Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
Koma



Viana membuka matanya. Ia melihat Ira dengan airmata yang membasahi pipinya.


"Sam mana?" tanya Viana langsung mencari keberadaan Sam.


"tenang Vi" Ira mencegah tangan Viana yang hendak keluar dari ruangan rumah sakit.


"gue mau ketemu Sam" Viana ngotot


"lo yang kuat Vi" kata Ira yang tangisnya semakin pecah


"maksud lo apa ra?" kini jantung Viana semakin dag dig dug


"Sam..." kata Ira tak mampu melanjutkan ucapannya


"kenapa? Sam baik-baik aja kan?" Viana mengguncang bahu Ira


"Sam koma" kata Ira Sambil memeluk Viana untuk menguatkan sahabatnya.


Viana tertunduk lesu. Bagaikan tersambar petir di pagi hari saat mendengar tentang Sam. Airmatanya tak dapat lagi ia bendung. Viana menangis sejadi-jadinya di pelukan Ira.


Ya Allah andaikan aku tidak minta ini itu, pasti Sam tidak akan seperti ini. Ini semua salahku. Kuatkan aku. Sembuhkan Sam... aku janji akan menjaga Sam sebaik mungkin..


Viana memukul dadanya yang sesak karena terlalu banyak menangis.


" Sam dirawat dimana?" tanya Viana


"elo yakin mau liat Sam?" tanya Ira


"iya"


Ira langsung menuntun Viana ke ruang rawat Sam. Viana bisa melihat Sam yang terbaring lemah dengan selang-selang yang menancap di dadanya dengan kepala yang diperban.


"kata dokter, Sam luka parah di kepala" terang Ira. Viana langsung membuka pintu dan masuk ke ruangan Sam sedangkan Ira menunggu di luar.


"mana yang sakit Sam?" tanya Viana dengan airmata yang berlinang sambil menggenggam tangan kiri Sam. Namun orang yang sedang ia ajak bicara hanya diam saja.


"aku disini. Kamu gak sendirian lagi" lanjut Viana. "maafkan aku Sam. Ini semua salahku" ratap Viana. "aku gak bisa liat kamu kaya gini. Kamu lelaki kuat Sam" Viana menangis sendu. Matanya mulai bengkak.


"kamu bilang kamu mau ngindungin aku terus gimana caranya kalo kamu sendiri aja seperti ini? pokoknya aku gak mau tau kamu harus sadar biar bisa ngelindungin aku lagi" kata Viana


Mata Sam sedikit bergerak namun masih belum terbuka. Seakan Sam mendengar setiap ucapan yang Viana lontarkan.


"Aku sayang kamu Sam. Sekarang bangun... kamu mau denger jawaban ini kan? sekarang aku bener-bener sayang sama kamu" Viana menenggelamkan mukanya ke tangan Sam.


Suara pintu terbuka namun Viana tidak memperdulikannya.


"Vi lo makan dulu ya ini udah mau siang elo belum makan apa-apa" bujuk Ira sambil menyodorkan bubur kering kesukaan Viana. Namun Viana sama sekali tidak tertarik dengan makanan yang Ira bawa. Nafsu makannya mendadak hilang melihat Sam terbujur lemah.


"Vi.. dikit aja ya" bujuk Ira lagi mengelus pundak Viana pelan. Ira merasa sedih dengan keadaan temannya. Ira tau sikap Viana seperti ini karena sahabatnya sudah jatuh cinta pada pria bule di depannya. Sebelumnya Viana tidak pernah bersikap seperti ini bahkan sesedih ini.


"nanti aja ra. gue belum laper" tolak Viana halus


"kalo elo gak makan terus elo sakit, siapa yang jaga Sam?" Ira pantang menyerah membujuk Viana. Viana menghembuskan nafasnya pelan. Benar juga apa yang dikata Ira. Apalagi temen-temen Sam baru aja berangkat kemarin. Gak mungkin mereka balik lagi ke Jakarta. Lebih baik Viana tidak mengabari mereka.


Viana mengambil bubur dan menyendokan sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya.


"nah itu baru temen gue" komen Ira. "habis ini elo pulang dulu gih. Mandi yang bersih. Sumpah muka elo udah gak karuan.. penampilan elo kaya wewegombel" celoteh Ira berusaha menghibur Viana.


Viana menatap Ira tajam sambil menghentikan aktivitas mengunyahnya. Ira sudah siap siaga takut mendapat serangan mendadak dari Viana.


"kaca mana?" tanya Viana memastikan bahwa apa yang dikatakan Ira tidak benar. Ira kemudian memberikan kaca ke Viana.


"jangan sampe Sam sadar ngliat penampilan elo kayak gini. Bisa-bisa dia koma lebih lama" ledek Ira dan Viana menepak paha Ira.


"Lo jangan kemana-mana. Gue mau balik dulu" Viana melangkah pergi "awas kalo macem-macem sama pangeran gue" kata Viana yang balik badan kemudian pergi.