
"Ira" panggil Viana yang kesusahan membuka pintu kamar kosnya.
"eh buset... lo ngrampok dari mana lagi?" umpat Ira melihat Viana datang dengan menenteng banyak belanjaan ditangannya. Selang beberapa detik Aldo muncul dari belakang Viana.
"temen gue udah gila... kenapa gak sekalian sama toko-tokonya aja sih?" lanjut Ira lagi tak percaya dengan belanjaan yang Aldo bawa bahkan lebih banyak dari Viana.
Viana hanya tersenyum. Ia tak sabar membuka belanjaannya satu per satu sampai ia lupa mempersilahkan Aldo duduk.
"ekhm... tenggorokan gue ko kaya musim kemarau ya.. kering amat" ucap Aldo memberikan kode kalau ia kehausan.
"elo mah jangankan tenggorokan, hati aja kering" celetuk Ira disusul cekikikan Viana yang paham dengan kode Aldo.
Setelah memberi Aldo minum, Viana membuka kresek berisi banyak makanan. Di jalan, Viana juga mampir ke minimarket untuk membeli beberapa cemilan.
"gue beli makanan banyak. Elo belum makan kan Ra?" tanya Viana
"ini bagian yang gue suka" sahut Ira sambil mengelus-elus perutnya yang lapar melihat banyak makanan. "tenang Vi, meskipun gue udah makan tapi perut gue masih muat buat nampung makanan-makanan itu"
Aldo hanya hanya geleng-geleng kepala sambil memijit keningnya. Pasalnya, ia harus merogoh isi rekeningnya untuk membayar belanjaan-belanjaan Viana karena isi dompetnya tak cukup.
"dasar RB lo" umpat Viana
"RB? apa itu?" tanya Aldo tak mengerti
"RB singkatan dari Rai Badogan. Itu ucapan kasar dalam bahasa Jawa"
"artinya?" tanya Ira yang juga tak mengerti karena Ira berasal dari Sunda
"artinya muka makanan. Maksudnya kalo ada makanan pasti cepet. Ah.. udah ayo kita makan. cacing di perut gue udah meronta-ronta"
"gue siapin minum buat kita bertiga. Kalian tunggu aja di ruang tengah" ucap Ira. Viana dan Aldo bergegas ke ruang tengah yang terdapat meja makan dengan 4 kursi. Ira segera menyusul dengan membawa teko berisi air putih dan 3 gelas untuk mereka bertiga.
"ini buat gue sama elo dan ini buat Aldo" Viana membuka bungkus nasi goreng dan kerak telor.
"kenapa sama Ira? lo sama gue aja makan nasi gorengnya. Gue gak bakal abis" komen Aldo yang ingin makan sepiring berdua dengan Viana.
"iya Aldo bener. Gue makan sendirian aja. Perut gue laper banget" imbuh Ira menarik nasi goreng ke hadapannya dan melirik ke arah Aldo. Aldo membalas tatapan Ira dengan senyum penuh kemenangan karena mendapat dukungan.
"Alesan!" ucap Viana pasrah karena malas berdebat dalam keadaan perut kosong. Aldo dan Ira terkekeh.
"gimana kalo gue telfon Jojo buat gabung bareng kita. Mumpung masih ada kursi kosong" ajak Aldo
"sekalian suruh bawa pizza" ucapa Viana santai
"apa?!" pekik Aldo sambil menepuk jidat
"kenapa? gak mampu bayar?" komen Viana
"kata siapa? pesen 5!" tantang Aldo
"kalian berdua emang udah gila" umpat Ira melihat tingkah Aldo dan Viana.
Selang 40 menit Jojo sampai di kosan membawa pizza dengan berbagai varian. Viana yang baru saja selesai makan kerak telor menyambut pizza-pizza itu dengan riang.
"udah makan?" tanya Ira pada Jojo yang duduk disampingnya sambil menuangkan es tawar untuknya.
"udah... wah kalian kenapa gak ngajak gue dari tadi?"
"elonya aja yang datengnya kelamaan" kata Viana yang mulutnya penuh dengan pizza
"ini semua gara-gara pizza yang Aldo pesen ke gue" Jojo mendengus kesal. Spontan Ira dan Aldo langsung menunjuk ke arah Viana. Viana yang sedang asik dengan pizzanya memasang tampang blo'on.
"uhuk....uhuk...." Viana tersedak. Aldo dengan sigap langsung memberinya minum.
"hah..." Viana bernapas lega lalu tersenyum ke arah Jojo. "maaf" ucapnya merasa bersalah.
"gue cuma pengen ngabisin uang dia aja" lanjutnya sambil melirik ke arah Aldo.
"ko bisa?" tanya Ira
"biasalah... cewe kalo lagi cemburu harus diajak shopping biar gak ngambek lagi"
"siapa juga yang cemburu!" seru Viana terlihat kesal dan tak mau mengakui kalo ia memang cemburu.
"udah...udah... masalah rumah tangga kalian selesaikan berdua. Jangan di depan gue sama Ira" nasehat Jojo tak ingin memantik perdebatan antara Viana dan Aldo.
"rumah tangga lo bilang!"
"aauuuuw" erang Jojo kesakitan karena dicubit Viana.
Ira dan Aldo tertawa geli melihat sikap Viana yang kekanakan. Meski demikian, mereka tetap melanjutkan acara makan-makan berempat hingga larut. Malam ini benar-benar menjadi malam yang berkesan bagi mereka dengan menghabiskan waktu bersama. Bahkan Viana sampai lupa kesedihannya ditinggal pergi Sam kembali ke Negaranya