Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
Keputusan Aldo



Mendengar perkataan mamahnya, Aldo terdiam sejenak dan berfikir. Hatinya sedikit luluh dengan perkataan mamahnya. Ya, karena Aldo memang tidak bisa melanggar ucapan mamahnya. Apapun yang mamahnya minta, sebisa mungkin ia pasti akan memenuhinya.


Pikiran Aldo kembali melayang ke kejadian tadi sore. Hatinya masih cemburu dengan sikap Sam yang selalu bisa membuat Viana tertawa. Sedangkan ia hanya bisa membuat Viana kes dan marah.


Ia sadar, mungkin Viana jauh lebih membutuhkan Sam di banding dirinya. Meski dengan hati yang tidak ikhlas, mungkin cara yang tepat membahagiakan Viana adalah dengan kepergiannya karena ia tidak ingin menjadi orang ketiga diantara Viana dan Sam. Aldo hanya ingin Viana bahagia.


"baiklah, Aldo setuju" kata Aldo tertunduk lemas.


"kamu serius do?" tanya papah bayu meyakinkan


"iya pah" kata Aldo. Papah bayu langsung memeluk anak kebanggaannya sekaligus anak sematawayangnya.


"terimakasih nak" kata papah Bayu senang


"papah gak perlu berterimakasih. Ini udah kewajiban Aldo sebagai anak" kata Aldo bijak


Mamah Nita senang melihat Aldo yang akhirnya luluh. Ia merasa lega mendengar keputusan Aldo.


"kamu berangkat besok pagi. Papah udah pesen tiket dan udah nyusuh pak Amir menyiapkan segala sesuatunya" kata papah Bayu. Pak Amir adalah asisten pribadi Bayu.


"tapi pah Aldo belum bilang ke perusahaan kalo Aldo mau resign"


"itu biar pak Amir yang ngatur"


"kamu makan dulu sayang terus siap-siap buat berangkat besok pagi. Apa perlu mamah bantu?" tawar mamah Nita


"gak usah mah Aldo bisa nyiapin sendiri ko" Kata Aldo dengan senyum hambar.


###


Di rumah sakit


"pak Aldo ko jam segini belum dateng juga ya?" kata Ira


"ngapain juga kamu perhatian banget sama dia" kata Viana ketus


"lo gak boleh gitu dengan niat baik seseorang" kata Ira mengingatkan. Viana diam saja mendengar perkataan Ira.


"lo gak tau kan seberapa khawatirnya dia pas tadi pagi gue kasih tau lo masuk rumah sakit?" tanya Ira


"bukan khawatir lagi malah khawatir banget" kata Ira berlebihan.


"tapi buktinya dia gak kesini tuh!"


"iya juga ya. Ya udah gue telfon deh"


"eh ngapain? gak usah!"


"kenapa sih?"


"gak usah. nanti dikiranya gue yang minta dijenguk"


"terserah elo deh. Gue mau beli minum dulu ya? kamu mau titip apa Sam?" tanya Ira pada Sam yang masih enggan pulang


"sama kaya kamu aja" kata Sam


"ok" Ira mengambil dompetnya dan segera keluar. Namun langkahnya terhenti saat melihat ada bunga, buah-buahan, makanan dan minuman yang jumlahnya lumayan banyak tergeletak di depan pintu. Ira langsung mengambilnya dan kembali ke ruangan Viana.


"lah kenapa lo balik lagi? itu lo nyuri dimana?" tanya Viana


"sembarangan lo kalo ngomong! gue nemu ini di depan pintu" kata Ira sambil meletakan di meja


"dari siapa?"


"gak tau. gak ada namanya di sini" kata Ira sambil menyibak-nyibak bunga berharap ia menemukan nama pengirimnya.


"mungkin fans gelap gue" kata Viana percaya diri


"jangan-jangan...." mata Ira terbelalak "pak Aldo!" tebak Ira. "iya Vi ini dari pak Aldo. Berarti dia udah kesini donk." Sambung Ira lagi.


"tapi kenapa dia gak masuk?" tanya Viana


"entahlah" Ira belum bisa memastikan kenapa Aldo tidak masuk saja ke ruangan.


"aku coba cari. Barangkali masih ada di sekitar sini" kata Sam dan berlalu pergi mencari Aldo.


Sam mengelilingi setiap sudut rumah sakit, namun ia tidak menemukan sosok Aldo. Lalu ia tanya ke resepsionis apakah sebelumnya ada pria yang bertanya tentang kamar xxxx atas nama Viana. Resepsionis membenarkan kalo sore tadi memang ada seorang pria yang mencari ruangan atas nama Viana.