
Viana yang tengah panik beberapa kali menghubungi suaminya yang belum kunjung pulang. Pasalnya, Kesya tiba-tiba demam dengan suhu tubuh yang panas. Viana sebagai ibu merasa sangat khawatir dengan keadaan putrinya. Meskipun bukan pertama kali bagi Kesya mengalami demam, tapi sebagai orang tua, Viana tetap mencemaskan keadaan anaknya.
"Ma, belum ada jawaban" ucap Lucy menggelengkan kepalanya. Terlihat jelas ia juga mencemaskan keadaan adiknya.
Viana menghela napas panjang. Tangan halusnya mengelus pipi Kesya berkali-kali sambil menitikkan airmata.
"Telfon taksi Lu" Pinta Viana dengan nada lemah dan Lucy mengangguk.
Puluhan do'a tak henti-hentinya Viana panjatkan dalam hati ketika melihat temperatur tubuh Kesya naik menjadi 38 derajat celcius.
Tanpa menunggu perintah dari Viana, Lucy yang sudah beranjak remaja mengemasi barang-barang dan pakaian milik Kesya ke dalam tas untuk dibawa ke rumah sakit. Selang lima menit kemudian klakson dari sebuah mobil berbunyi di pekarangan rumah mereka yang Viana yakini itu adalah taksi.
"Kamu disini jaga Kean dan Louisa ya? Jangan lupa kabari tante Li dan om Al juga" Pesan Viana.
"Iya ma" Jawab Lucy tanpa bantahan.
----
Sam yang terjebak macet berkali-kali mengumpat. Ponselnya yang lowbat membuat ia tak bisa menghubungi istrinya. Entah kenapa perasaannya tidak tenang dan ingin segera sampai di rumah.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh petang dan Sam baru terbebas dari kemacetan ibu kota. Mengendarai mobil seorang diri membuat Sam melaju dengan kecepatan maksimal di jalanan yang mulai lenggang kendaraan hingga tiba-tiba seorang wanita menyeberang jalan tanpa memperhatikan kanan-kiri membuat Sam harus mengerem mendadak.
Ciiiiitttttttt
"Shit!!" Umpat Sam memukul kemudi dengan napas menderu.
Tok...tok...tok...
Kaca mobil Sam diketuk oleh wanita yang hampir ditabraknya. Perlahan, Sam membuka kaca mobilnya dan tatapannya beralih pada wanita yang sedang melihat ke arahnya dengan muka memelas.
"Pak... tolong saya, anak saya sakit dan harus dibawa ke rumah sakit tapi saya gak ada uang buat bayar taksi" Pinta wanita itu yang menunjuk ke arah trotoar. Disana, ada seorang anak kecil yang sedang terbaring meringkuk. Melihatnya, Sam jadi teringat akan anaknya.
Karena tak tega, Sam akhirnya menyetujui permintaan wanita itu. Dengan segera, Sam menghampiri anak yang sedang terbaring lalu menggendongnya untuk dibawa ke dalam mobil.
"Makasih banyak pak" Ucap wanita itu sambil menyeka airmatanya karena senang ada yang perduli dengan keadaannya.
"Kenapa nyebrang gak liat-liat?" Tanya Sam to the point.
"Maafin saya pak, tadinya saya lagi nyari taksi tapi tidak ada satupun taksi yang mau saya tumpangi. Saya panik... hiks" Ucapannya terputus karena isakan tangisnya.
"Emang anak ibu sakit apa?" tanya Sam penasaran.
"Kemarin anak saya dipukul ayahnya karena minta dibelikan mainan baru" Jawabnya dengan suara parau.
Mendengarnya, hati Sam jadi miris. Berbeda dengan dirinya yang selalu menuruti apapun keinginan anak kembarnya. Bahkan sekalipun Sam tidak pernah main tangan pada anaknya. Tapi setelah mendengar cerita wanita tersebut, Sam sebagai seorang ayah ikut marah melihat anak sekecil itu harus mendapat perlakuan kasar dari sosok ayah yang seharusnya melindungi.
"Hanya karena mainan anak sekecil itu dipukul?" Tanya Sam lagi dan wanita itu mengangguk.
Selang beberapa menit, mereka sampai di sebuah rumah sakit. Sam mengantarkan keduanya masuk ke IGD dan memastikan anak kecil itu mendapat perawatan yang layak. Tidak sampai disitu, Sam juga membayar semua administrasinya.
"Makasih banyak pak... Makasih" Kata wanita itu membungkukkan badannya.
"Saya permisi dulu bu. Semoga lekas sembuh" Setelah berpamitan Sam beranjak pergi untuk pulang ke rumahnya. Namun langkahnya terhenti saat dua orang suster dan seorang yang Sam yakini adalah dokter berlari ke sebuah ruangan.
Sam mengamati dari tempat ia berdiri sebelum akhirnya, matanya melebar saat ia mendapati sosok yang sangat ia kenal keluar dari ruangan tersebut sambil menangis.
"Viana?" gumam Sam pada dirinya sendiri. Ia lalu mendekati Viana dengan langkah lebar dan merengkuh tubuh istrinya tanpa bertanya meski banyak pertanyaan hinggap di kepalanya.
"Sam?" Membuka kedua bibirnya, Viana menatap manik indah Sam walau pandangannya buyar tertutup airmata.
Sam tidak menjawab. Ia mengelus punggung Viana, berusaha menenangkan istrinya. Sam tahu, pasti sesuatu yang tidak baik sedang terjadi tapi ia bersikap tabah seperti tidak terjadi apa-apa untuk menguatkan hati istrinya.