
Viana dan Sam berjalan berdampingan memasuki aula hotel tempat digelarnya pesta. Mereka berdua seperti sepasang kekasih. Bahkan bisa dibilang sepasang suami istri karena keduanya terlihat begitu serasi.
Banyak mata yang memandang ke arah mereka seakan mereka adalah raja dan ratu di pesta malam ini. Bagaimana tidak? Sam yang gagah dan tampan sedangkan Viana yang cantik dengan badan yang semapai membuat keduanya begitu indah dipandang.
Sam menghampiri temannya yang sedang berulang tahun dan sedang berkumpul bersama teman-teman sejawatnya.
"happy bithday to you" Ucap Sam pada Rendi dan tak lupa memberikan kado yang dipegang Viana
"thank's dude" katanya sambil memeluk Sam. "Siapa ini?" tanya Rendi yang melihat ke arah Viana
"oh iya kenalkan ini pacar aku" kata Sam sambil merangkul Viana dan merapatkan tubuh Viana ke tubuhnya. Viana terperanjat mendapat perlakuan tak terduga oleh Sam. Ingin sekali ia melepaskan rangkulan Sam tapi ia tidak ingin Sam malu di depan teman-temannya. Untuk malam ini saja Sam boleh bersikap sesuka hati dia, batin Viana.
"gila.... cantik banget bro" Kata Rendi yang sedari tadi melihat ke arah Viana dengan tatapan seperti ingin menerkam begitupun teman-teman Rendi yang masih betah dengan wajah cantik Viana.
"hai cantik" kata Rendi sambil mencolek dagu Viana, namun dengan sigap Sam menepis tangan Rendi yang berusaha menyentuh Viana.
"Hai Ren, Sam" sapa Dinand yang baru saja datang dengan Gofar.
"Hilmaz mana?" tanya Sam
"itu lagi sama temen bisnisnya" tunjuk Dinand ke arah Hilmaz yang sedang berbincang dengan seorang wanita yang lebih tua sedikit dari Viana.
"ayo diminum dan dimakan" tawar Rendi pada tamu-tamunya saat pelayan menyodorkan berbagai minuman dan aneka makanan pada mereka.
"aku ke toilet dulu sebentar ya" Izin Viana dan Rendi langsung meminta pelayannya mengantar Viana ke toilet.
"jangan lama-lama sayang" kata Sam sambil melepas rangkulannya. Viana tak menjawab dan hanya tersenyum
Viana segera melangkah mengikuti arah pelayan tersebut. "banyak banget tamu undangannya" batin Viana sambil melihat orang-orang di ruangan tersebut.
Viana terus mengikuti pelayan tadi dan kini ia heran saat dirinya berada depan pintu dan bukannya di tempat yang tadi.
"ko kita ada disini? saya mau balik ke temen saya" protes Viana saat ia sadar pelayan tadi membawanya ke suatu ruangan.
"ia nona. Ini jalan pintasnya" kilah pelayan namun Viana merasa ada yang tidak beres karena ia berada di ruangan yang terdapat sofa besar, lemari, dan "shit... ini tempat tidur alias kamar hotel" batin Viana.
Viana merogoh tasnya untuk mengambil ponsel. Entah apa yang ia lakukan pada ponselnya namun pandangannya sangat serius...
Braaaakkkkk!!!!
Pintu ruangan itu tiba-tiba tertutup. Viana segera berlari ke arah pintu mencoba untuk membukanya tapi nihil. Pintu itu terkunci dari luar.
"pelayan sialan!" teriak Viana cemas.
"tenang sayang jangan takut"
Suara seseorang mengagetkan Viana. Viana berbalik ke arahnya dan di dapatinya Rendi yang sedang duduk di sofa.
"kamu?" mata Viana terbelalak belum mengerti dengan situasi saat ini.
"santai.... jangan panik sayang. Sini kita seneng-seneng dulu" kata Rendi sambil menepuk-nepuk pahanya seolah menyuruh Viana duduk di pangkuannya.
"brengsek!!!" umpat Viana dan sudah bersiap-siap menelfon Sam. Namun Rendi yang tau gelagat Viana langsung merampas ponsel Viana. Ia menarik paksa Viana dan mendorongnya ke ranjang.
"aaauuu" jerit Viana kesakitan mendapat perlakuan kasar Rendi