Betrayal Of Love

Betrayal Of Love
B2 Part 3



Hari demi hari kondisi Key semakin membaik. Key sudah ceria seperti biasanya meski badannya masih lemas sehingga dokter menyarankan batita cantik ini agar dirawat dua hari lagi dan Viana serta Sam menyetujuinya.


Key sudah bisa diajak main oleh Sam walau hanya sebatas mainan boneka. Semenjak di rumah sakit, Sam lebih menghabiskan banyak waktu menemani putri kecilnya sedangkan anak-anaknya yang lain, ia titipkan pada Aldo dan Liana.


"Dokter bilang obat Key harus ditebus" Ujar Viana menunjukkan resep obat pada Sam.


"Aku lagi mainan sama Key. Iyakan sayang?" Jawab Sam tanpa menoleh kearah Viana dan meminta dukungan anaknya agar ia tidak pergi. Key mengangguk polos disusul usapan lembut di kepalanya oleh Sam.


Viana memutar bola matanya malas sambil mendenguskan nafasnya " Key lagi key lagi. Dulu aja kamu perhatian banget sama aku, sampai gak mau jauh sedetik pun. Huh! dasar cowok. Dia pikir enak apa dianggurin mulu" Batin Viana sedikit cemburu karena Sam tidak punya waktu untuknya.


Ya, Sam lebih banyak menghabiskan waktu untuk anak bungsunya itu sampai-sampai ia tidak punya waktu meski hanya melirik istrinya seperti sekarang. Viana meninggalkan anak dan suaminya pergi ke apotek sambil membawa dompet Sam untuk membayar tagihan obat. Biarin aja uang Sam habis, pikirnya, yang penting uang Viana aman. Senyuman licik terukir dari bibir ranumnya.


Setelah menyerahkan resep dan membayar tagihan, Viana diminta untuk menunggu obat yang akan diracik oleh apoteker. Matanya mengedar mencari kursi kosong di ruang tunggu dan hanya tersisa satu kursi kosong. Segera Viana menuju ke kursi tersebut yang terletak di pojok belakang.


Saat akan duduk, seorang laki-laki yang duduk di sebelah kursi kosong itu menoleh ke arah Viana. Alangkah terkejutnya Viana saat melihat siapa laki-laki tersebut.


"Dayat" batin Viana. Dayat juga tidak kalah terkejutnya saat ia bertemu Viana sekarang. Dengan canggung, Viana duduk di samping Dayat. Jantungnya berdebar tak karuan dengan bibir yang masih terkatup enggan mengeluarkan suara seperti dulu-dulu saat mereka bertemu, tiada kata ataupun tutur kata. Yang ada hanya perasaan cinta yang sama.


Dayat adalah teman sekolah Viana di kampungnya. Lebih tepatnya mereka berdua musuh sedari kecil. Sering ejek-ejekan dan bertengkar, begitulah pola kedua bocah yang sedang duduk beriringan. Awalnya Dayat yang memantik kebencian di hati Viana hingga suatu hari, gadis itu menangis karena ejekan Dayat yang bilang ke teman-teman lainnya kalau di rambut Viana ada kutunya.


"Hahaha... rambut Viana ada kutunya" Ejek Dayat disusul tawa teman-teman yang lainnya.


Merasa malu sekaligus marah, Viana hanya bisa menangis terpojok. Ia tau Dayat hanya berbohong dan berniat hanya mempermalukannya di depan teman-teman karena selama ini, rambut Viana tidak ada kutu satupun.


Setelah kejadian itu, Viana mendiamkan Dayat selama berhari-hari. Tidak meladeni apapun ucapannya atau membalas ejekannya. Waktu terus berjalan dan Viana tetap bungkam pada Dayat tapi ia mau berbicara pada teman lainnya. Disitu Dayat merasa bersalah dan merasa sepi hari-harinya dengan kebungkaman Viana. Entah kenapa, hatinya juga merasa sakit karena didiamkan oleh Viana. Dayat sangat rindu balasan ejekan Viana.


