
"dari Aldo?" tanya yang Ira yang menguping Viana sedari tadi.
"iya... dia ngajak gue buat hadiri pesta pernikahan temennya" "eh .. tunggu kata Aldo Jojo juga ngajak elo?"
"iya... gue lupa bilang" ucap Ira meringis karena tak enak "sorry" lanjutnya lagi.
"dan elo mau?"
"iya mau lah... kan gue emang suka sama Jojo jadi kemanapun dia bawa gue, gue akan ikut. Apalagi ke KUA" Ira tertawa sembari mengkhayal.
"huuuu... makanya kasih kode donk"
"nanti. Belum saatnya. By the way elo juga ikut kan?"
"kalo ada elo gue ikut ko"
"kenapa mesti ada gue?"
"ya biar gue gak guguplah pas hadiri acara sakral tersebut."
"elo kira lo yang mau nikah?"
"ya gak sih" ucap Viana terkekeh dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
*****
"undangan dari siapa?" monolog Meli yang mengambil undangan pemberian kakaknya. "oh... dokter Gibran rupanya" batinnya.
Dokter Gibran adalah dokter pribadi keluarga Meli dan Aldo. Gibran yang seumuran dengan Rendi dan Aldo menjadi teman akrab mereka berdua disamping statusnya sebagai dokter pribadi mereka. Meli berinisiatif untuk menelpon Aldo mengajak kondangan bersama. Ia meraih ponselnya yang ada di sofa kamar dan mencari kontak Aldo.
tuuuuut.....tuuuuut.....tuuuuut
"halo" saut Aldo diseberang sana.
"kamu lagi dimana?" tanya Meli penasaran karena suara bising
"gue lagi di jalan"
"*oh... Aldo gue dapet undangan dari dokter Gibran, elo juga pasti dapet kan? gimana kalo kita kondangan bareng?"
"oke... ketemu disana jam 8 petang aja"
"ko ketemu disana sih? gue kan pengennya berangkat bareng dari rumah"
"mau bareng atau gak?"
"yaudah deh iya*..." jawab Meli mengalah lalu mematikan panggilannya.
"tck... ngapain juga gue ajak dia kalo ujung-ujungnya ketemu disana. Kenapa sih Aldo gak pernah bilang iya sekalipun?" gumam Meli pada dirinya sendiri dan menghentakkan kakinya kesal.
****
"Jo sekarang lo temenin gue ke toko berlian" pinta Aldo sembari memakai jasnya.
"mau ngapain lo?"
"ya beli cincinlah"
"ah.. gue tau. Elo mau nglamar Meli kan?"
"hah? Meli? kuping gue kayaknya udah gak normal"
"Viana?"
"yup... siapa lagi"
"yakin elo bakal ditrima?"
"kalo gak dicoba mana gue tau ditrima atau gaknya"
"bentar... jangan bilang elo mau nglamar dia di acara nikahan Gibran?"
"pinter!" ucap Aldo sambil menepuk bahu Jojo
"gila lo men! lo udah siap nanggung malu?"
"aish.... jangan berdo'anya gitu sotoy!"
"hehe gue cuma ngingetin elo aja. Kan selama ini kalian berdua kaya kucing sama tikus"
"justru perbedaan itu indah"
"halah... kalo ditolak juga elo bakal frustasi"
"oke...oke... gue akui emang gue sama dia jarang akur. Sekarang lo kasih saran gimana caranya supaya gue bisa dapetin dia"
Jojo tampak berfikir sejenak sambil menopang dagunya dengan telapak tangan kanannya.
"lo baik-baikin dia. Sering-sering kasih dia hadiah kesukaan dia"
"gitu doank?" jawab Aldo remeh
"ya gak lah... lo harus bersikap manis dan ngalah sama dia. Jangan lupa kasih perhatian karena cewek paling suka kalo diperhatiin"
"oke... gue bakal coba saran elo. kalo gak berhasil awas aja lo!"
"ko elo jadi ngencem gue? bukannya berterimakasih" sungut Jojo lalu menoyor kepala Aldo. Aldo hanya terkekeh dengan respon sahabatnya.