
"hallo" Sam menempelkan benda pipih ke telinganya untuk mendengar suara gadis kecilnya di lain Negara.
"hallo daddy" suara mungil itu sangat antusias berbicara dengan ayahnya.
"my little bunny... do you miss your daddy?"
"i miss you so much daddy" jawab gadis kecilnya dengan suara yang sangat imut.
"daddy juga kangen lucy. Mana lucy?" Berbeda dengan Louisa yang banyak sekali omong, lucy kakaknya begitu pendiam.
"this is Lucy dad" suara telfon itu membunyikan suara gadis kecil lainnya.
"how are you bunnies?"
"we are fine. When will you come back daddy?"
Deg...
Mendengar pertanyaan Lucy membuat jantung Sam berdesir. Bagaimana ia harus menjelaskan pada putri-putrinya bahwa ia sudah berpisah dengan ibu mereka dan bagaimana reaksi mereka jika tau Sam sudah menikah dengan wanita lain.
"dady masih banyak kerjaan disini sayang" satu kebohongan akan menciptakan kebohongan lainnya. Tapi Sam bisa apa? anak-anaknya masih kecil dan mereka tidak akan mengerti dengan keadaan orang dewasa.
"you don't miss mom daddy?" sekarang pertanyaan dari Louisa membuat nafasnya tercekat. Sam melihat ke arah Viana yang duduk di sampingnya. Apa yang harus ia jawab? Melihat tatapan Viana saja Sam sudah bergidik ngeri. Bagaimana jika ia salah jawab, bisa-bisa perang dunia ketiga akan dimulai.
Sam menarik nafas dalam "ingat, jangan terlalu banyak makan manis-manis nanti gigi kalian rusak" lebih baik Sam mengalihkan pembicaraan daripada harus terkena amukan gadis kecil dan gadis besarnya.
"kemarin Louisa demam terus dia manggil-manggil daddy" Lucy memberi laporan pada ayahnya.
"daddy... tunggu Louisa disana ya.. bye daddy" ucap malaikat kecilnya sebelum menutup panggilan. Entah perkataan serius atau tidak tapi Sam tidak terlalu menghiraukannya.
Sedetik kemudian Sam tersenyum ke arah Viana. Entah apa maksud dari senyumannya yang jelas Viana tidak ingin mengekang Sam untuk berbicara bahkan bertemu anaknya.
-----
Besok lusa, Sam memiliki jadwal untuk pergi ke luar kota yang artinya ia harus meninggalkan Viana. Sudah puluhan kali Viana meminta ikut dengan Sam tapi Sam melarangnya karena Viana belum bisa pergi jauh karena kehamilannya.
Rencana kepergian Sam tentu saja membuat Ira pusing. Bagaimana tidak pusing, semakin bertambah usia kehamilan Viana semakin aneh-aneh pula Viana mengidam. Contohnya kemarin malam, pukul 2 dini hari Viana ngidam es cendol. Mana ada tengah malam ada orang jualan es cendol? Sam dan Ira sampai kuwalahan, pusing, kesal, dan lain-lain karena permintaan Viana.
Ada Sam saja Ira masih bisa dibikin pusing oleh Viana. Bagaimana kalau tidak ada Sam? jika ini acara uji nyali, Ira lebih memilih melambaikan tangan karena tidak kuat. Sumpah demi apapun Ira ingin menyerah jika Viana bukan sahabatnya.
"pokoknya aku mau ikut!!" kekeuh Viana penuh penekanan dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sam menghembuskan nafasnya kasar. Semenjak Viana hamil, Sam benar-benar mengaktifkan mode sabarnya secara extra.
"kasian si kembar nanti. Kalo terjadi apa-apa gimana?" bujuk Sam mengelus kepala Viana.
Kelemahan Viana adalah si kembar yang sedang di kandungnya. Jika sudah menyangkut nasib anaknya maka Viana tidak bisa berkutik. Mau tak mau ia harus menurut demi keselamatan calon anaknya.
"yaudah. Tapi janji ya kamu beliin aku oleh-oleh" Viana menautkan jari kelingkingnya ke kelingking Sam.
"janji" jawab Sam mantap.
"tapi aku pengen oleh-olehnya benda yang bling-bling dan limited edition" Pemintaan Viana sukses membuat Sam berfikir keras. Ada-ada saja permintaan istrinya ini. Tapi baiklah, daripada Viana ngambek, lebih baik Sam mengiyakan.
"oke" ucap Sam.