viana agar gadis itu tenang tapi Viana menghindar seolah tak mau disentuh Aldo. "dia yatim piatu dan udah gak punya apa-apa lagi. Gue cuma ngasih tumpangan satu minggu aja ko habis itu dia keluar dari apartemen ini" jelas Aldo.
"kenapa harus di apartemen ini? kenapa gak di apartemen lainnya aja? dia kan bisa sewa apartemen? dan kenapa harus pake barang-barang gue? elo bener-bener keterlaluan ya? ini apartemen hadiah pernikahan kita nanti. Gue aja belum pake dan elo udah kasih izin cewe lain tinggal disini, MANTAN malah" cerocos Viana penuh penekanan meluapkan segala emosinya. "apa karena lo pikir apartemen ini dibeli dengan duit elo jadi gue gak akan marah ditempatin sama mantan elo? elo pikir gue akan pasrah? "gue gak habis pikir sama jalan pikir elo...." ucap Viana lalu memejamkan matanya berusaha mengendalikan amarahnya.
"Please kalo elo masih cinta sama dia mending lo tinggalin gue. Gue gak mau sakit hati kaya gini" lanjut Viana tak mampu lagi membendung airmatanya. "gue kecewa sama elo!!!" sambungnya lalu pergi meninggalkan Aldo.
Pertengkaran hebat antara Aldo dan Viana tak mampu lagi dihindarkan karena hadirnya orang ketiga diantara mereka. Viana belum pernah semarah ini pada Aldo dan belum pernah sekhawatir ini kehilangan Aldo. Tapi Aldo malah memantik konflik.
Perkataan yang Viana lontarkan sangat menohok perasaan Aldo. Memang benar apa yang dikatakan Viana. Kenapa harus apartemen hadiah pernikahan? Padahal Aldo bisa saja menyewa apartemen lain tapi entahlah. Hati Aldo yang memilih.
Aldo menghentikan langkahnya mengejar Viana. Percuma saja, gadis itu benar-benar marah padanya. Aldo akan menghubunginya lagi saat emosinya stabil dan itu bukan sekarang.
Aldo lebih memilih kembali ke apartemennya. Ia melihat Liana sedang mengemasi barang-barangnya di koper. Ia lalu mendekati Liana dengan posisi sedang memunggunginya.
"lo mau kemana?" tanya Aldo dengan muka lesu
"bukan salah elo ko" ucap Aldo lembut. Sikap Aldo kepada Liana memang tak pernah berubah. Selalu bersikap manis, lembut, dan penuh perhatian.
"makasih atas tumpangannya. Mungkin lebih baik gue pergi dari sini" kata Liana lalu tiba-tiba lari ke dapur.
"hoek..." Liana memuntahkan cairan bening di westafel. Aldo menyusulnya dan memijat kedua pundaknya.
"lo gak apa-apa?" tanya Aldo memastikan Liana baik-baik saja. Liana yang masih lemas pun mengangguk.
"lo gak akan pergi kemana-mana sebelum gue dapet apartemen baru. Tunggu 5 hari lagi baru lo pindah. gue udah hubungi temen gue buat cari apartemen yang cocok buat elo" Sergah Aldo
"tapi ...." ucap Liana terpotong
"gue akan kasih pengertian ke calon istri gue" lanjut Aldo yang tak tega melihat kondisi mantan kekasih yang sangat ia cintai.
Liana lalu mendekap Aldo erat. Memeluk Aldo membuatnya merasa lebih nyaman dan tenang. Liana benar-benar menyesal karena harus meninggalkan Aldo kala itu. Andai saja waktu itu kejadian buruk tidak menimpanya, pasti ia dan Aldo sekarang sudah menjadi suami-istri bahkan mungkin sudah memiliki anak.
"jangan tinggalin gue seperti gue ninggalin elo Aldo" gumam Liana dalam hati masih memeluk Aldo.