Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
Perang batin



"lah ngapa lo? habis liat setan?" tanya Ira bingung. Pasalnya Viana yang baru saja keluar beberapa menit yang lalu untuk menemui Aldo sekarang sudah berada di kamar sambil menutup pintu dengan napas yang tidak teratur.


"lo temen macam apa sih?" Viana balik bertanya dan Ira memutar bola matanya. "jangan-jangan Viana marah melihat Aldo yang kembali setelah hilang tanpa kabar beberapa bulan yang lalu" gumam Ira dalam hati.


"maksud lo?"


"kenapa lo gak bilang kalo tamu itu Aldo? kenapa?" tanya Viana meminta penjelasan dari Ira.


"terus?"


"ya gue malu oncom! Mana rambut gue kaya singa gini " Viana merutuki dirinya sendiri yang sudah berdiri di depan cermin untuk merapikan rambutnya. "gara-gara elo Aldo jadi tau sisi jelek gue!" protes Viana lagi. Mendengar jawaban Viana, Ira merasa lega dan juga geli.


"emang elo kan gak ada cantiknya" ejek Ira sambil terkekeh. "lagian kenapa sih meski cantik di depan Aldo. Biasanya juga elo acak-acakan ini depan gue" lanjut Ira.


"bedalah. Gue harus terlihat cantik di depan cowo-cowo biar mereka terpesona dengan gue" jawab Viana yang sudah menyisir rambutnya dan terlihat rapih.


"bilang aja elo masih suka Aldo makanya elo pengen terlihat perfect di depan dia. Ya kan?"


"gue suka Aldo?" saut Viana dengan senyum getir. Angannya mulai mengingat saat Aldo bermesraan dengan seorang cewe di restoran beberapa hari yang lalu. "di hati gue cuma ada Sam!" tegas Viana.


--------


Viana membuka pintu ruang kerjanya. Matanya terbelalak melihat sosok Aldo yang sudah bertengger di kursi kebesarannya. Sedih, senang, marah, rindu bercampur jadi satu. Ingin sekali ia keluar lagi dari ruangan itu untuk menghindari Aldo tapi ia tidak ingin bertindak seperti anak kecil.


Viana melangkah ragu ke meja kerjanya sambil menunduk kemudian meletakan tas di atas meja dan membiarkan Aldo tetap duduk di kursi yang dulu menjadi miliknya dan sekarang menjadi milik Viana.


Aldo yang tiba-tiba berdiri langsung memeluk Viana erat sambil mengusak rambut Viana yang sengaja tergerai sempurna. Mata Viana berkaca-kaca. Hatinya begitu emosional mendapat perlakuan dari Aldo namun saat ia sadar dengan kejadian malam itu, Viana mendorong Aldo kuat hingga tubuh lelaki itu berbenturan dengan tembok.


Kantor tempat Viana bekerja adalah milik sahabat Bayu (papahnya Aldo) yang sudah Aldo anggap seperti orangtua sendiri. Sehingga Aldo dengan bebas keluar masuk kantor itu.


"tolong jangan ganggu waktu kerja saya pak!" protes Viana yang masih memperlakukan Aldo sebagai manajernya.


"maaf kalo saya mengganggu" ucap Aldo. "pulang kerja nanti saya jemput kamu. Sekalian ada yang ingin saya jelaskan" ucap Aldo sambil berlalu tanpa meminta persetujuan Viana.


Viana masih mematung dengan hati yang ragu. "apa lagi yang perlu dijelasin? dia mau jelasin hubungan dia yang udah punya cewe? mau pamer? ciih... gue udah tau semuanya! gue gak mau ngliat muka dia lagi. eh tapi dia tadi meluk gue! sadar Vi sadar! dia udah punya cewe. dia cuma mau mainin perasaan elo aja. sekarang fokus sama kerjaan dan Sam!" perang batin Viana tak lagi ter-elakan. Kehadiran Aldo sukses membuat mood Viana rusak.