
Dua minggu kemudian, hubungan mereka berempat semakin akrab. Viana sudah bisa menerima kepergian Sam untuk selamanya meskipun tak dipungkiri ia belum bisa melupakan Sam sepenuhnya dan masih sering teringat dengan Sam saat ia melihat gedung ataupun mall yang pernah dikunjungi mereka berdua.
Flashback
Viana mengunjungi salah satu residen dimana Sam tinggal di daerah Jakarta Selatan. Hari ini adalah hari perpisahan mereka. Terakhir kalinya mereka akan bertemu dan memutuskan segala hubungan karena Sam sudah berkeluarga. Viana berkunjung hanya ingin mengucapkan selamat tinggal dan Sam juga bilang bahwa ia ingin memberikan sesuatu untuk Viana.
Tok...tok...tok...
Viana mengetuk pintu kamar Sam. Tak lama Sam membuka pintu dan menyuruhnya masuk. Viana tak melihat koper ataupun tas besar di kamar Sam. Sam mengambilkan susu tawar, roti, dan selai untuk sarapan mereka di kulkas yang sudah disediakan oleh pihak residen.
"kamu belum siap-siap?" tanya Viana sambil menuangkan susu ke dalam cangkir untuknya dan Sam.
"setelah sarapan" jawabnya sembari tersenyum namun Viana masih bisa melihat ada kesedihan di wajah Sam. Viana juga berusaha menahan airmatanya agar tidak jatuh mengingat ini adalah pertemuan terakhir mereka.
"ini buat kamu" Sam menyodorkan kotak yang ia ambil dari lemarinya. Viana menerimanya
"ini apa?"
"buka aja"
Viana pun membukanya. Matanya terbelalak dengan hadiah yang Sam berikan padanya. 1 set perhiasan lengkap terbuat dari emas dengan hiasan berlian. Ada sebuah kalung, sepasang anting, gelang, dan dua cincin. Viana heran kenapa harus ada dua cincin.
"kenapa ada dua?" tanya Viana sambil mengambil cincin-cincin itu. Sam tersenyum dan tak langsung menjawab. Ia memakaikan satu cincin di jari manis Viana dan satu lagi yang ukurannya lebih besar ia pakai di jari manisnya sendiri.
"jangan salah paham dulu. Ini cuma buat kenang-kenangan aja" ucap Sam sembari mengunyah roti. Viana tak mampu menolak. Lagipula ia suka sekali dengan perhiasan. Jiwa matrenya muncul. Ia tak mempermasalahkannya.
"ok.. let's prepare" ajak Viana sambil menyimpan kotak perhiasannya.
Sam mengambil koper dari dalam lemari. Ia juga mengeluarkan semua pakaiannya dan menaruhnya di ranjang untuk kemudian ia masukan ke dalam koper. Sam juga mengeluarkan kresek-kresek besar berisi oleh-oleh untuk keluarganya.
"for your wife?"
Sam tidak memjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak membeli apapun untuk istrinya. Viana juga melihat tidak ada pakaian wanita atau apapun yang Sam beli di ranjangnya.
"why?" Viana makin penasaran
"because i don't love her" jawab Sam tanpa ekspresi.
Viana menganggukkan kepala. Entah kenapa hatinya sedikit lega tapi ia juga merasa kasihan dengan rumah tangga Sam. Viana melihat Sam memasukan pakaiannya tanpa dilipat ke dalam koper. Jiwa seorang istrinya tergerak. Viana mengambil alih. Ia mengeluarkan pakaian yang sudah Sam masukan untuk ia lipat dengan rapi dan dimasukkan kembali ke dalam koper. Sam tersenyum melihat sikap Viana.
"thank you" ucap Sam yang melihat pakaiannya di letakan secara rapi oleh Viana.
Jadwal keberangkatan Sam ke bandara soeta pukul 9 malam dan sekarang menunjukan pukul setengah 12. Sam masih memiliki waktu yang panjang untuk beristirahat. Setelah seluruh pakaian dan makanan dimasukan ke dalam koper, Sam berbaring di ranjang. Ia ingin beristirahat.
"come!" pinta Sam sambil menepuk ranjang disisinya. Viana yang takut Sam berbuat macam-macam menggelengkan kepalanya.
"aku gak akan macem-macem" ucap Sam memastikan. Akhirnya Viana menaiki ranjang. Sam merentangkan tangan kirinya lalu Viana tidur dengan bantalan lengan Sam. Sejenak, Viana melupakan kenyataan Sam telah berkeluarga.
Kini Viana menghadap ke dada Sam. Ia merasa nyaman tidur di lengan seorang laki-laki. Matanya enggan terpejam bahkan kini bulir-bulir air keluar dari matanya. Viana sadar ia masih mencintai Sam dan dari lubuk hatinya ia enggan berpisah. Hatinya masih berat melepas kepergian Sam untuk selamanya.
Viana meraba wajah Sam. Ia susuri tiap jengkal wajah lelaki yang ia cintai namun takan pernah bisa ia miliki. Hidungnya, bibirnya, matanya, alisnya dan seluruhnya, Viana berusaha mengingat bagaimana bentuknya. Sam yang masih terpejam dan belum sepenuhnya tidur dapat merasakan sentuhan Viana. Sam merubah posisinya memeluk tubuh ramping Viana.
Viana yang masih memperhatikan wajah Sam dengan seksama menyadari bahwa ada tetesan airmata yang keluar dari mata Sam yang masih terpejam. Viana menghapusnya dengan jari telunjuk. Beberapa kali airmata itu menetes keluar dari mata indah Sam tanpa ada isak tangis. Sam masih enggan membuka matanya. Viana yang menyadari Sam menangis ikut menangis juga. Bahkan airmatanya membanjiri lengan Sam.
Viana tak kuasa menahan sesak nafasnya. Ia segera bangun dan pergi ke westafel dekat toilet. Pantulan dirinya di cermin memperlihatkan sosok wanita yang sangat menyedihkan. Matanya terlihat lebam. Viana menangis terisak di toilet sambil memukul dadanya yang sesak.