Selesai jam pelajaran, Viana pulang sekolah bersama teman-temannya dan Dayat serta kedua temannya berjalan di belakang Viana. Ditengah jalan, Viana di hadang kakak kelas yang hendak memalak mereka. Namun karena uang jajan Viana dan teman-temannya habis, mereka tidak memberikan sepeserpun hingga membuat para preman amatiran itu marah dan hendak menjambak rambut Viana dan teman-temannya yang lain.


"Cepet pergi!" kata Dayat menyuruh Viana meninggalkan mereka. Viana menurut dengan apa yang Dayat katakan meskipun tak tega melihat Dayat terkena pukulan. Dari situlah perasan Viana dan Dayat mulai tumbuh. Setiap hari Viana selalu mendengar kabar burung kalau Dayat menyukainya. Meskipun tidak percaya, tapi Viana merasa senang karena hatinya pun sudah terpaut dengan nama itu, Dayat. Walaupun begitu, baik Dayat ataupun Viana tidak pernah bertegur sapa lagi.


Setelah kelulusan sekolah


"Yana" Begitulah panggilan khusus Dayat melihat Viana sedang membaca surat kelulusan mereka. Akhirnya, setelah dua bulan tanpa komunikasi Dayat memberanikan diri menegur Viana. Viana menoleh dan tersenyum tipis pada Dayat karena jujur, ia sangat gugup saat berada di hadapan lelaki ini. Terlebih, Viana juga senang karena Dayat memulai bertegur sapa padanya. Sebenarnya, senyuman yang ia berikan sekarang ini hanyalah tameng agar ia tidak terlihat gugup di mata Dayat.


"Maaf ya, kita gak bisa pacaran sekarang. Aku mau fokus belajar dulu" lanjut Dayat tanpa basa-basi lalu pergi meninggalkan Viana tanpa mau meminta atau menunggu jawaban dari Viana.


Tunggu, tadi dia bilang apa? gak bisa pacaran dulu? berarti ucapan temen-temen bener dong kalau Dayat naksir aku? aaaaa senengnya. Tapi kenapa dia pergi gitu aja? ah sudahlah! yang penting sekarang aku tau kalau perasaan aku terbalas. Viana


-----


Sampai saat ini, Dayat masihlah memiliki ruang khusus tersendiri di hati Viana. Ekor mata Viana bisa melihat kalau Dayat sekarang sedang memandanginya dari samping tapi Viana berlagak cuek dan pandangannya fokus ke depan enggan bersitatap dengan Dayat. Beberapa menit kemudian, Dayat berdiri dan tersenyum manis sebelum meninggalkan Viana tanpa sepatah katapun.


Viana bergeser ke tempat duduk Dayat dan matanya menangkap secarik kertas disana. Viana lalu mengalihkan pandangannya ke arah Dayat. Terlihat lelaki itu sedang tersenyum padanya sambil menganggukan kepala mengisyaratkan Viana untuk membaca tulisan di kertas tersebut.


"Aku senang bisa bertemu lagi denganmu sekarang. Perasaanku masih tetap sama seperti beberapa tahun yang lalu. I always love you".


Kedua tangan Viana gemetar selesai membaca surat tersebut. Nafasnya seperti tercekat dan detak jantungnya tidak karuan. Entah ia harus sedih atau bahagia tapi sejujurnya, dari hati yang terdalam Viana sangat merindukan Dayat. Seandainya saja ia tidak mengenal Sam saat ini, ingin sekali Viana kembali pada Dayat, berhambur ke pelukannya untuk melepaskan rindu yang berjumlah beribu-ribu.


Sekali lagi ia memberanikan diri melihat ke arah Dayat yang ternyata masih berdiri sambil memandanginya dengan senyum yang tak pernah pudar, tanpa sadar buliran bening di pelupuk mata Viana melesak keluar.


" Dayat" Lirihnya.


🌱Ig: vivafifah96🌱