
"ini siapa?" tanya Viana memperlihatkan kontak nomor di ponsel Sam dalam isak tangisnya.
"ada apa sayang?" Sam merangkup kedua bahu Viana namun Viana langsung mengelak.
"ini siapa!" tanyanya sekali lagi dengan penuh emosi. Sam mangambil alih ponselnya dari genggaman Viana. Sam diam tanpa menjawab.
"jawab Sam jawab!!" pinta Viana sambil menarik kerah kemeja Sam. Namun Sam diam seribu bahasa.
"kamu liat ini!" pinta Viana sambil menunjukan beberapa foto di ponselnya. Setelah melihat foto tersebut Sam terduduk sambil menjambak rambutnya sendiri. Ia frustasi rahasianya terbongkar.
"mulai detik ini aku gak mau liat muka kamu lagi!!" tegas Viana kemudian mengambil tasnya dan berniat pergi. Namun Sam sudah menjegal tangannya.
"maafkan aku Vi" sesal Sam yang masih tertunduk namun enggan melepas tangan Viana.
"aku gak sudi berhubungan dengan orang yang sudah beristri!" ketus Viana dengan airmata yang masih berselancar dipipinya. "cinta kamu, pengorbanan kamu, dan semuanya yang kamu berikan adalah palsu!!" lanjut Viana penuh emosi lalu melempar cincin berlian pemberian Sam ke sembarang arah.
"I love you Viana" ucap Wisam dengan penuh keyakinan
"apa kamu bilang?" Tanya Viana lagi dengan nada menggertak
"sungguh, aku sangat mencintaimu" kata pria bule itu lagi
"lupakan Sam! kamu sudah berkeluarga" Viana memalingkan mukanya dari Sam. Ia tak ingin buliran airmata yang jatuh di pipinya dilihat oleh Sam.
"aku tidak perduli! Aku tidak pernah mencintai istriku" tegas Sam
"kalau begitu, fikirkan anakmu Sam!" Viana tetap kukuh tidak ingin menerima cinta Sam walaupun ia tahu Sam sangat tulus mencintainya dan ia pun sama.
Sam menarik lengan Via dan memepetkannya ke tembok. Matanya saling beradu dengan mata Viana. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Viana namun gadis itu segera memalingkan wajahnya ke samping.
"setidaknya katakan kalo kamu juga mencintaiku Vi"
"ciihhh....aku muak dengan kata-kata cinta" saut Viana yang membuat Sam mendidih. Dipeluknya tubuh Viana erat hingga gadis itu sulit bernapas.
"lepaskan aku Sam!"
"terserah! aku ingin pulang!" Viana berhasil melepaskan diri dari Sam dan secepat kilat mengambil tas di meja lalu beranjak keluar.
Hatinya begitu perih. Ia tak tahan lagi berhadapan dengan pria yang ia cintai namun ternyata sudah berkeluarga. Ingin rasanya ia pergi secepatnya dari kehidupan Sam dan melupakan segalanya.
"Vi aku mohon jangan pergi" Sam memelas, namun tak digubris oleh Viana. Ia terus melangkah keluar dari kamar Sam. "aku tidak bisa hidup tanpa kamu Vi" Sambungnya lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Walaupun langkah Viana pasti meninggalkan Sam, hatinya ingin sekali berlari untuk memeluk pria yang begitu dicintainya. Namun hati kecilnya sadar bahwa Sam milik orang lain.
Sam terus mengejar Viana. Ia tidak rela membiarkan gadisnya pergi.
"apa lagi yang kamu mau Sam? masih belum puas kamu bohongi aku dan hianati istrimu?" cerca Viana meluapkan emosinya.
Sam tidak perduli dengan perkataan Viana. Ia memeluk erat tubuh gadisnya se-akan ini adalah pertemuan terakhir mereka.
"tolong katakan kalo kamu juga mencintaiku Vi" Sam memohon.
"aku benci kamu" jawab Viana tanpa ba bi bu
"coba kau katakan itu sambil menatap mataku" Sam menatap mata Viana dalam. Namun bukannya menjawab Sam, Viana malah semakin menangis tersedu. Tidak ada lagi kata-kata yang mampu ia ucapkan saat ini. Lidahnya tiba-tiba kelu. Hanya airmata yang bisa berbicara untuk saat ini.
Sam kini mengerti bahwa Viana juga sangat tulus mencintainya. Ia kembali memeluk Viana dan mengusap kepalanya berusaha menenangkan tangisan gadis yang pecah karenanya.
"Sam?" tanya Viana lirih
"ya sayang" jawab Sam dengan masih memeluk Viana
"boleh aku mati sekarang?" ucapnya ngawur karena hatinya sudah hancur berkeping-keping. "aku tidak sanggup hidup tanpa kamu Sam. Tapi nyatanya kamu sudah beristri. Aku benar-benar hancur" sambung Viana sesak menahan tangisnya.
Sam tidak menjawab. Ia semakin mempererat pelukannya ke tubuh Viana. Andaikan saja waktu bisa diputar kembali tepat 5 tahun silam. Sam ingin lebih dulu mengenal Viana sebelum dijodohkan dengan istrinya.
Bukan hanya Viana yang hancur, namun hati Sam juga hancur karena ia tak bisa memiliki gadis yang ia cintai. Meskipun agamanya membolehkan lelaki untuk poligami tapi Sam harus berpikir ribuan kali untuk melakukan hal itu. Karena pastinya ada pihak yang tersakiti.