
Aldo berlari kecil saat melihat Viana memasuki sebuah gedung di kawasan Jakarta pusat. Sungguh Aldo belum bisa mengikhlaskan Viana begitu saja. Aldo sadar apa kesalahannya tapi ia tidak terima jika perpisahan mereka harus diakhiri dengan ditinggal nikah oleh mantan tunangannya.
Langkah Viana yang santai membuat Aldo mudah untuk mengejarnya. Entah apa yang ada difikiran Aldo saat ini tapi ia ingin sekali bertemu dengan kekasih hatinya. Tunggu, kekasih hati? bukankah hati Aldo masih ada Liana? atau mungkin sebentar lagi Aldo juga akan jatuh cinta pada Meli. Who's know?
Aldo menarik tangan Viana hingga tubuh gadis itu berbalik menghadapnya. Sialan! Viana benci sekali melihat wajah lelaki ini. Bayang-bayang kejadian yang menyayat hatinya kini berputar-putar di otak membuat luka hatinya kembali terbuka.
Aldo menatap Viana dengan tatapan memelas. Tapi sayangnya hati Viana yang sudah diliputi kebencian tidak memperdulikan ekspresi wajahnya yang memelas itu. Jangankan untuk perduli. Memaafkan saja rasanya masih sulit bagi Viana.
"gue mau ngomong sama elo Vi, please" pinta Aldo memelas. Bukannya mendapat jawaban dari Viana, Aldo malah mendapat tatapan tajam dari gadis di depannya.
"gue mohon" lanjutnya dengan nada putus asa tapi emang dasar Viana, gadis yang hatinya masih terluka. Ia menganggap ucapan Aldo hanya angin lewat sembari mengalihkan pandangannya pada ruangan di sekelilingnya.
Merasa diacuhkan, Aldo menyeret tangan Viana kasar. Viana berusaha melepaskan cengkraman tangan Aldo yang kuat hingga membuat tangannya terasa sakit. Tapi tenaga Aldo jauh lebih kuat dari tenaganya. Bahkan langkah Viana terseok-seok karena tak bisa mengimbangi langkah Aldo yang lebar. Ditambah Viana memakai sepatu high heels membuat kakinya cepat pegal dan sakit.
"lepasin brengsek!" titah Viana yang tak diindahkan oleh Aldo
"lepasin atau gue teriak" ancamnya. Bukannya merasa terancam, Aldo malah membuka pintu mobilnya dan memaksa Viana masuk ke dalam mobilnya. Aldo segera mengambil kemudi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Aldo elo gila ya? berhenti!" teriaknya ketakutan karena Aldo mengendarai mobil seperti orang kesetanan. Bukannya menurut, Aldo malah senyum menyeringai. Entah apa yang direncanakannya tapi perasaan Viana mulai tak enak.
"keluar!" pinta Aldo menarik tangan Viana kasar dan lagi-lagi Aldo menyeretnya. Kali ini tangan Viana terasa lebih sakit karena genggaman Aldo semakin kuat. Sikap mereka berdua kini jadi sorotan orang-orang yang berlalu lalang di apartemen tersebut.
Viana tau ia akan dibawa kemana. Kemana lagi kalau bukan apartemen Aldo yang dulu akan menjadi hadiah pernikahan mereka. Sesampainya di depan pintu apartemen, hati Viana bergemuruh. ia benci tempat terkutuk ini. Tempat dimana ia mendapatkan luka yang teramat dalam.
Aldo sialan! kenapa ia harus mengingatkan kejadian itu lagi.
Tanpa disadari airmata Viana melesat keluar membasahi pipi mulusnya. Dengan paksa lagi-lagi Aldo menarik Viana masuk ke apartemennya dan membanting tubuh gadis itu di ranjang kamar utama dimana ranjang itulah tempat Aldo dan Liana memadu kasih. Aldo benar-benar jahanam! batin Viana merutuki lelaki itu.
Aldo mengunci pintu. Ia melepaskan dasi yang melilit di lehernya disusul dengan kemeja yang ia pakai sehingga kini ia bertelanjang dada. Sedangkan Viana menangis terisak. Ia takut Aldo berbuat nekat. Apalagi kini statusnya sudah menjadi istri orang.
"kalo gue gak bisa dapetin elo, Sam juga gak bakalan bisa miliki elo" Aldo membuka suara dengan sorot mata tajam. Baru pertama kali Viana melihat muka Aldo yang dipenuhi amarah dan membuatnya merinding. Viana beringsut mundur hingga punggungnya menyentuh ujung ranjang.
"berhenti! jangan deketin gue!" Viana memberi kode pada Aldo agar lelaki itu tidak mendekatinya karena jujur Viana sangat takut. Aldo senyum menyeringai. Ia menunjukkan muka iblisnya yang membuat Viana semakin gemetaran.
"dasar brengsek" umpatnya saat Aldo memegang kakinya. Viana semakin ketakutan dengan airmata yang terus mengalir.
Aldo menarik kaki Viana hingga membuat gadis itu terlentang. Dengan cepat Aldo menindih tubuh Viana dan memegangi kedua tangannya agar gadis itu tidak berontak. Viana masih berusaha untuk melepaskan diri dari kungkungan tubuh Aldo diatasnya tapi sepertinya sia-sia. Aldo jauh lebih kuat dibanding dengan tenaganya. Kini Viana hanya bisa pasrah dengan takdirnya namun hatinya tak pernah putus asa melantunkan do'a.