
"aku lagi periode " ucap Viana meringis takut Sam kecewa karena gairah Sam sedang dipuncak.
"oke kita cari cara lain" kata Sam membimbing tangan Viana menyentuh miliknya. Setelah merasa sama-sama puas, mereka menghentikan aktivitas malam pertamanya dan tidur saling berpelukan dimana tangan Sam menjadi bantalan Viana. Malam ini Viana dan Sam tidur seranjang sebagai pasangan suami istri.
Pagi-pagi buta Viana bangun dari tidurnya. Ia melepaskan pelukan Sam dari tubuh setengah telanjangnya dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, Viana menyiapkan sarapan untuk Sam sebagaimana mestinya tugas seorang istri. Ia juga menyiapkan pakaian yang akan Sam kenakan.
Viana juga tak lupa untuk mengemasi barang-barangnya dan juga barang milik Sam karena petang nanti mereka akan kembali ke Indonesia dan memulai hidup baru bersama. Setelah semuanya siap Viana membangunkan suaminya dengan mengecup pipinya berkali-kali sambil menarik jambangnya.
Merasa ada yang mengganggu, Sam membuka matanya dan langsung menarik Viana ke dalam pelukannya dan menciumi istrinya dengan bersemangat. Sam juga meninggalkan beberapa kissmark di leher jenjang Viana.
"nah kalo kaya gini kan jadi tambah cantik" ucap Sam terkekeh karena puas menandai bahwa Viana telah menjadi memiliknya. Viana mendengus kesal tapi ia juga tidak bisa menolak karena Sam bebas melakukan apa saja ditubuhnya asal tidak menyakiti dirinya.
"mandi terus sarapan. Aku udah nyiapin semuanya" pinta Viana
"good wife!" puji Sam mengecup kening Viana lalu beranjak ke kamar mandi. "oh ya... kamu udah mandi?" lanjut Sam melongokkan kepalanya di pintu kamar mandi.
"udah" jawab Viana singkat. Andaikan saja Viana tidak dalam masa periodenya pasti Sam sudah mengajaknya mandi bersama.
*****
Sam dan Viana sudah berada di bandara dengan diantar oleh Dinand. Saat akan memasuki pesawat, mereka dikejutkan dengan seorang anak kecil yang berlari ke arah mereka.
"daddy...." panggil Louisa yang berlari ke arah Sam dan menarik celananya. Sam merasa tak asing dengan anak ini. Kepalanya tiba-tiba pusing dan bayangan hitam memenuhi otaknya. Sam bisa mengingat memori tentang Louisa meskipun sedikit.
"daddy.." panggil Louisa lagi yang mulai menangis. Viana lalu berjongkok di depan anak itu. Ia memandanginya dengan seksama. Viana melihat mata Louisa mewarisi mata Sam. Mereka berdua sangat mirip. Viana lalu mengelus pipi Louisa yang mulai memerah menahan tangis.
"jangan sentuh anakku!" teriak seorang wanita yang mendorong Viana hingga terjatuh ke belakang.
Sam meraih kedua bahu Viana dan membantunya berdiri. Ia terlihat tidak suka dengan sikap Haura yang tiba-tiba kasar. Padahal saat mereka masih menikah, Haura tidak pernah berbuat kasar pada siapapun.
"mum Louisa mau ikut daddy" rengek Louisa meraih tubuh ayahnya dengan tangan mungilnya meski dalam gendongan ibunya.
"no! daddy mau cari uang sayang. Louisa sama mum ya?" bujuk Haura menutupi kenyataannya. Louisa kecil tidak akan mengerti masalah orang tuanya. Louisa menangis kencang. Sam lalu mengambil alih menggendong gadis kecilnya.
"cup...cup...cup... Louisa jangan nangis ya sayang. Nanti daddy belikan ice cream, ok?" bujuk Sam menghapus airmata putrinya
"louisa mau ke Indonesia!" pintanya tegas
"louisa!" panggil Haura dengan nada tinggi. Ia tidak suka Louisa menyebut apalagi pergi ke Negara wanita yang sudah merebut hati suaminya.
"nanti daddy jemput louisa ya" kata Sam lembut
"janji?" ucap Louisa menunjukkan kelingking mungilnya.
"janji" balas Sam menautkan kelingkingnya ke milik louisa. Ia lalu mencium pipi putri kecilnya berulang kali sebagai tanda perpisahan mereka.
"daddy wanita ini siapa?" tanya Louisa dengan polosnya.
"mama. Panggil dia mama" ucap Sam penuh penekanan.
"mama" panggil Louisa sambil memegang tangan Viana.