Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
Rumah Baru



"ayolah ra masa lo gak nau sih tinggal sama gue" Viana membujuk Ira


"bukan gue gak mau Vi tapi itu kan rumah elo" tolak Ira halus


"elo kan sahabat gue dan gue udah gak punya siapa-siapa selain elo"


"gue gak mau ngrepotin elo"


"apanya yang ngrepotin sih? elo tuh tega ya" ujar Viana mengeluarkan jurus ngambeknya.


"bukan...bukan gitu. Gue ngaca diri Vi. Rumah dan mobil kan hasil jerih payah elo trus masa gue enak-enak numpang"


"lebih tepatnya itu warisan dari Sam" jawab Viana mengingatkan


"iya apapun itu gue gak enak aja"


"ya udah gini aja. Biar sama-sama enak gue titipin akun warisan Sam ke elo. Jadi lo bantu gue dan gue bantu elo" usul Viana karena Ira bersikap keras kepala tidak ingin tinggal dengannya di rumah baru yang ia beli. Padahal Viana sangat berharap Ira dengan sukarela tinggal bersamanya. Jadi selain menghemat pengeluaran Ira tiap bulan karena tidak usah membayar kosan, Viana juga tidak kesepian tinggal sendirian dirumahnya.


"ya udah deh" jawab Ira akhirnya menyetujui.


"dari tadi kek bilang iya biar gue gak usah buang-buang tenaga buat debat sama elo" protes Viana dan Ira hanya terkekeh.


"tapi kalo akunnya diolah sama gue nanti elo gak dapet fee lagi donk" kata Ira.


"ya gak apa-apa. Gue juga emang udah niat buat keluar dari perusahaan dan mau fokus ke bisnis-bisnis gue ra. Setidaknya gue masih punya penghasilan dari akun itu tiap bulannya hahaha" jawab Viana yang penyakit matrenya kambuh.


"tapi gue salut sama elo. Beberapa bulan aja lo udah bisa beli rumah dan kawan-kawannya" puji Ira sembari tepuk tangan.


"dewi fortuna lagi berpihak ke gue" jawab Viana tersenyum "dan satu lagi. Elo gak boleh bilang ke Aldo atau siapapun kalo gue beli rumah dan mobil" pinta Viana.


"kenapa? dia kan calon suami elo"


"iya gue tau. Pokoknya gue mau terlihat seperti gadis sederhana aja di depan mereka"


"makasih ya" lanjut Ira memeluk Viana


"makasih juga karena elo ada disisi gue dalam keadaan susah ataupun senang. Gue gak punya siapa-siapa lagi selain elo" Viana balas memeluk Ira. Kedua sahabat ini saling berpelukan menahan haru.


"yaudah sekarang siap-siap bentar lagi mang Asep jemput kita" Viana melepaskan pelukannya dan berkemas untuk segera pindah ke rumah barunya.


"makasih Sam. Semoga kita bisa bertemu lagi dikesempatan kedua" gunam Viana dalam hati lalu menyunggingkan bibirnya.


*****


"gila...gila...gila..." gumam Ira melihat sekeliling


"siapa yang gila non?" tanya mang Asep yang berjalan dibelakang Viana dan Ira sambil menenteng koper mereka. Mang Asep adalah sopir pribadi Viana.


"Viana" jawab Ira


"kok gue?" sontak Viana kaget


"iya elo gila Vi, gue gak nyangka rumah elo sebagus ini"


"semoga elo ketularan gilanya kaya gue"


"what??? kalo gila beneran gue gak mau" jawab Ira. Viana dan mang Asep terkekeh.


"Elo pilih kamar sesuka elo kecuali kamar ini dan itu" tunjuk Viana pada satu kamar yang terletak di lantai satu dan dua. "itu kamar khusus gue" lanjutnya lagi.


"dibawah ada dua kamar dan diatas ada tiga. Jadi pilihan elo cuma tiga kamar karena dua kamar udah jadi hak paten gue" sambungnya lagi lalu melenggang ke lantai dua diikuti mang Asep.


"oke nyonya muda" jawab Ira kemudian membuka setiap kamar untuk memilih kamar mana yang paling cocok untuk ia tempati.


##author bakal up lagi nanti sore jadi mohon bersabar menanti karena lagi banyak kerjaan. Maaf kalo ada typo##